Yang namanya bahan bakar tentunya sesuatu yang memiliki nilai kalor sehingga mampu menghasilkan energi. bentuknya sendiri tentu bisa beragam. mengambil contoh yang bapak sebutkan, saya rasa untuk di Indonesia itu 2 kasus yang berbeda, bahan bakar untuk ibu2 rumah tangga dan penggunaan bioethanol/ biodiesel.

Tanya – Yusuf Nugroho

Maaf untuk pertanyaan awam ini, saya ingin memahami sifat apakah yang ada pada suatu bahan sehingga bahan tersebut layak disebut bahan bakar? Bila unsur utama pembentuk bahan bakar dapat diketahui, insyaAllah dapat kita dapat menemukan alternatif bahan bakar fosil.

Ide ‘ndusun’-nya begini: bila kaum ibu di suatu daerah kesulitan membeli minyak tanah untuk memasak air minum, maka ibu-ibu bisa mengirit dengan memakai kayu bakar. Tapi kayu bakar kan juga bahan yang jarang ada, bisa-bisa nanti jalur hijau ditebangi hanya untuk kayu bakar (ekstrimnya demikian). Tapi selain kayu bakar, masih ada daun-daun kering yang jumlahnya cukup banyak, atau tulang belulang hewan sembelihan (sapi, kambing) yang mungkin banyak tersisa di rumah jagal atau pasar.

Itulah ilustrasi mudah, mungkin sekarang banyak pihak yang melirik bio-etanol dan bio-diesel. Wawasan dan pengalaman rekan-rekan tentang properties bahan bakar bisa memperkaya gagasan energi alternatif, semoga.

Tanggapan 1 – johanes a. w.

Pak Yusuf,

mencoba menjawab pertanyaan seputar energinya dari pengetahuan yang terbatas, maklum dari dusun juga nih….

sederhananya menurut saya yang namanya bahan bakar tentunya sesuatu yang memiliki nilai kalor sehingga mampu menghasilkan energi. bentuknya sendiri tentu bisa beragam. mengambil contoh yang bapak sebutkan, saya rasa untuk di Indonesia itu 2 kasus yang berbeda, bahan bakar untuk ibu2 rumah tangga dan penggunaan bioethanol/ biodiesel.

untuk kasus ibu rumah tangga, benar bahwa alternatif kayu bakar bisa digunakan sebagai pilihan, soal resiko bahwa jalur hijau akan dipangkas saya rasa itu kembali ke individu dan aturan main pejabat daerahnya. Selain kayu bakar bisa juga dipakai tempurung atau sabut kelapa sebagai alternatif. Tentunya kita perlu juga mempertimbangkan efisiensi menggunakan bahan bakar tertentu, kasus daun benar bahwa daun bisa dibakar tapi apakah efektif? Karena laju pembakarannya sangat cepat dan sisanya langsung berupa debu (ash). berbeda dengan kayu bakar atau tempurung/ sabut kelapa karena pada saat pembakaran menghasilkan bara sehingga masih ada panas yang bisa digunakan. seringkali pemilihan jenis kayu untuk kayu bakar pun akan menghasilkan kualitas bara yang berbeda. coba saja bakar ranting kayu dalam jumlah banyak dengan membakar batang induknya, mana yang lebih efektif? Kalau untuk kasus tulang belulang..hmm, saya belum pernah mencoba tuh, boleh juga saya diberi tahu kalau ada yang pernah menggunakan metode ini.

biodiesel/ bioethanol sejauh pengetahuan saya aplikasinya lebih kepada industri dan transportasi, kalau pun ada untuk rumah tangga mungkin jumlah tidak terlalu besar. Kalau dulu yang saya pernah tahu juga bisa digunakan spiritus.

jadi pertimbangannya adalah nilai kalor dan efisiensi pembakarannya.

Tanggapan 2 – yusuf nugroho

terimakasih untuk Pak Anton dan Pak Albert untuk ulasan-ulasan yang sungguh luar biasa. Saya kembali berpikir bahwa bila tempurung kelapa tadi memenuhi syarat baik dari nilai kalori maupun sifat CxHy-nya, lalu ada pemikiran untuk mengolahnya menjadi bahan bakar yang murah, praktis dan hemat untuk konsumsi rumah tangga, berarti ibu-2 tak perlu mengeluh tentang harga minyak tanah. Tinggal lestarikan saja jajaran nyiur yang sekaligus menjadi benteng anti abrasi di garis pantai kepulauan kita. InsyaAllah lapangan kerja juga terbuka dengan gerakan penanaman kelapa, jarak, kelapa sawit di pulau-pulau kecil yang belum terjamah oleh program transmigrasi.

Demikian dan terimakasih.