Idealnya satu sling diperiksa setiap kali sebelum digunakan dan diinspeksi minimal tiap setahun sekali. Mengenai Sythetic Web Sling, perlu diadakan inspeksi oleh lembaga berwenang (bisa juga dari pabrikan pembuat sling) jika: 1. Terdapat bekas tetesan/celupan larutan asam atau basa; 2. Mengalami pelelehan (karena panas) pada bagian permukaan sling; 3. Terdapat cabikan, potongan, gencetan, dan gepeng pada permukaan sling; 4. Pencantol (stitching) nya rusak atau aus; 5. Sling tergores, secara umum manufacturer memasukkan ‘kawat merah penanda keausan’ didalam synthetic web sling, sedemikian hingga untuk kasus goresan di mana kawat ini terlihat, maka sling harus DIBUANG.

Tanya – Afrizal

Dear Bapak Moderator

Saya butuh pencerahan tentang prosedur pemeriksaan kelayakan dari Polyester Webbing Sling ni Pak. Ada tidak ya diantara Bapak-bapak anggota millis yang punya pengalaman dibidang ini.

Di pabrik kami banyak sling yang kondisi fisiknya tidak bagus lagi/robek, untuk sling dengan keadaan tersebut biasanya kami menurunkan W.L.L (working load limit) nya, contohnya Duplex Webbing Sling (Polyester) dengan lebar 75 mm, WLL kondisi baru 3 Ton, dengan keadaan rusak/robek biasanya W.L.L nya kami turunkan menjadi 1 Ton. Hal ini dilakukan tanpa adanya referensi prosedur yang baku.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Pak Afrizal,

Aturan tentang sling ini saya kurang jelas apakah ada atau tidak di Indonesia,namun kalau mau berkaca pada aturan yang sudah baku, silahkan membuka www.osha.gov silahkan cari peraturan OSHA khusus tentang sling yang akan Bapak Afrizal dapatkan di 29 CFR 1910.184 untuk Inggris Standar yang proper harus mengikuti BS EN 1492-1:2000.

Aturan OSHA ini juga menyangkut pula Synthetic Web Sling, Inspeksi dan aturan tentang Sling Load Capacity dan Anglenya.

Idealnya satu sling diperiksa setiap kali sebelum digunakan dan diinspeksi minimal tiap setahun sekali.

Tentang Sythetic Web Sling sebagaimana dibicarakan Pak Afrizal, Perlu diadakan inspeksi oleh lembaga berwenang (bisa juga dari pabrikan pembuat sling) jika:

1. Terdapat bekas tetesan/celupan larutan asam atau basa

2. Mengalami pelelehan (karena panas) pada bagian permukaan sling

3. Terdapat cabikan, potongan, gencetan, dan gepeng pada permukaan sling

4. Pencantol (stitching) nya rusak atau aus

5. Sling tergores, secara umum manufacturer memasukkan ‘kawat merah penanda keausan’ didalam synthetic web sling, sedemikian hingga untuk kasus goresan di mana kawat ini terlihat, maka sling harus DIBUANG

Jadi dalam kasus Pak Afrizal sebaiknya mengontak manufacturer sling nya, jika memang Pak Afrizal tidak yakin dengan kemampuan sling tersebut. Ingat Pak Afrizal, harga duplex webbing sling untuk 3 ton (8 m) tidaklah mahal ( sekitar 60-70 USD), dengan membeli sling yang baru Pak Afrizal menghindarkan resiko kecelakaan baik itu terhadap barang maupun terhadap orang yang beayanya bisa mencapai jutaan dollar jika nilai barang yang diangkat memang besar.

Oh iya, untuk sling dengan beban 3 ton, seharusnya lebarnya 90 mm menurut standar BS EN 1492-1: 2000 jadi sebaiknya diverifikasi lagi lebar sling yang bapak punya.

Tanggapan 2 – Widodo Suparman

Pak Afrisal,

Saya hanya mau menambahkan sedikit. Mudah2-an perusahaan bapak bergerak di migas. Dalam Permentamben no. 06/P/0746/M.PE/1991 tanggal 19 Nopember 1991 tentang Pemeriksaan Kerja atas instalasi, Peralatan dan Teknik yang dipergunakan dalam pertambangan migas dan pengusahaan sumber daya panas bumi salah satunya adalah Sertifikasi Kelayakan Penggunaan Pesawat Angkat, termasuk didalamnya mengenai Crane, baik truck crane ataupun hydraulic crane, overhead crane bahkan sampai manual asal diatas 1,5 ton, wajib di sertifikat. Jangka waktu sampai re-sertifikasi 3 tahun dengan catatan kalau normal2 saja. Dalam pelaksanaan sertifikasi tersebut, selain men test kapasitas dari crane itu sendiri, engine, carrier, boomnya (kondisi cable, hook, winch brake) semua diperiksa.

Saya sendiri dalam bekerja kebetulan dipercaya untuk bertanggung jawab masalah jiwa, alat dan lain-lain kalau kejadian di wilayah kuasa pertambangan di blok sengkang, sulsel lebih baik tidak mau ambil resiko.
Menurut saya kalau sudah ada yang robek2 jangan ambil resiko lah walaupun perusahaan tersebut milik bapak sendiri, apalagi kalau bapak sekedar numpang hidup jadi pekerja seperti saya. Kalau ada kejadian suatu ketika putus dan membuat orang celaka, tidak ada kata2”Padahal WLL-nya sudah saya turunkan pak dari 3 ton menjadi 1,5 ton’.

Tanggapan 3 – priyo priyo

Salam sejahtera,

Mas urun rembuk, kalau gak salah referensinya API-9A,API-RP9B,API-Spec 8 untuk shave,API-4E, referensi tersebut ada di perpustakaan pusat Pertamina Jl.Medan Merdeka Timur 1A Jakarta pusat.

Tanggapan 4 – Endy Jusman

Pak Widodo,

Sertifikasi Kelayakan Penggunaan Pesawat Angkat tsb,siapa yang berwenang mengeluarkannya pak?

Kebetulan saya punya beberapa unit truck w/ crane kapasitas 3,5 Ton dan stand by operasi di daerah Riau krn peraturan baru dr Pemakai jasa unit itu yg bergerak di Oil&gas mengharuskan utk disertifikasi terlebih dahulu. Apakah bisa diurus dr Jakarta (Kendaraan tsb berplat nomer B) atau mesti mengikuti domisili operasional unit tsb.

Atau mungkin ada anggota milis yg mau share informasi ini?
Thanks sebelumnya,

Tanggapan 5 – Widodo Suparman

Kalau di Migas yang mengeluarkan perijinannya ya Direktur Teknik Migas Direktirat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi. Plaza Centris Lantai 14, Jl. HR. Rasuna Said Kav. B-5 No. 1A, Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam teorinya kita bisa mengurus sendiri, tetapi ada Keputusan DirJen Migas No. 42P/382/DDJM/1992 tanggal 19 September 1992 tentang Perusahaan Jasa Inspeksi Teknis di bidang Migas dan Panas Bumi kalau memang bapak tidak ada waktu.