Ketika saya pertama kali bekerja sebagai teknisi, ada beberapa hal yang membingungkan saya. salah satunya adalah ketika ada indikasi vibration high atau temperature high maka selalu dan hampir semua orang akan mengeluarkan komentar spontan/awal ‘mungkin sensornya kotor’ atau ‘mungkin sensornya rusak’ dan lain lain. semua komentar dan kesalahan di tujukan kepada sensornya, bukan pada alat yang di sensor.

Tanya – vaulz

Ketika saya pertama kali bekerja sebagai teknisi, ada beberapa hal yang membingungkan saya. salah satunya adalah ketika ada indikasi vibration high atau temperature high maka selalu dan hampir semua orang akan mengeluarkan komentar spontan/awal ‘mungkin sensornya kotor’ atau ‘mungkin sensornya rusak’ dan lain lain. semua komentar dan kesalahan di tujukan kepada sensornya, bukan pada alat yang di sensor.

Saya tidak menyalahkan mereka karena langsung mengkambing hitam kan sensornya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut. karena setelah hampir setahun bekerja ternyata secara statistik kesalahan sensor system (false alarm) lebih banyak dari pada kesalahan alat yang di sensor (true alarm).

mungkin karena alasan ini mereka jadi kurang percaya kepada sensor systemnya. Atau mungkin karena mengecek alat yang di sensor lebih sulit dari pada mengecek sensornya, jadi mereka ingin memastikan itu bukan false alarm sebelum melakukan penyelidikan lebih lanjut. (dengan kata lain mereka meragukan atau kurang percaya terhadap sensornya)

Apakah semua alasan alasan ini dapat diterima?

Jika saya melihat body mobil saya lecet (sebenernya belum punya mobil,belum mampu beli), pasti saya pergi ke bengkel mobil bukan ke dokter mata. saya percaya kepada mata saya(sensor). karena mata saya dapat di percaya.

bagaimana meningkatkan keterpercayaan suatu alat?

Apakah kita harus menggunakan system 3oo2 atau 4oo2

Apakah dengan meningkatkan reliability adakah nama keren dari keterpercayaan suatu alat adakah toleransi terhadap keterpercayaan suatu alat

maaf kalau banyak pertanyaan..karna saya masih awam

tambahan:

keterpercayaan manusia menurut saya seseorang harus punya sifat dapat dipercaya sifat dapat dipercaya itu akan timbul jika seseorang memiliki intregritas dan skill yang cukup. karna intregritas tanpa skill seseorang tidak akan mampu melakukan sesuatu dengan baik dan skill tanpa intregitas seseorang akan berhianat.

Tanggapan 1 – Arief Rahman

Pak Vaulzan,

Sepengetahuan saya, salah satu metode yang efektif untuk trouble shooting adalah start with the easy thing. Cari yang mudah dahulu baru kemudian systematically & step-by-step cari bagian-bagian yang lain yang berhubungan dengan possible causes yang bisa menyebabkan problem yang muncul.

Dalam kasus vibrasi seperti yang anda contohkan, boleh jadi cara yang palingsimple adalah mendengarkan bunyi-bunyi (misalkan noise yang tidak biasa sebagai akibat vibrasi) atau getaran yang bisa dilihat kasat mata (misalkan ada getraran-getaran yang tidak biasa). Kalau memang tidak ada, orang boleh menyimpulkan bahwa kemungkinan besar bukan real vibration. Yang termudah untuk berifiy adalah check sensornya. Bisa dengan dicopot ataupun dengan membandingkan dengan alat lain yang punya fungsi serupa (dan diyakini akurat) dan dilihat apa ada discrepancy. Kalau iya, berarti memang sensornya rusak. Kalau nggak juga, baru mungkin membongkar peralatannya (yang biasanya memang makan waktu lama dan lebih rumit mengerjakannya).

Mulai dari yang simple dulu, menurut saya lebih efektif in most cases berdasarkan pengalaman saya trouble shooting di plant. Statistik yang anda sebutkan inline dengan pengalaman banyak orang.

Mengenai contoh anda dengan mobil lecet, menurut saya contohnya terlalu simplistis dan obvious. Sama saja kalau anda lihat compressor yang tiba-tiba bergetar dengan keras sehingga secara kasat mata terlihat. Kita tentu saja directly bisa point out bahwa ada REAL vibrasi tanpa perly check sensor.

Persoalan metodologi trouble shooting baru perlu dilakukan kalau setiap kumungkinan punya kemungkinan yang sama antara kemungkinan penyebab satu dengan lain.

Mengenai kehandalah suatu alat, tergantung dalam konteks apa kehandalan mau diukur. Misalnya kalau dalam pengukuran instrumentasi, kehandalan berarti seberapa dekat sebuah oengukuran terhadap nila sebenarnya yang sedang diukur. Parameternya bisa akurasi, repeatability dsb-dsb.

Semoga membantu.

Tanggapan 2 – Waskita Indrasutanta

Vaulzan dan rekan-rekan,

Cerita anda dibawah ini memang adalah latar belakang mengapa orang mau mengeluarkan lebih banyak uang untuk menghindari terjadinya ‘spurious shutdown’ – shutdown yang terjadi karena adanya false alarm, atau dengan perkataan lain, shutdown hanya terjadi kalau memang diperlukan.

Banyak cara dilakukan orang, diantaranya melakukan 2oo3 voting mulai dari sensor, logic solver sampai final element. Kalau 2 atau 3 dari tiga elemen menyatakan shutdown, baru dilakukan shutdown. Jadi User pasti bahwa shutdown memang harus terjadi dan bukan karena kesalahan alat.

Pada perumpamaan mobil lecet dibawah, tentunya kalau mata melihat lecet, kita akan verifikasi dulu apakah pengelihatan kita benar (misalnya tanya teman yang lain apakah melihat hal yang sama, atau diraba dulu, dsb) sebelum kita pergi ke dokter mata. Kalau orang instrument diminta untuk cek sensor (bahkan cukup sering minta cek kalibrasi, dll), ini adalah salah satu langkah verifikasi dari Operator dalam menyelamatkan proses dari shutdown (mahal) yang tidak perlu.