Rekan2 senior saya mau tanya nih perbedaaan antara alloy dengan 316SS.

Tanya – Ariyo Bowo

Dear all senior millis migas

Rekan2 senior saya mau tanya nih perbedaaan antara alloy dngn 316SS.
Tank’s before for all information.

Tanggapan 1 – Ilham B Santoso

Setahu saya..CE ini lebih ditujukan untuk mengetahui perlakuan panas apa yang diijinkan pada material dan termasuk pengelasan. Karena kandungan karbon pada baja akan menentukan hasil akhir dari perlakuan panas dan pengelasan pada logam.

Sebagai contoh pada pengelasan :

CE%<0.14 Excellent weldability, no special precautions necessary

0.14

CE%>0.45 Extreme complications, weld cracking is very likely, hence preheat in the range 100-400°C and low hydrogen electrodes are required,

Monggo Cak faridz…silahkan menambahkan.

Memang ada dua macam perhitungan ce, yaitu untuk modern carbon steel dan low alloy steel. Mengapa ini dibedakan saya..sendiri kurang faham, kemungkinan ini dikarenakan oleh susunan element yang menyusun material; pada carbon steel keberadaan Si diperhitungkan untuk menentukan CE, sedangkan pada low alloy tidak..dan hanya berdasarakan C, Mn, Cr, Mo,V, Ni dan Cu.

Tanggapan 2 – arief d hartanto

Ikutan nimbrung ya Pak Ilham, juga sekaligus nanya ….

Setahu saya CE adalah suatu rumusan empiris yg di buat oleh IIW yang tujuannya adalah untuk mengetahui weldability dari suatu material.

IIW merumuskan –> CE == C+Mn/6+Ni/15+Cu/15+Cr/5+Mo/5+V/5 Batasan CE
untuk weldability adalah sebagai berikut: CE < 0.45 wt% --> weld cracking is unlikely, no heat treatment is required CE between 0.45 ~0.6 wt% –> weld cracking is likely, and pre heat range 95 – 400°C is generally recommended CE > 0.6 wt% –> high probability crack in weld, both preheat & posweld heat treatment are required Batasan ini tercantum dalam ASM handbook.

Sedangkan batasan yg Pak Ilham kemukakan jauh lebih kecil, kalau boleh tahu sumbernya darimana ya Pak? Kalau yg dimaksud rumus CE tersebut di atas yg tanpa memperhitungkan unsur Si, mengapa ya Pak kok tidak bias digunakan untuk Carbon Steel? Karena setahu saya rumus empiris tersebut bisa juga untuk menghitung CE baik itu material carbon steel maupun low-alloy steel.

Memang dalam perkembangannya ada rumus lagi yg mengkonsider thermodinamik & kinetic factor, dalam menentukan weldability suatu material. Dan juga ada juga rumus yg memasukkan unsur Hydrogen, Si, dan Boron dalam perhitungannya.

Tanggapan 3 – lilik sukirno

Ini hanya informasi tambahan saja soal material carbon steel, yang merupakan alloy stainless steel adalah bahan dasarnya berbentuk powder, dengan komposisi material yang terdiri dari beberapa komponen powder yang diformulasi berdasarkan material yang akan dibuat, selanjutnya di campur dan di haluskan sampai grain size tertentu untuk bersama-sama dilelehkan dalam suatu furnace (mohon dikoreksi kalau salah) pada temperatur lelehnya. Ternyata SS 316 ini ada banyak type, yang mungkin bila disesuaikan dengan kegunaannya dilihat dari kode UNS nya, dimana yang membedakan adalah dari komposisi Carbon nya dan Nitrogennya,

misalnya untuk

1. Austenitic Stainless Steel 316 SS – UNS 31600 – % komposisinya :

C max 0.08, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

2. Austenitic Stainless Stell 316 LSS – UNS 31603 – % komposisinya:

C max 0.03, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

3. Austenitic Stainless Stell 316 HSS – UNS 31609 – % komposisinya:

C max 0.04-0.10, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

4. Austenitic Stainless Stell 316 TiSS – UNS 31635 – % komposisinya:

C max 0.06, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N max 0.10, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

5. Austenitic Stainless Stell 316 CbSS – UNS 31640 – % komposisinya:

C max 0.08, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N max 0.10, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

6. Austenitic Stainless Stell 316 NSS – UNS 31609 – % komposisinya:

,P>C max 0.08 , Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N 0.10 – 0.16, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

7. Austenitic Stainless Stell 316 LNSS – UNS 31609 – % komposisinya:

C max 0.03 , Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N 0.10 – 0.16, P 0.045, S max 0.03, Si max 1.0

Sementara hanya ini saja informasi yang ada, mohon maaf kalau tidak sesuai dengan yang dimaksudkan.

Tanggapan 4 – Rizky Wahyudi

Dear All,

Saya juga ingin menambahkan nih, jenis-jenis AISI 316 dibedakan karena penggunaannya, contoh (spt yg Ibu Liliek sebutkan):

1. AISI 316 = dibuat untuk lebih tahan terhadap Pitting Corrosion di air laut, AISI 316 ini adalah AISI 304 + Mo (Molybdenum)

2. AISI 316 L = L itu low carbon, untuk mencegah Sensitisasi atau Chromium Carbide (Cr23C6) pada saat mendapat perlakuan panas

3. AISI 316 H = untuk mendapatkan Hardness yg lebih baik, (kalo ini saya nebak aja, mohon koreksi)

4. AISI 316 Ti = Ti itu Titanium gunanya sama dengan no. 2, untuk mencegah Sensitisasi, karena Ti lebih reaktif terhadap C daripada Cr, jadi yg terbentuk Titanium Carbide dahulu bukan Cr23C6.

5. AISI 316 Cb = Kalau ini saya ngga tau nih (mohon pencerahannya dari Pak Jaya dan Pak Wien)

6. AISI 316 N = N itu Nitrogen yang merupakan unsur penstabil
Austenite, penggunaanya untuk alat2 yg tidak menginginkan sama sekali adanya fasa ferrite yg dapat menimbulkan sifat magnet.

7. AISI 316 LN = L adl low carbon dan N adl Nitrogen, bisa disimpulkan sendiri.

Semua AISI 316 dan teman2nya ini adalah jenis Stainless Steel yang tahan terhadap pitting corrosion yang biasa terjadi di daerah pantai (laut).

Mudah2an berguna, dan mohon koreksinya bila salah.

Tanggapan 5 – amal ashardian

Mohon maaf kalau salah:

Bukannya Powder metalurgy itu penggolongannya berbeda..??? dan untuk membentuk part yang extra high precision/ high wear resistante yang tidak mungkin dibuat selain dg cara cetak dengan tekanan tinggi dan dipanasi tapi enggak sampai meleleh (Molten).

Tanggapan 6 – DARMAYADI

Temans,

Kayaknya diskusi tentang Material 316 ini sudah melebar kemana-mana, Bagus… tapi ada baiknya dibuat lebih fokus tentang apa-apa yang mau dibahas.

Beberapa topik yang saya sarankan untuk dibahas adalah :

1. Apa itu material 316 ? Standar-standar yang dipakai apa saja ? ASTM, AISI
or JIS dll ?

2. Kenapa harus digunakan SS 316, emang baja ini punya kelebihan apa dibanding dengan type yang lain? Disamping baja ini punya kelebihan, pasti punya kelemahan, apa kelemahannya?

3. Ada berapa saudara dari SS 316 itu ? dan Applikasikasi dari masing-masing nya untuk apa ?

4. Ada berapa proses pembuatan SS 316 ?

5. Apa yang dimaksud dengan CE ? Apakah ada kaitan antara SS316 dengan CE ?

6. Apa itu powder Metalurgy ? Apakah SS 316 bisa dibuat dengan cara Powder
Metalurgy ? Kalau bisa bagaimana caranya? Kalau tidak bisa kenapa???

Sepertinya Metalurgist seperti Pak Dr.Ir. Winarto MSc dan Pak Nurjaya ST.MSc harus turun gunung untuk menjelaskan agar lebih fokus.