Pada penghujung pekerjaan tahap konstruksi akan disambut oleh aktivitas testing, commissioning, dan star-up (selanjutnya kita sebut commissioning saja) . Tahap ini selalu ditandai dengan bermunculan wajah-wajah baru di kafe/canteen project saat makan siang dan mulai menghilangnya wajah-wajah lama karena “chalas” alias kontrak”mu” selesai rek !(balek kampong). Ini adalah tahap romantisme antara construction dan commissioning group, hanya terjadi rebutan tempat di kantin makan, atau rebutan kenderaan untuk ke lapangan (kalau onshore) sampai kepada ketidakjelasan “yang ini scope siapa ?”. Contoh paling klasik adalah scope melakukan component functional test . Bisa saja group construction sudah melakukannya karena sudah didefinisikan dalam ITP (inspection test plan), tapi biasanya sewaktu pasukan elite para commissioner sudah mendarat, bisa saja mereka mengatakan harus ditest lagi, karena nggak benar method, ini dan itu. Tentu rekan-rekan berpikir “itu saja kok report, ya test lagi wiis”, tetapi untuk hal simple seperti ini belum tentu mudah secara praktek, karena dalam struktur organsasi project aktivitas simple pun akan melibatkan multi organisasi yaitu main kontraktor, subkontraktor, sub-sub kontraktor, supplier alat tersebut. Belum lagi jika perwakilan suppliernya nggak selalu stand by di area project, jelas dong ngapain nongkrongin alat 24/7 ya balik dulu ke Singapore or Dubai or San Fransisco. Padahal untuk component functional test perwakilan supplier harus ada agar berlaku sertifikat garansi. Tentu test sederhana ini selanjutnya akan melibatkan Ms. Secretary untuk booking ticket, hotel for accommodation, transportation, dan mencocokan dgn jadwal terbaik dari semua pihak dst.dst.

Pembahasan – Dirman Artib

Pada penghujung pekerjaan tahap konstruksi akan disambut oleh aktivitas testing, commissioning, dan star-up (selanjutnya kita sebut commissioning saja) . Tahap ini selalu ditandai dengan bermunculan wajah-wajah baru di kafe/canteen project saat makan siang dan mulai menghilangnya wajah-wajah lama karena “chalas” alias kontrak”mu” selesai rek !(balek kampong). Ini adalah tahap romantisme antara construction dan commissioning group, hanya terjadi rebutan tempat di kantin makan, atau rebutan kenderaan untuk ke lapangan (kalau onshore) sampai kepada ketidakjelasan “yang ini scope siapa ?”. Contoh paling klasik adalah scope melakukan component functional test . Bisa saja group construction sudah melakukannya karena sudah didefinisikan dalam ITP (inspection test plan), tapi biasanya sewaktu pasukan elite para commissioner sudah mendarat, bisa saja mereka mengatakan harus ditest lagi, karena nggak benar method, ini dan itu. Tentu rekan-rekan berpikir “itu saja kok report, ya test lagi wiis”, tetapi untuk hal simple seperti ini belum tentu mudah secara praktek, karena dalam struktur organsasi project aktivitas simple pun akan melibatkan multi organisasi yaitu main kontraktor, subkontraktor, sub-sub kontraktor, supplier alat tersebut. Belum lagi jika perwakilan suppliernya nggak selalu stand by di area project, jelas dong ngapain nongkrongin alat 24/7 ya balik dulu ke Singapore or Dubai or San Fransisco. Padahal untuk component functional test perwakilan supplier harus ada agar berlaku sertifikat garansi. Tentu test sederhana ini selanjutnya akan melibatkan Ms. Secretary untuk booking ticket, hotel for accommodation, transportation, dan mencocokan dgn jadwal terbaik dari semua pihak dst.dst.

Selalu menjadi potensi masalah yang klasik, kapan saat yang tepat untuk mulai mendefinisikan metode terdokumentasi untuk me-manage aktivitas Testing, Commissioning dan Start Up. Tentu kita tahu bahwa para Mr. Commissioners ini tak banyak yang dipelihara permanent oleh majikan, umumnya mereka adalah para simpanan karena hanya dipekerjakan saat musim commissioning tiba, tentu saja masalah harga adalah alasan utama, karena umumnya harga para commissioner seperti toko hardware di Jakarta yaitu “Kawan Lama Paling Sejahtera”. Oleh karena itu, maka di dalam Project Execution Plan atau Project Quality Plan yang dibuat saat memulai project akan paling ampuh jika hanya menulis pada Section Commissioning nya “ a Documented Commissioning Plan will be developed to define specific processes and methods for organizing , controlling and managing commissioning activities, if necessary specific procedures shall be identified prepared, reviewed and approved prior to be used”. Detail nya ntar aja dipikirin yang jelas sekarang project harus di mulai, mobilisasi harus cepat dilakukan karena ini saatnya mengejar DP dari klien yang besarnya sekitar 9-12 %, biar kebagian THR dulu, gitu lho.

Lalu apa yang terjadi adalah mobilisasi group commissioning cenderung terlambat, karena di penghujung construction semua effort dikerahkan untuk berburu penyelesaian fase konstruksi,, termasuk Project Director dan PM sementara tak peduli dulu dgn tahap commissioning, karena ketertinggalan schedule pada fase ini sudah terakumulasi dan harus dikejar kalau tak mau kena penalty yang mengancam kerugian bahkan mungkin kebangkrutan. Akibatnya effort untuk perencanaan pengadaan tenaga commissioning tak maksimal, keterlambatan, kualitas hire rendah, dan berakibat pengembangan plan dan metode terdokumentasi serta prosedur-prosedur untuk aktivitas commissioning pun “kacau balau” (sorry nih meminjam istilah seorang ibu rumah tangga). Apalagi aktivitas commissioning harus melibatkan suppliers/vendors yang jaraknya saling berjauhan di muka planet ini. Coba saja cek tagihan telepon yang dipakai sekretaris/admin yang bertugas mengatur jadwal terbang para perwakilan suppliers, booking hotel, teleconference, sewa mobil dll. hampir pasti membengkak sekitar 300-an %. Lalu yang hampir pasti juga adalah saat antara construction dan commissioning masih overlapping, semuanya cenderung terbatas dan rebutan bahkan space/office untuk bekerja pun kurang. Mr. Commissioners sudah pada datang, serdadu construction masih nguber keterlambatan.

Tak banyak organisasi yang memasukkan item ini dalam tahap rencana project ataupun meng-highlighted saat diskusi dalam meninjau Project Risk and Strategy.

Tanggapan 1 – gusti04

Terima kasih Pak Dirman atas cerita ringan pasa commissioning. Hal ini mengingatkan saya waktu masih di EPC Company.
Biasanya diantara phasa construction dan commissioning akan terjadi perang dingin antara Construction Manager dan Commissioning Manager. Pada saat sudah dimulainya gong commissioning, biasanya Construction Manager akan menjadi bulan-bulanan Commissioning Manager dan Client. Tapi ini bisa diredup apabila sebagian team construction juga menjadi team commissioning.

Saya pernah mengerjakan project dimana di satu project, contract dengan clientnya termasuk phase commissioning, alias kontraktor EPC juga menjadi commissioner dari project tersebut. Biasanya jika begini, suasana panas masih bisa diredakan, karena satu payung perusahaan.

Namun saya juga pernah mengerjakan project dimana dalam contractnya, commissioning diluar scope kontraktor EPC alias langsung dihandle full oleh client, entah menggunakan karyawannya sendiri atau ngambil pasukan bebas di pasaran. Nah yang begini nih keadaan sering runyam, terjadilah apa yang diceritakan Pak Dirman tadi. Terjadi ‘peperangan’ terbuka.

Walaupun begitu, semuanya ada plus minusnya..

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan yang tergabung dalam Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: