Bagaimana proses / aturan mengenai sertifikasi ( Pembuatan dan Pemakaian) untuk pressure vessel yang merupakan barang import sedangkan kita tidak ikut serta (witness) saat test berlangsung ( mis. Hydro test). Kita hanya menerima Manufacturer Data Report dari Vendor . Apakah harus dilakukan test/uji lagi di wilayah hukum di Indonesia meskipun di ‘sana’ sudah dilakukan test?

Tanya – Ashari

Yth. Rekan Rekan Migas

Maaf kalau saya mengulangi lagi permasalah Certifikasi Pressure Vessel, karena saat itu tidak dapat mengikuti semuanya.
Beberapa hal mohon pencerahannya dari Rekan Migas :

1. Bagaimana proses / aturan mengenai sertifikasi ( Pembuatan dan Pemakaian) untuk pressure vessel yang merupakan barang import sedangkan kita tidak ikut serta (witness) saat test berlangsung ( mis. Hydro test). Kita hanya menerima Manufacturer Data Report dari Vendor . Apakah harus dilakukan test/uji lagi di wilayah hukum di Indonesia meskipun di ‘sana’ sudah dilakukan test?

2. Ada sumber informasi yang mengatakan bahwa untuk bejana/pressure vessel yang berusia lebih dari 35 tahun harus dilakukan Hydrotest ulang dan dilakukan uji kekuatan (uji setengah umur/mid life test). Mungkin ada Rekan Migas yang lebih tahu bagaimana aturan tsb.

Demikian terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

Tanggapan 1 – Ramzy SA

Saya coba jawab

1.Menurut Peraturan MIGAS, sebelum kita menunjuk PJIT, user harus lapor ke MIGAS perihal rencana akan adanya sertifikasi peralatan sambil bilang rencana PJITnya, trus nanti all parties diminta presentasi dan sekalian mengisi ITP (inspection test plan). Nah kalau udah ya kerja aja berdasaarkan ITP

2. Engga ada peraturan MIGAS yang bilang gitu, adanya di UU tahun 30 untuk Boiler, namanya pemeriksaaan bahan. Tapi dengan teknologi masa kini bias disubsitusi koq

Tanggapan 2 – darmansyah

Pak Ashari,

Sepengetahuan saya memang harus dilakukan re-test tank walaupun tank tersebut telah memiliki Report Sertificate dari manufacture. Tetapi untuk lebih meyakinkan user sebelum digunakan sebaiknya dilakukan hydrostatic test dan harus di-witness oleh depnaker, user, serta kontractor.Juga ada aturan dari Depnaker bahwa setiap bejana tekan harus dilakukan hydrostatic test sebelum dipakai. Dan harus ada pemeriksaan berkala, kalo gak salah setiap 5 tahun harus dilakukan re-test tank.

Mungkin ada rekan migas yg lain yg lebih berpengalaman, mohon infonya.
Thanks….

Tanggapan 3 – Gathot

Pak Ashari,

Kalau saya boleh menanggapi permasalah sertifikasi bejana tekan ini dan mohon penjelasan tambahan dari rekan lain yang dirasa perlu atau salah. Kebetulan perusahaan saya bekerja adalah Jasa Inspeksi Teknis yang melakukan inspeksi dan sertifikasi untuk Migas.

1. Pelaksanaan teknis pengujian bejana tekan berdasar Keputusan DiJen No. 84.K/38/DJM/1998 disebut bahwa bejana tekan yang tekanan desain melebihi ½ atm atau kurang 1 atm absolut harus disertifikasi. Jika ada bejana tekan yang difabrikasi di luar negeri sebenarnya dengan memiliki MDR dari vendor sudah cukup. Tetapi Migas akan menanyakan tentang proses pengujian dan data pendukungnya. Hal ini bisa dicari jalan tengahnya dengan melakukan pengujian tekan lagi di lapangan. Kalau bejana tekannya berukuran kecil hal ini tidak menjadi masalah, tetapi kalau berukuran besar akan mejadi problem tersendiri selain karena space-nya akan terbatas juga membahayakan peralatan lain. Sebaiknya sebelum purchase bejana tekan yang costumize atau mass product, dipersyaratkan vendor terlibat dalam sertifikasi Migas.

2. Untuk bejana tekan diatas 35 tahun apakah perlu diuji tekan lagi.Tidak ada sumber yang menyatakan hal itu. Menurut API 510 tidak ada data, pindah lokasi, dll bisa diuji tekan dengan mengacu pada opsi pemilik (spec, prosedur, dll) atau NBIC 23 (kalau gak salah) bejana tekan yang telah mengalami repair (bukan repair rutin), alterasi atau modifikasi harus diuji tekan sesuai dengan standard waktu desain dan harus sesaui opsi pemilik.

Demikian sedikit sharing, mohon maaf kalau ada yang salah atau kurang. Silakan jadi bahan diskusi.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: