MIC adalah adanya aktifitas bakteri yang memperparah proses korosi. Biasanya pada besi dan turunannya (baja carbon, SS, dll) terserang oleh bakteri yang dalam aktfitas metabolisme, melakukan reduksi garam sultat menjadi sulfida yang dapat meningkatkan korosi pada baja. Bakteri ini dikenal sebagai Sulfate Reduding Bacteria (SRB). Jenis bakteri ini banyak sekali, saya sendiri kurang faham hanya membaca dari literatur seperti: Desulforvibrio, Thiobacilus thioxidants,dll. Bacteri-bateri tadi ada yang hidup secara anaerob–>sering terdapat corrosion under insulation (CIU), namun ada juga yang aerob–> sering terjadi pada ‘genangan’ cairan pada permukaan logam, misal sisa hydrotest, dll. Bakteri2 tadi bisa hidup dalam lingkungan netral, asam dan basa. Jadi agak sulit mengontrol SRB dari keasaman air. Pengontrolanya SRB tentunya hanya dapat dilakukan dengan meniadakan media untuk kehidupan bakteri, dimana biasanya adalah air dan tanah lembab. Jadi harus dihindari genangan (sisa air) pada permukaan logam lebih dari 1-2hari, dan perancangan drainase yang baik untuk pipa di tanah lembab. Selain itu penggunaan zat pembunuh bacteri (biocides), dapat digunakan pada permukaan logam sebelum dilakukan insulation.

Tanya – edfarman@ikpt

Dear Alls,

Dimilis ini sempat disinggung masalah MIC (Microbiological Induced Corrosion).
Saya pernah dapat informasi masalah ini, namun belum tuntas rasa ingin tahunya.

Boleh kita diskusi hal ini lebih detail lagi, misal:

– Bakteri apa yang makan ‘besi’ tsb?

– Material apa saja yang rentan thd ‘gigitan’-nya?

– Faktor apa saja yang memungkinkan terjadinya MIC tsb?

– Bagaimana cara mencegah atau meminimalisasinya?

– Benarkah hanya kondisi stagnan dari water yang memungkinkan bakteri tsb aktif?

– Berapa laju korosi yang mungkin dihasilkan in worse case?

Di satu project yang saya ikuti, pernah ditemukan indikasi adanya MIC saat ada analisa korosi di material (Sedikit lupa A36 or A573-70). Namun, karena dipertimbangkan bukan sebagai suspect utama korosi yang terjadi, point itu tidak dikaji lebih jauh. Alhasil yang tinggal sekarang rasa penasarannya.

Segitu dulu, saya mohon sharing dari rekan-rekan lainnya untuk MIC di forum ini.
Terimakasih.

Tanggapan 1 – Ilham B Santoso

MIC adalah adanya aktifitas bakteri yang memperparah proses korosi. Biasanya pada besi dan turunannya (baja carbon, SS, dll) terserang oleh bakteri yang dalam aktfitas metabolisme, melakukan reduksi garam sultat menjadi sulfida yang dapat meningkatkan korosi pada baja. Bakteri ini dikenal sebagai Sulfate Reduding Bacteria (SRB). Jenis bakteri ini banyak sekali, saya sendiri kurang faham hanya membaca dari literatur seperti: Desulforvibrio, Thiobacilus thioxidants,dll. Bacteri-bateri tadi ada yang hidup secara anaerob–>sering terdapat corrosion under insulation (CIU), namun ada juga yang aerob–> sering terjadi pada ‘genangan’ cairan pada permukaan logam, misal sisa hydrotest, dll. Bakteri2 tadi bisa hidup dalam lingkungan netral, asam dan basa. Jadi agak sulit mengontrol SRB dari keasaman air. Pengontrolanya SRB tentunya hanya dapat dilakukan dengan meniadakan media untuk kehidupan bakteri, dimana biasanya adalah air dan tanah lembab. Jadi harus dihindari genangan (sisa air) pada permukaan logam lebih dari 1-2hari, dan perancangan drainase yang baik untuk pipa di tanah lembab. Selain itu penggunaan zat pembunuh bacteri (biocides), dapat digunakan pada permukaan logam sebelum dilakukan insulation.

Kecepatan laju korosi, agak sulit diprediksi..mengingat modus korosinya akan membentuk pitting, hal ini karena bacteri cenderung hidup dalam bentuk koloni-koloni.
MIC, meninggalkan jejak yang khas yaitu ditemukan endapan sulfur pada pitting, dan pada CIU,seringkali mengeluarkan emisi H2S (bau telur busuk..dapat dibantu dengan HCl tuk memeperjelasnya) saat insulasi di buka.

Sementara, hanya itu yang dapat saya sampaikan…O, iya..logam lain seperti aluminium juga berpotensi terserang oleh MIC ini.

Tanggapan 2 – Ir Herdana Jaya

Masalah MIC,memang betul untuk jenis korosi ini sangat sulit. Dalam company kami masalah tersebut kami sebut sebagai ‘Under Deposit Corrosian’ hal ini tdk akan hilang jika hanya menggunakan Chemical cleaning maupun dgn Mechanical cleaning. Solusinya anda hrs cari jenis anti corrosian yg mampu memhilangkan sampai ke ‘Nucleous’ dari ikatan kimia tersebut. Need more information, call me Herdana.J 0811-147081

Tanggapan 3 – ifan rifandi

Pak Hendana,

Korosi MIC berbeda dengan UDC.

MIC hanya terjadi di internal pipa, sedangkan UDC bisa di internal maupun external.

MIC proses korosinya dilakukan oleh bakteri yg umumnya adalah SRB, karena bakteri ini bisa berkembang tanpa adanya oksigen (anaerob).
Bakteri ini mereduksi in sulfat menjadi sulfit dan sulfida (H2S). Ion2 ini akan bereaksi dengan Fe sehingga terjadi korosi.

Untuk mengetahui ada tidaknya SRB, bisa dilakukan dengan pengambilan sampel fluidanya dan di test dengan metoda dilution bottle (broth bottle) atau dengan sani check. Tetapi dalam hal ini yg diambil SRB yg tersampling adalah SRB yg bersifat planktonic. Untuk mengurangi koloni SRB, khususnya yg bersifat sessile ini bisa dilakukan dengan mechanical cleaning (pigging) yang dibarengi dengan batching biocide.
Untuk pipa2 yang bersifat dead leg dimana kemungkinan ada bakteri sebaiknya di injeksi oleh biocide (salah satu jenis corrosion inhibitor).

UDC adalah korosi yg disebabkan oleh adanya endapan deposit. Proses korosinya terjadi karena adanya beda potensial antara parent metalnya dengan deposit/ debris dan bisa juga karena adanya beda konsentrasi larutan disekitar endapan tsb. Tetapi memang bakteri bisa juga terlibat bila ada (internal pipa).

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Tanggapan 4 – Ilham B Santoso

Sepakat pak..MIC tidak selalu UDC, demikian pula sebaliknya. UDC bisa karena perbedaan konsetrasi oksigen/larutan, bisa pula karena efek galvanis..dan tidak menutup kemungkinan MIC.

Namun, menurut saya MIC tidak selalu ditemukan didalam pipa…dan dilingkungan yang miskin oksigen. Karena MIC bisa juga disebakan oleh bakteri yang aerob (thiobacillus, galionella, sphaerotilus..dll)… bukan hanya bakteri anaerob (desulfovibrio, desulfotumacolom, dll) saja. MIC juga sering ditemukan pada pipa-pipa dibawah tanah, dibalik lapisan wraping..salah satu dari modus CUI (corrosion under insulation). MIC juga sering ditemukan pada pipa atau vessel yang baru saja mengalami hydrotest dan terdapat sisa-sisa (genangan) air di dalam tangki. Adanya endapan sulfur pada dasar pitting, seringkali merupakan salahsatu indikasi adanya aktifitas dari bakteri SRB ini.

Tanggapan 5 – ifan rifandi

Selamat pagi Pak Ilham,

Memang betul pak MIC tidak selalu di internal, banyak juga aktifitas bakteri aerob yg mengkontribusi thd korosi, tetapi umumnya jarang diperhitungkan karena kontribusinya sangat kecil dan mitigationnya lebih mudah. Dengan memberikan lapisan coating yang mengandung zat inhibitive spt. epoxy polyamide inhibitive primer, permukaan pipa terpisah dari lingkungannya.

Begitu juga dgn wrapping Pak. Sebelum di inner wrapping, pipeline selalu diberi primer coating dulu.

Tetapi MIC yg terjadi di internal pipa/pipeline tidak bisa kita lihat. Oleh karena itu bakteri yg di internal pipa ini yg harus kita beri perhatian lebih. Kalau tidak salah sebagian besar pipa / pipeline yg bocor disebabkan oleh masalah internal, dimana salah satunya adalah karena aktifitas SRB ini.
Memang betul pak, bila jumlah koloni SRB ini sangat besar, kemungkinan tercium bau telor busuk sangat mungkin karena produk dari aktifitas SRB ini adalah gas H2S.

Mengenai CUI, setahu saya CUI ini bukan ditujukan untuk korosi under wrapping (underground pipeline) tetapi lebih ditujukan ke korosi yang terjadi dibawah insulation (hot maupun cold insulation). CUI umumnya terjadi karena adanya air yang meresap /ingress kedalam insulationnya. Oleh karena itu sebaiknya permukaan pipa dilapisi coating sebelum dipasang glass/rock wool.