Pada saat kapal akan sandar (<200nm dan pada 12 nm) ini yang banyak diatur. Jalur pelayaran diatur sesuai dengan draft (sarat kapal, disesuaikan dengan perariran yang dilewati) dan juga DWT (dead weight) kapal. Untuk kapal2 kecil biasanya diarahkan ke sub port (port pendukung, FYI sepertinya belum ada sub port ini) kemudian setalah bearda di 12nm kapal ini akan dikontrol dengan AIS (automatic Identification System)dari pihak yang berwenang (di Indonesia kalau gak salah di bawah Perhubungan Laut (HubLa)) melalui identifikasi satelit sehingga pergerakan kapal dapat di ketahui. Kemudian ada yang namanya PSC (port state control) di Indonesia dikenal dengan syah bandar, bertugas untuk memeriksa kelengkapan kapal yang berhubungan dengan regulasi IMO (international Maritime Organisation), Bendera negara (Flag State), dan sertifikasi kelas lainnya sehingga kapal tersebut boleh atau tidak sandar di port tersebut (tapi tidak semua kapal diperiksa berdasarkan kesepakatan sekitar 25% kapal sandar pertahun lebih tidak apa-apa, mengingat banyaknya kapal yang sandar).

Tanya – Rosmana Eko

Dear All,

Baru mulai mo aktif lagi nih di Migas, saya punya pertanyaan berkaitan dengan kapal laut. Dalam lintas pelayarannya, bagaimanakah penentuan lintasannya. Apakah ada sentral yang mengatur lalu lintas kapal laut, atau kapal-kapal tersebut yang mengatur sendiri berdasarkan tampilan radar dan komunikasi dua arah baik data mapun suara?

Maksud saya sebagai yg awam di perkapalan begini, kebetulan saya di penerbangan. Untuk lalu lintas pesawat di udara, ada yg namanya lintasan vertikal dan horisontal. Beberapa waktu yg lalu jarak vertikal antar lintasan pesawat adalah 2000 ft, namun sekarang hanya 1000 ft dengan ketinggian terbang 29000 ft – 41000 ft. itupun hanya pesawat2 yang telah memenuhi persyaratan. Yang tidak memenuhi harus terbang di bawah 29000 ft dengan jarak vertikal 2000 ft. Sedangkan jarak horisontal antara pesawat 50NM. Lintasan-lintasan ini dipandu oleh Airtrafic Controller (ATC). Di Indonesia punya 2, Jakarta dan Ujung Pandang. Setiap ATC punya jangkauan jarak tertentu, sehingga bila pesawat hendak keluar dari wilayah ATC tersebut diharuskan menghubungi ATC yg akan bertanggung jawab terhadap wilayah yg dilewatinya.
Demikian ilustrasinya….. Lalu bagaimana dengan kapal laut?

Tanggapan 1 – R. Putra MS

Dear Milliser,

Untuk lalu lintas dilaut ada sedikit kesamaan dengan apa yang Pak Ros jelaskan cuma mungkin bedanya adalah.. jika kapal berada di laut lepas (free sea >200 nautical miles (nm)) (FYI pada laut bebas ini blom ada aturan dari IMO yang mengatur) kapal menentukan sendiri jalur yang digunakan dengan memperhatikan keadaan laut, cuaca, arus laut, radar, dan juga komunikasi dengan kapal lain..

Pada saat kapal akan sandar (<200nm dan pada 12 nm) ini yang banyak diatur.. jalur pelayaran diatur sesuai dengan draft (sarat kapal, disesuaikan dengan perariran yang dilewati) dan juga DWT (dead weight) kapal.. untuk kapal2 kecil biasanya diarahkan ke sub port (port pendukung, FYI sepertinya blom ada sub port ini) kemudian setalah bearda di 12nm kapal ini akan dikontrol dengan AIS (automatic Identification System)dari pihak yang berwenang (di Indonesia kalau gak salah di bawah Perhubungan Laut (HubLa)) melalui identifikasi satelit sehingga pergerakan kapal dapat di ketahui. kemudian ada yang namanya PSC (port state control) di Indonesia dikenal dengan syah bandar.. bertugas untuk memeriksa kelengkapan kapal yang berhubungan dengan regulasi IMO (international Maritime Organisation), Bendera negara (Flag State), dan sertifikasi kelas lainnya.. sehingga kapal tersebut boleh atau tidak sandar di port tersebut (tapi tidak semua kapal diperiksa berdasarkan kesepakatan sekitar 25% kapal sandar pertahun lebih gak papa, mengingat banyaknya kapal yang sandar) begitu kira2.. detail mungkin bisa di lihat di www.imo.org

Mungkin ada bapak2 yang lain yang bisa membantu menambahkan…

Tanggapan 2 – Rosmana Eko

Memang beda ya, soalnya kalau bicara pesawat terbang maka wilayahnya bisa dibilang 3 dimensi (ada vertikal dan horisontal), sedangkan untuk kapal laut hanya satu bidang saja (permukaan laut). Untuk pesawat, semua lalu lintas tidak ada yg namanya free area, semua terkontrol maka tidak heran ada cakupan yang tumpang tindih. Misalnya ATC Jakarta mampu mengontrol sampai medan, sedangkan ATC Singapura juga bias menjangkau medan. ATC ini juga mengontol lalu lintas pesawat berdasarkan kemampuan terbang pesawat, kondisi cuaca, dan tentu saja lintasan pesawat lain. Apalagi ketika mendarat, ATC Bandara menjadi penting, dan harus memandu pesawat untuk mendarat. Bila keadaan tidak memungkinkan pesawat harus di-divert ke bandara lain.

Dan sebelum melakukan perjalanan, sebuah pesawat diharuskan memberikan jadwal, rute yang rencana dilalui, dan persyaratan penting yg diperlukan oleh pihak authority negara yg bersangkutan. Sehingga bila persayaratan bila dipenuhi baru pesawat bisa mendarat….

Pertanyaan saya adalah: Bagaimana bila di laut lepas, ada dua kapal yg mempunyai satu lintasan? Bagaimana prosedur yg dijalankan sehingga kapal tersebut terhindar dari tabrakan?

Tanggapan 3 – R. Putra MS

Dear Pak Rosmana,

Pertanyaan saya adalah: Bagaimana bila di laut lepas, ada dua kapal yg mempunyai satu lintasan? Bagaimana prosedur yg dijalankan sehingga kapal tersebut terhindar dari tabrakan?

JWB:

di laut lepas menjadi tanggung jawab masing2 kapal untuk melakukan pemonitoran untuk kapal itu sendiri.. seperti saya bilang tadi bahwa di laut lepas kapal berhak menentukan jalur sendiri dengan memperhatikan peralatan navigasi, Radar, GPS, berita cuaca, arus laut, kebiasaan laut, dan banyak lagi data (biasanya nahkoda hapal dengan keadaan laut yang biasa mereka lalui) dan juga mungkin perbedaannya adalah di laut tidak seperti di udara dilaut memiliki waktu tempuh yang relatif lebih panjang dari pesawat sehingga kemungkinan tabrakan menjadi tinggi apabila tidak dibantu kontrol dari air port..

Oia tambahan sedikit pada saat kapal mau sandar sebenernya kapal masih boleh melakukan pemilihan sendiri.. tetapi untuk menghindari tabrakan tau juga kecelakaan tunggal (nabrak karang) biasanya kapal2 yang mempunya draft besar akan di pandu dengan pilot boat.. dan kemudian pada saat manuvering untuk sandar akan di bantu dengan tug boat.. demikian kira2..