Sekecil apapun aktifitas selalu berisiko, apalagi jika itu PERANG antar Negara. USA yg hobi berperang pun saya yakin selalu melakukan Risk Assesment sblm melakukan penyerbuan juga diikuti Cost&Benefit Analysis, trbukti hingga kini mrk belum bangkrut dan tetap kuat. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah sudah ada Risk Acceptance/Tolerable Criteria yg dikembangkan khusus utk HANKAM, yang semestinya berbeda dgn Industry? Topik ini lebih tepat kita bahas krn related dgn domain Engineer.

Pembahasan – Akh. Munawir

Dear All,

Sekecil apapun aktifitas selalu berisiko, apalagi jika itu PERANG antar Negara. USA yg hobi berperang pun saya yakin selalu melakukan Risk Assesment sblm melakukan penyerbuan juga diikuti Cost&Benefit Analysis, trbukti hingga kini mrk belum bangkrut dan tetap kuat. Lalu bgmana dgn Indonesia? Apakah sdh ada Risk Acceptance/Tolerable Criteria yg dikembangkan khusus utk HANKAM, yang semestinya berbeda dgn Industry?
Topik ini lebih tepat kita bahas krn related dgn domain Engineer.

Tanggapan 1 – kapten_kacak

Dear pak munawir

Risk assesment kan menganalisa resiko yang akan tejadi serta melakukan pencegahan/pengendalian agar dampaknya hilang/meminimalkan dampak resiko tersebut..

Saya pikir ini sudah dikaji sama pemerintah untuk risk assesmentnya ini terbukti dengan pidato sang presiden republik tercinta ini yang menyatakan ‘DIPLOMASI’, klo perang saya pikir indonesia bakal menang, tapi untuk balik lagi/pembanguna pasca perang indonesia akan lama dan semakin tertinggal dari negara lain, ini kan dah diliat sejak terjadinya krisis.. Negara lain sudah banyak yg bisa keluar, berbeda dengan keadaan indonesia…

Sebagai warga negara saya akan selalu berdoa semoga negara indonesia tercinta ini akan terus maju amiiin.

Tanggapan 2 – Akh. Munawir

Iya mas, sebagai seorang yg bekerja di bidang safety .. Orang jalan kepleset & mengakibatkan tdk dpt bekerja lbh dr 1 hari di site itu akan jd berita heboh di perusahaan apalagi jika sampai meninggal bs membuat Pejabat tinggi diperusahaan mndpt skorsing atau pemecatan pdhal penyebabnya tdk disengaja. Tp kalo perang gampang bgt ya ‘mengikhlaskan’ nyawa manusia yg konon di banyak industrial risk matrix dihargai Rp. 500jt atau lebih/nyawa, blm lagi kerusakn lingkungan dst. Paradikma yg aneh dan tdk konsisten.

Tanggapan 3 – Alvin Alfiyansyah

Mas Munawir,

Darimana ya angka Rp. 500jt/lebih yang didapat utk industrial risk matrix akan nyawa ? Beberapa negara eropa standardnya lebih besar dari itu setahu saya, bahkan ada yang jauh lebih kecil seperti di negara tercinta ini.

Mas Rizki,

Darimana juga kesimpulan risk assessment sudah dikaji sama Pemerintah akan berbagai situasi politik saat ini ? Apa dasar aturan/wawasan yang menaungi hal ini ?
Sepanjang pengetahuan saya, risk acceptance criteria belum dibuat dan diatur secara komprehensif walau ada dalam versi lebih kecil di negara tercinta ini.
Dalam diskusi di milist sebelah pihak Menaker tertarik akan diskusi ini dan semoga saja akan ada diskusi lebih lanjut bahkan membuat RPP atau RUUnya, sehingga payung atau kriteria2 yg dipakai sudah kriteria dalam negeri, walau memang dalam praktek QRA (quantitative/qualitative) masih mengacu ke guideline di perusahaan masing-masing atau standard yg berbau internasional, sementara negara tetangga sudah mulai dengan COMAHnya.
Kegundahan yang sama saya yakin sedang dirasakan oleh Mas Munawir karena itu diskusi ini dimulai.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan yang tergabung dalam Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan September 2010 ini dapat dilihat dalam file berikut: