Ada beberapa alasan kenapa installasi pipeline tidak menggunakan sambungan ulir tapi las: 1. Sambungan las tentunya lebih kuat dari pada sambungan ulir, karena kekuatan las minimal sama dengan logam induk (CMIIW), sehingga rentan terhadap leaking. Lebih jelasnya Pak Farid Moderator Las yang bisa menjelaskan tentang hal ini; 2. Pada proses installasi pipeline pasti ada proses tie-in (misal tie-in pipeline antara deep water section dengan shallow water section). Proses tie-in akan sangat susah dilakukan kalau dengan sambungan ulir; 3. Sambungan dengan ulir akan susah di repair jika terjadi leak. Terpaksa pipa akan dipotong (dengan las) dan disambung (tie-in) lagi tentunya juga dengan las karena seperti pada point 2, proses tie-in akan susah jika menggunakan sambungan ulir.

Tanya – Lucky Luke

Dear All,

Pada design Pipeline, kenapa pada semua sambungan pipeline dibuat dengan Las ?
Kenapa tidak pake ulir saja atau istilah saya pakai ‘drat’ ? Pertimbangannya apa ya kok harus menggunakan Las? Mohon penjelasannya.

Tanggapan 1 – Didik Setya

Dear Pak Lucky,

Menurut saya ada beberapa alasan kenapa installasi pipeline tidak menggunakan sambungan ulir tapi las.

1. Sambungan las tentunya lebih kuat dari pada sambungan ulir, karena kekuatan las minimal sama dengan logam induk (CMIIW), sehingga rentan terhadap leaking. Lebih jelasnya Pak Farid Moderator Las yang bisa menjelaskan tentang hal ini.

2. Pada proses installasi pipeline pasti ada proses tie-in (misal tie-in pipeline antara deep water section dengan shallow water section). Proses tie-in akan sangat susah dilakukan kalau dengan sambungan ulir.

3. Sambungan dengan ulir akan susah di repair jika terjadi leak. Terpaksa pipa akan dipotong (dengan las) dan disambung (tie-in) lagi tentunya juga dengan las karena seperti pada point 2, proses tie-in akan susah jika menggunakan sambungan ulir.

Mohon pencerahan teman2 yang lain..

Tanggapan 2 – Ary Retmono

Sedikit tambahan selain dari yg sdh dibilang Pak Didik: Pak Lucky bisa bayangkan kalau yg drat2an itu pipa >6′, akan gueede banget pipe wrench-nya. Lalu yg ngengkol sopo tho Pak, wong kunci pipanya aja sdh berat sekalee. Apalagi kalau pipanya 20′, 42′, atau lebih besar lagi, wah….bisa2 harus ditarik buldoser untuk mengengkol kuncinya. Belum lagi masalah ‘alignment’ (biar waktu memutar pipanya nggak berat2 amat), maka drat kudu dipasang lurus sumbu2nya. Ini juga jadi kesulitan tersendiri saat pemasangan, karena pipa (pipeline) dipasangnya 99.999% dlm keadaan tidur nyenyak terlentang.

Kalau pipa2 untuk drilling, memang diulir, karena waktu masangnya berdiri, dan ini relatif lebih mudah menyenterkan sumbunya. Pun, semakin diputar semakin kencang (tight) sambungan ulirnya.

Tanggapan 3 – Bayu Virgan

Hmm, pipeline pakai ulir, saya jadi bingung dengan pertanyaan bapak, saya ini masih baru dalam bidang pipeline, tapi akan sangat sulit bagi saya untuk memutar pipa 16′ atau 24′ dengan panjang 6 atau 12 m, berat sekitar 1 ton, agar masuk pada sambungan pipa yg lain, apa lagi hal tersebut harus dikerjakan ber-kilo-kilo meter jauhnya, wuih…pekerjaan
yg sangat berat pak.. Hehe..maaf bila tanggapan saya ada yg salah..mohon di revisi..

Tanggapan 4 – darmansyah

Alasan dari pak Bayu itu benar, selain itu juga karena koneksi piping dengan ulir hanya untuk pressure yang rendah dan juga hanya untuk liquid yang non-hazardous. Kalo untuk pressure tinggi dan hazardous-liquid harus pakai welding. Hal ini disebabkan NPT connection rentan terhadap leaking
bila high-pressure. Baik Welding piping dan NPT piping harus mengacu pada
ISO & ASTM.

Mohon pencerahan dari rekan-2 yg lainnya…

Tanggapan 5 – ckaelan_milis

rekan,

Beberapa bulan yang lalu saya pernah menanyakan hal yang sama. Sedikit jawaban yang memuaskan, saya dapatkan dari buku nya Subsea pipeline engineering nya andrew palmer.

kalau saya boleh kutip, alasan utamanya adalah konservatisme dari pipeline engineer. Risk dari corrosion dan sensitivitas dari ada ribuan join dalam satu pipeline.

Kalau welded connection sendiri, kita bisa tes integrity nya begitu welding selesai sedangkan utk drat connection, ngetes secara langsung nya belum kebayang juga.

dari segi installasi, setahu saya drat connection cenderung utk menerima gaya axial, sedangkan pas kita nge lay, maka bending akan menjadi gaya yang utama.

yang pasti, ada beberapa project pipeline yang telah menggunakan sistem drat ini, misalnya project BP Harding.

Tanggapan 6 – Lucky Luke

Terimakasih banyak atas pencerahan dari rekan2 Migas semuanya…. Kebetulan saya menanyakan hal ini karena terlintas dalam benak saya, bagaimana jika sambungan pipeline diganti dengan ulir seperti halnya drilling pipe. Lagian benar juga kalau pakai ulir akan sangat rumit sekali proses instalasinya terutama saat Tie-In. dan juga saat maintenance apabila terjadi kebocoran. Tapi sebagai engineer, boleh dong kita design sambungan pipeline itu menggunakan ulir, tapi ulirnya bukan antara pipa, tapi berada diluar.

Artinya, ulir itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan pipa ledeng. Sambungan ulir bukan antar pipe tapi kedua pipe disambung dengan clamp yang berbentuk ulir (semoga gak bingung…)(Seperti sambungan pipa PVC dll).

kalau kasusnya seperti ini bagaimana dong ?

Tanggapan 6 – JASMAN SAMSU

Mungkin maksudnya pake flange ya ? (flange to flange connection?)

Tanggapan 7 – darmansyah

Mas Lucky,

Seperti yg telah disinggung beberapa rekan migas lainnya bahwa perbedaan antara Drat (NPT) Connection dan welding connection selain pada saat tie-in, maintenance dan juga leakage, adalah juga pada kekuatan terhadap Pressure yang melewati koneksi piping tersebut.