Sebenarnya cukup mudah untuk mengetahui bagaimana ‘law’ dari pendistribusian dari dokumen standard atau code karena biasanya tercantum dihalaman2 depan dari standard atau code itu sendiri. Mengenai keinginan kita untuk berbagi pengalaman/pengetahuan dengan orang lain saya kira perlu didukung, tetapi tentunya dengan cara yang benar. Kalau sudah dicantumkan dihalaman standard/code agar : ‘No part of this work may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or otherwise, without prior written permission from the publisher.’, ya kita jangan maksa untuk tetap mendistribusikannya lewat jalur umum.

Tanya – budhimulia nasution

Pak Administrator, bagaimana ‘law’ sebenarnya bila kita ingin mengirimkan soft copy codes and standar dalam bentuk pdf misalnya, untuk disharing dengan teman-teman atau adik-adik untuk enlightment mengenai standar fabrikasi.
Sewaktu saya kuliah dulu (mechanical eng.) sangat tak lazim saya jumpai standar dunia construction dan fabrication. Tak tau mana yang salah, saya yang tak mencari atau pihak pendidikan yang juga tak familiar dgn hal seperti itu. Sepertinya susah sekali bertemu dgn buku2 berbau standar, padahal begitu bekerja (tentunya didunia konstruksi oil & gas) buku itulah yang tiap hari harus dibolak-balik. Saya merasa telat, kenapa tidak dari awal mengetahui ini. Tapi sepertinya pendidikan kita itu memang sangat mahal, tidak memudahkan, tidak untuk semua orang padahal kalau bangsa ini orangnya semua berilmu dan pintar2 (tentu juga akhlak yang baik), bukankah yang ‘berbahagia’ diri kita juga?. Produk kita laku dan dikenal dunia karena inovatif dan berkualitas, oil & gas kita bangun dan kembangkan sendiri, tak perlu tenaga asing (asing cukup untuk discuss saja, ), kemudian karena semua pintar, semua dapat kerja dan semua dapat makan, nggak ada kelaparan, kalau nggak bisa kerja di sini, kerja di
luar (seperti saya 🙂 ), kemudian juga kita tidak khawatir dgn anak cucu kita karena pendidikan sudah bagus dan terarah, sudah menjadi priority.
Untuk itu memang harus sudah dimulai, bgmana transfer ilmu semudah mungkin. Makanya saya menyambut positif milis ini, yang tendensinya untuk mencerdaskan bangsa. Dengan didalamnya orang2 yang tulus menyampaikan ilmu, sarana dan pengetahuan yang dimilikinya untuk kemajuan bangsanya.

Thanks atas tanggapannya.

Tanggapan 1 – rahmat ardiansyah

Masukan untuk para milis,

Saya setuju sekali dengan pemikiran Pak Budhi menyangkut masalah-masalah yang berkenaan dengan pemahaman standar fabrikasi dll bagi para pemula.

Yang saya pahami adalah bahwa seorang lulusan ‘fresh graduate’ tidak akan pernah mendapatkan ilmu yang berkenaan dengan Design, Materials, Construction, Fabrication dan Inspection kecuali melalui beberapa jalur seperti;

Kursus-kursus seperti; welding inspector, piping inspector dll.

Sebelum kuliah pernah berkerja pada sektor yang berkenaan dengan fabrikasi atau inspeksi

Penularan ilmu dari kerabat terdekat atau teman.

Nah, kebanyakan pekerja sektor migas atau fabrikasi lainnya mendapatkan ilmunya melalui kursus-kursus. Padahal menurut pengalaman kami hal demikian tidak mesti terjadi apabila kita mampu menghimpun sumber daya yang sudah jadi seperti teman-teman di Migas untuk menurunkan ilmunya melalui forum ini. Salah satu caranya yaitu mengirimkan standar-standar dalam bentuk Electronic File yang dilampiri penjelasannya menurut kemampuan masing-masing.

Seperti yang saya alami, saya bekerja difabrikasi ketel uap dengan menggunakan mayoritas standard DIN, PED, AD Markblatter, Technical Rules for Boiler (TRD). Saya sangat memahami karena saya sering sekali besentuhan dengan standar tersebut dan sering berhadapan dengan inspektur dari Negara Jerman (TUV, RWTUV). Saya juga mempunyai Hard Copy yang asli. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana teman-teman, khususnya yang lulusan baru dapat mendapatkan pengalaman yang saya miliki. Hal ini penting karena kebanyakan dari kita hanya berlomba-lomba memahami ASME dan turunannya. Padahal banyak fabrikasi di Indonesia yang memerlukan personil yang memahami DIN dan teman-temannya.

Sebagai ilustrasi, pernah saya berdiskusi dengan Welding Engineer tamatan dari lembaga kursus ‘X’ di Indonesia tidak memahami perbedaan Welding Supervisor dan Welder Supervisor. Hal ini bukan kesalahan si WE tetapi salah kita semua, karena kita biarkan seseorang bergelar EWE tapi lulusan Kursus yang mempelajari ASME.

Kembali ke masalah semula, bagaimana caranya kita sharing.

Tanggapan 2 -Irviantanto – Istech

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh bapak Rahmat Ardiansyah.Kebetulan juga saya adalah seorang yang banyak berkecimpung di bidang Cost Control dan Project Control (dimana back ground saya sebetulnya di Civil engineering).Pertama kali saya terjun di dunia ini,banyak hal-hal baru yang saya dapatkan.Bagi rekan-rekan di Milis ini,yang ingin berdiskusi dengan saya mengenai dunia Project Control dan Cost Control,pintu saya terbuka lebar-lebar via Japri juga bisa,karena bidang yang saya tekuni termasuk unik.Terima kasih.

Tanggapan 3 – Nugroho Wibisono

Pak Budhimulia,

Sebenarnya cukup mudah untuk mengetahui bagaimana ‘law’ dari pendistribusian dari dokumen standard atau code karena biasanya tercantum dihalaman2 depan dari standard atau code itu sendiri.

Mengenai keinginan kita untuk berbagi pengalaman/pengetahuan dengan orang lain saya kira perlu didukung, tetapi tentunya dengan cara yang benar. Kalau sudah dicantumkan dihalaman standard/code agar : ‘No part of this work may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or otherwise, without prior written permission from the publisher.’, ya kita jangan maksa untuk tetap mendistribusikannya lewat jalur umum.

Bukannya mau menggurui, tapi maksud baik ingin membantu orang lain, apadaya kita sendiri yang bakal kena penalti apabila diketahui menyebarkan dokumen yang tidak diperbolehkan untuk disebarkan seperti peringatan diatas.

Sebenarnya kalau mau menelisik lebih jauh, standar-standar tsb pada awalnya dilahirkan dari sisi teoritis dan kemudian dilakukan pengujian secara praktis, hasilnya dituangkan dengan kesepakatan bersama oleh anggota dari sebuah organisasi. Kalau dikuliahan juga membahas standard/code sampai mendetil, bisa-bisa ilmu dasar dari perkuliahan malah terlupakan. Justru ilmu yang dasar-dasar itu yang kita perlukan, mau digoyang kemanapun masih bisa kokoh berdiri. Kalau kata teman saya yang kerja di perusahaan minyak: ‘ngomongnya sudah canggih pake penerapan teknologi ini dan itu, tapi waktu ditanya tentang yang lebih dasar dan prinsip malah garuk-garuk kepala ga ngerti’. lha ini juga lucu tho..

Kesulitan memahami standar bisa terjadi karena mungkin belum biasa dengan format standard/code atau bisa juga bentuk bahasa standard/code yang kadang agak samar/dapat ditafsirkan lain.

Saya kira rekan-rekan di milis Migas akan sangat membantu dalam hal diskusi, jadi sepanjang tidak ada masalah yang didiskusikan, ya tidak ada bahan diskusi, dan juga tidak ada transfer ilmu. Begitu saya kira pak, maaf lho, saya juga masih ingusan juga… jadi tidak ada maksud menggurui… 🙂

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 4 – Andre Indrayana

Omong2 semoga teman2 di forum ini tidak sekedar bicara

Saya ada pertanyaan kecil : SEBERAPA BANYAK TEMAN-TEMAN YANG MENYIMPAN HASIL PENGALAMAN KERJA DAN KURSUS DALAM ELECTRONIC ?

APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN Saya baru bekerja selama 8 tahun di 8 perusahaan oil & gas. Saya sudah mengumpulkan lebih dari 300 buku soft file + oil and gas spec mulai dari ASTM sampai NEMA, NFPA, IMCA. Saya juga mengumpulkan semua materi kursus di Oil and Gas… cukup banyak.’ Semua data buku sedikit demi sedikit saya pindahkan ke e-file. Foto2 project dan lain2. Total data yang saya kumpulkan adalah 40 GB. Itulah karya saya…….

Saya berani taruhan bahwa kita semua lema dalam pengolahan data referensi. Banyak teman2 semua buku2 bertumpuk di gudang dimakan semut + rayap. Yah… begitulah kira2 data OIL & GAS kita selama 30 tahun.

Semoga tegoran ini bermanfaat.

Tanggapan 5 – Darmayadi

Sdr, Andre….

Kira-kira hasil kerja anda bisa saya manfaatkan nggak ?

Maklum saya termasuk di dalam kumpulan orang-orang yang selama ini lalai dalam hal file mem file.

Tanggapan 6 – rahmat ardiansyah

Buat Pak Andre,

Banyak sekali Pak!, tapi bagaimana caranya Bapak memindahkan buku menjadi file elektronik?. Lha, bukankah sudah tersedia soft copy untuk semua codes atau standards.
Perusahaan saya sudah berdiri sejak tahun 1924 dan kami punya dokumen yang masih tersimpan dengan baik. Terutama foto-foto perkembangan industri sawit. Ayo siapa yang mau memanfaatkannya?