Saya mau menanyakan berkaitan dengan atmospheric discharge flammable gas yang diatur di API STD 521 section 6.3.2 Formation of flammable mixtures.

Tanya – Kholid Zam Zam

Rekan Millister yang saya hormati,

Saya mau menanyakan berkaitan dengan atmospheric discharge flammable gas yang diatur di API STD 521 section 6.3.2 Formation of flammable mixtures.

Tertulis di section 6.3.2.2 sebagai berikut,

“At exit velocity from pressure relieve-valve stack, the jet momentum forces of release usually are dominant [70]. Under these condition, the air entrainment rate is very high, and the release gases are than dilute to below the lower flammable limit before the release passes out of the jet-dominated portion if the Reynolds number, Re, meets the criterion of equation (22):”

Re > 1,54.10e4 x rho(j) / rho(∞) ….. Eq (22)

Kalau saya menangkap dari kalimat di atas, berarti ketika Re mengikuti criteria persamaan 22, maka campuran gas keluaran dari vent stack dan udara tidak akan terbakar. Namun apabila Re <= 1,54.10e4 x rho(j) / rho(∞) maka campuran HC dan udara akan berada pada range flammable limit. Tentunya syarat2 yang harus diikutkan bersama dengan persamaan 22 harus terpenuhi dulu.

Hal ini berkaitan dengan desain CO2 snuffing. Ketika menggunakan maksimum flowrate Gas HC keluaran PSV yang akan di vent ke atmosfer yang akan digunakan sebagai basis untuk perhitungan maka kebutuhan CO2 snuffing menjadi sangat besar.

Namun jika menggunakan criteria bahwa jika Re mengikuti persamaan 22 adalah campuran HC dan udara tidak terbakar, maka saya tidak perlu menggunakan maximum keluaran PSV sebagai basis. Apakah saya boleh menggunakan basis flow Re <= 1,54.10e4 x rho(j) / rho(∞) untuk perhitungan CO2 snuffing saya (apabila syarat2 untuk persamaan 22 terpenuhi) dengan basias perhitungan Re adalah diameter existing tip?

Terima kasih atas bantuan dari Rekan-rekan semua.

Tanggapan 1 – Eddy Bachri

Dear pak Kholid,

Kalo boleh tahu untuk apa digunakan CO2 snuffing system ?
Apakah pak Kholid menggunakan cold venting sehingga dikuatirkan akan terjadi api di ventingnya karena tersambar petir misalnya.
Terimakasih,

Tanggapan 2 – Kholid Zam Zam

Pak Eddy,

Benar sekali Pak. ini digunakan untuk cold venting dengan kekhawatiran seperti yang disampaikan oleh Pak Eddy.

Tanggapan 3 – Alvin Alfiyansyah

Mas uu,

Kenapa tidak pakai kriteria dalam NFPA 12 sect 3.3.1 atau 3.3.3 ?
Penentuan capacity design factor, persentase CO2 MMSCFD per gas yang diventing serta snuffing time lebih jelas perhitungannya dibandingkan anda pakai Re-nya.

Semoga membantu.

Tanggapan 4 – Kholid Zam Zam

Terima kasih Mas Alvin atas tanggapannya.

Memang dalam menentukan capacity design, menggunakan perhitungan yang ada di NFPA 12.

Ketika dihitung dengan menggunakan rumus tersebut, jumlah CO2 yang dibutuhkan sangat besar dikarenakan venting dari HC juga besar. Dengan menggunakan criteria yang ada di API 521, akan terbatasi jumlah maximum HC yang di venting yang membutuhkan CO2 snuffing.

Potensial maksimum venting dari PSV yang popping, flowrate HC yang akan di venting sangat besar. Dengan venting yang besar akan menghasilkan Re yang besar, sehingga jika persamaan 22 di API 521 dapat di aplikasikan, tidak membutuhkan CO2 snuffing karena tidak ada potensi HC terbakar. Potensial PSV venting dengan flow yang sangat besar akan keluar dari kriteria bahwa flowrate tersebut membutuhkan snuffing (tereliminasi karena tidak ada potensi terbakar). Dengan begitu, kebutuhan snuffing akan terbatasi (hanya potensial PSV venting dengan kriteria yang ada di API 521 persamaan 22 saja yang membutuhkan).

Ketika sudah dibatasi oleh persamaan 22 di API 521, baru kemudian kebutuhan CO2 dihitung dengan menggunakan NFPA 12.

Mohon petunjuk dari Mas Alvin dan rekan yang lain.

Tanggapan 5 – Eddy Bachri

Rekan2 Yth.

Masalah ini cukup menarik karena menurut saya bukan hanya kebutuhan CO2 untuk snuffing saja, namun kapan digunakannya cold venting dan kapan digunakannya hot venting, karena udah pake hot venting yah… ngapa in lagi pake snuffing. Toh apinya terus menerus ada. Pengalaman saya dulu waktu jalan2 di ma Badak, pernah melihat hot venting (Flare) punya salah satu KKKS, dimana saat itu terjadi venting gas yang sangat besar sehingga api yang biasanya ngepul di tipnya flare ngak ada, yang ada hanyalah uap putih (karena proses kondensasi udara) dengan suara sangat tinggi. Api adanya dibagian ujung dari gas yang keluar tersebut. Artinya adalah pada saat gas keluar dengan volume besar (melebih persaman 22) maka tidak terjadi api, namun setelah melewati kecepatan tertentu dimana angka re sudah masuk region persamaan (22) maka api tersebut akan muncul. Kembali kemasalah pokoknya adalah api terjadi akibat adanya petir maka kita tidak mengetahui pasti dimana lokasi potential discharge energi dari petir tersebut, yang artinya dapat juga terjadi diujung dari discharge gas venting tersebut, sehingga tidak ada jaminan cold venting tersebut tidak terbakar. Oleh sebab itu barangkali hot venting sebagai alternatif, tentunya dengan kajian proses dan proteksi yang memadai.