Raw material dari China bisa dibilang sangat murah harganya, secara kualitas sesuai juga dengan harganya, ada harga ada barang. Sering kita temukan setelah process machining mencanical properties barang dari China turun di bawah specs yang diminta. Namun tidak semua barang dari China seperti itu kondisinya, oleh karena itu kadang kita akan minta beberapa process pengujian NDT untuk raw material yang datang dari China yang dilakukan oleh subcont yang independent (bukan dari China).

Tanya – Emil M

Dear Milist Migas,

Saya ada problem dengan pompa product china, pompa tersebut pecah setelah dipakai 3 hari. apakah ada rekan milsit yg mengetahui komposisi kimia dari beberapa standar china berikut ini,

1. HT250Ni2Cr

2. ZG0Cr17Ni12Mo2

3. ZG00Cr22Ni5Mo3N

Terima kasih atas sharingnya sebelumnya, terima kasih.

Tanggapan 1 – rio.hendiga@akersolutions

Khusus untuk material AISI 410, Martensitic stainlees steel untuk beberapa customer kita pakai raw material dari europe. Karena beberapa customer tidak confident dg Chinese product. Jadi, coba check dulu kontract order pompa tsb, apakah allow to use chinese product or not.

Memang untuk raw material dari chinese yang bisa dibilang sangat murah harganya, secara kualitas sesuai juga dg harganya, ada harga ada barang. Sering kita temukan setelah process machining mechanical properties barang dari china turun di bawah specs yang diminta. Namun tidak semua barang dari china seperti itu kondisinya, oleh karena itu kadang kita akan minta beberapa process pengujian NDTuntuk raw material yang datang dari China yang dilakukan oleh subcont yang independent ( bukan dari China ).

Tanggapan 2 – hadi muttaqien

Saya jadi teringat pertanyaan Owner BUMN mengenai kwalitas rendah barang2/material dan orang2 yang di kirim bekerja di Indonesia. Jawaban China-nya…sesuai harga yang dibayar, itulah jawaban mereka, dan harap kita hendaknya maklum.

Yang pernah saya ketahui dalam suatu workshop, produk2 mereka banyak kandungan Shulpur dan tidak merata.

Pengalaman saya standard China masih banyak memakai tulisan China dan sulit membacanya, tapi bila ada yang bisa mendapatkan translate-nya ke bahasa Inggris, bisalah kiranya di sharing di Milis ini.

Tanggapan 3 – irviantanto

Rekan milist yang saya hormati,

Sekedar urun rembug saja. Pengalaman saya selama di proyek oil & gas memang tidak di sarankan untuk memakai produk dari china. Dikarenakan mutu dari produk china saat ini masih diragukan. Dengan adanya beberapa hasil material tes yang gagal. Untuk proyek2 non migas,mungkin masih available. Saya pernah memeriksa barang2 dari china dan sangat sulit untuk mengerti mill certificate atau certificate dari pabrik mereka. Karena menggunakan bahasa china, dan kebetulan tim saya tidak ada yang mengerti. Sebaiknya sebelum menggunakan produk china dilakukan pengetesan di laboratorium dulu untuk memastikan apakah barang tersebut sesuai dengan specificationnya atau tidak.
Mungkin dari teman2 yang memiliki pengalaman sebagai QA/QC dapat lebih menjelaskannya secara detail.

Tanggapan 4 – imam mahmudi

Tambahan informasi,

Kami pernah outsource tube copper dari china dengan disertai certificate yang sesuai dengan spec yang diminta. Namun setelah diuji expan ternyata pecah..
Biasanya kami ambil dari europ.

Satu pengalaman lain oleh customer yang mengambil plate heat exchanger dari china dengan bahan stainless steel. Belum setahun heat exchanger mengalami korosi dan bocor.

Jika ingin ambil barang dari china pastikan bahwa perusahaan manufacturnya mempunyai certifiate quality yang dikeluarkan lembaga sertifikasi yang baik seperti TUV, ASME dan lain-lain. LBeih baik lagi kalau diperusahaan manufakturnya ada orang lembaga tersebut yang menjaga qualitynya tetap baik.

Tanggapan 5 – Dirman Artib

Tujuan akhirnya apa pak ?

Repair by welding ?

Kalau menurut standard, ya bapak bisa lakukan in-situ mettalography. Kemudian cari material yg equivalent dan design WPS, uji untuk dapatkan PQR. Kalau tujuan jangka panjang dan massal sih OK pak. Tapi kalau hanya untuk repair 1 biji, perlu dipetimbangkan keekonomian nya dengan ganti merek, dan beli baru.

Di project saya sekarang, asalkan country of origin nya China, harus langsung reject, walaupun brand terkenal sekalipun.
(Kecuali Chinesse Food)

Tanggapan 6 – rio.hendiga@akersolutions

Memang Pak Dam, beberapa customer saya sama sekali tak mau untuk memakai raw material dari China. Saya sendiri sering kena masalah gara-gara raw material dari China, namun setelah ber ulang-ulang kejadiannya kualitas mereka membaik, namun juga harganya tidak murah lagi. Mungkin tidak semua vendor dari china kualitasnya jelek, tapi mereka pintar memanfaatkan sumberdaya mereka hingga menghasilkan product yang murah. Yang akhirnya seiring dg waktu setelah berbagai komplaint dan process produksi yang tidak standart mereka bisa mulai memenuhi spesifikasi yang kita inginkan.

Nah, ini yang saya jadi bertanya-tanya….kenapa Indonesia tidak bisa bencontoh China. Saya hanya punya 1 vendor yang kualified API 6A standart di Indonesia, sangat susah untuk menghadapi permintaan minimum Local content mengingat capacitynya yang kurang, delivery yang molor, dan quality yang kadang2 turun kadang OK.

Yang saya tahu, di China perusahaan pengecoran logam dan forging di sana banyak sekali jumlahnya, mirip industri rumah tangga. Jadi kalau kita sebagai konsumen tak jeli dg product dari china, bakalan sering kena masalah bahkan bisa rugi. Karena saya pernah ada kasus dg salah satu perusahaan di China, mereka supply raw material yang mana ternyata perusahaan tsb tidak melakukan vacum degasing process. Alhasil semua raw material yang mereka telah kirim scrap, dan kita telah kehilangan banyak waktu karena raw material ini. Delivery ke customer telat, budget membengkak, dan kena pinalty dari customer.

Tanggapan 7 – gusti04

Saya juga sebenarnya bingung, jika kita saat ini membuka bidding untuk pengadaan valve, baik yang manual maupun control, pasti harga yang lowest dari China.

Lagian, brand-brand yang terkenal, juga banyak yang castingnya di China atau di India.
Dulu waktu masih di EPC, saya langsung mengeluarkan pengecualian untuk yang dari China, India and East Europe.

Tanggapan 8 – rio.hendiga@akersolutions

Memang Pak, China dan India paling murah untuk raw material. Namun mereka punya kekurangan juga, klo China memang murah untuk raw material namun untuk product close die mereka masih kalah kualitasnya dibandingkan India. Namun India pun kadang ada aja isu mengenai safety,delivery, namun secara keseluruhan saya lebih cenderung memilih ke product India. Harganya pun kadang jauh lebih murah dg product China.

Kapan Industri kita bisa seperti mereka ? sehingga saya bisa order ke perusahaan dalam negeri.

Tanggapan 9 – Andry Soetiawan

Saya nggak faham juga standard dari China, tapi kalo dilihat dari spek yang diberikan pak Emil dibawah, saya bisa coba main tebak2an.

1. ini saya nggak tahu, mungkin low alloy steel

2. adanya Cr17, Ni 12 dan Mo 2, secara kasar menunjukkan bahwa material tersebut adalah jenis austenitic 316

3. adanya Cr 22, Ni 5 dan Mo 3, secara kasar menunjukkan bahwa material tersebut adalah jenis duplex 2205

test yang biasa dilakukan:

SS 316 biasanya test korosi intergranular dan check molybdenum content duplex 2205 biasanya test korosi pitting dan ferrite content

Aplikasi dan lingkungannya apa pak? kali2 aja ternyata materialnya memang nggak cocok untuk aplikasi tersebut.
Soalnya kayaknya parah sekali, baru 3 hari langsung pecah.