Sebagai orang yang selalu menggunakan scaffolding dalam pekerjaan, ada beberapa kritikan terhadap inspektor scaffolding: – Pemeriksaan dilakukan setelah scaffolding selesai secara keseluruhan. Nah, untuk scaffolding yang perlu dibangun dengan ketinggian tertentu menurut saya ini tidak tepat dikarenakan sesungguhnya scaffolding itu sendiri sudah ‘digunakan’ untuk melanjutkan bagian scaffolding lanjutannya; – Inspektor seringkali tidak menanyakan bagaimana scaffolding ini nantinya digunakan, perihal beban apa nanti yang akan diterima oleh scaffolding, juga aktifitas yang akan dilakukan di atasnya.

Tanya – Riksha Lenggana, Mr.

Dear All,

saya barusan mendapat berita dari rekan di milis tetangga, kalo tadi siang sebelum jum’atan ada accident di RAPP.

Yaitu robohnya pemasangan Scaffolding 40 meter dari 80 meter yang rencananya di pasang & jatuh menimpa +/- 30 rekan pekerja.

Ada yang bisa share berita lengkapnya ?

Mungkin ada info dari rekan-rekan yg kerja di sana, monggo di tambahkan atau dikoreksi kalo salah.

Tanggapan 1 – Elien [QHSE-DCP/SBY]

Dear rekan-rekan milis migas,

Mohon bantuannya untuk share juga infonya ke kami, karena kami bergerak di bidang steel fabricator. Terimakasih.

Tanggapan 2 – fiqih agus tisal

Humas RAPP: Bukan Cerobong Asap yang Runtuh, Tapi Tangga Penyanggah Tangga Penyanggah untuk membersihkan cerobong asap pabrik kertas PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) di Pangkalan Kerinci, Kab Pelalawan, Riau runtuh. Saat itu ada 20 pekerja yang sekaligus jatuh bersama saat membersihkan cerobong. 1 orang tewas terjepit reruntuhan tangga besi.

Pembersihan cerobong itu dilakukan kontraktor PT Truba. Saat tengah-tengah, tiba-tiba tangga itu roboh dan menimpa pekerja. Mereka adalah karyawan dari perusahaan kontraktor tersebut,’ ujar salah seorang Humas PT RAPP, Trisia kepada detikcom, Jumat (24/9/2010).

Trisia menceritakan, peristiwa naas ini terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Tangga penyanggah yang dipakai untuk membersihkan cerobong panjangnya sekitar 30 meter.

Kapolres Pelalawan, AKBP Ari Rahman memastikan satu orang pekerja meninggal tewas karena terjepit reruntuhan tangga besi. Korban belum bisa dievakuasi karena posisinya masih terjepit di tangga.

Korban luka sudah dirawat, 3 orang di RS Eperina di Pangkalan Kerinci, selebihnya di klinik RAPP, kata Ari Rahman.

Hingga saat ini jumlah korban yang mengalami luka-luka belum diketahui jumlah pastinya. Namun beredar kabar jika ada sekitar 19 orang pekerja yang mengalami luka.

Tanggapan 3 – tia kaligis

Dear rekan-rekan milis migas

Mohon info detalis sebab akibat accident tersebut. Kami distributor scaffolding bisa menjadi pelajaran bagi kami lebih teliti untuk aplikasi dan kekuatan materialnya.. Terima kasih.

Tanggapan 4 – Alvin Alfiyansyah

Dear Migaser dan Mbak Tia,

Awal membaca runutan email ini yang awal agak bingung karena yg dibicarakan adalah perancah atau tiang dalam struktur bangunan ? Ternyata perancah, Setuju dengan Mbak Tia, dari perspektif HSE kasus ini cukup menarik utk dipelajari khususnya jika kita hendak melakukan TA atau ada pekerjaan confined space dan working at height seperti ini. Saya tidak tahu material perancahnya apakah frame atau tubular tetapi pengontrolan aktifitas pekerjaan sangat penting disini.

Saya khawatir tumpuan perancahnya atau bebannya tidak sesuai distribusi yang diharapkan berkaitan struktur dalam dari cerobongnya. Atau jangan2 inspeksi tidak secara ketat dilakukan secara periodik, bisa daily, 3 hari sekali tergantung risk dan pekerjaannya. Atau chemical di dalam cerobong sangat korosif dan material perancahnya sudah banyak yang rusak.

Atau jangan2 karyawan banyak bekerja di satu sisi saja dan tidak dikontrol dan akibatnya perancahnya bisa rubuh, atau saat istirahat karyawan juga tetap berada dalam cerobong dan membebani satu sisi perancah…wah banyak dugaan yg bisa digelontorkan sambil menginterview para korban, supervisor dan pengelola pabrik RAPP dimana kekurangan dari system ingin dicari bukan semata hanya mencari penyebab kelalaian dan kecelakaan dimana akan ada orang yang dihukum sementara kesalahan system tidak terlacak dan kemungkinan incident bisa terjadi di tempat lain.
Semoga ada follow up informasinya setelah artikel koran ini. CMIIW.

Tanggapan 5 – made.sudarta1964

Dalam situasi dan kondisi seperti ini dimana kecelakaan yg terjadi menimbulkan korban dan meninggal maka secara otomatis pihak kepolisian akan masuk ke TKP untuk mencari siapa yg salah dan kemudian dijadikan tersangka, itu memang tugas mereka. Nah kalau kita lihat dari aspek K3 tentu akan melakukan pendekatan yg berbeda yaitu kenapa kecelakaan dapat terjadi. Seperti uraian dibawah bahwa penyebab dari suatu peristiwa kecelakaan adalah multi faktor kita tidak bisa bertindak seperti pihak kepolisian yg langsung menentukan tersangkanya bukan penyebabnya, jadi investigasi yg tuntas dan tepat sangat diharapkan untuk proses pembelajaran buat kita semua.

Tanggapan 6 – agustia_xgis

Pak Alvin,

Saya sangat prihatin dengan accident ini semoga scaffolder yang terluka segera pulih dan tidak trauma. Serta yang meninggal kami turut berduka cita.

Kembali pak untuk permasalahan perancah. Bisa juga disebabkan kurang faham dan mengertinya applikasi fitting serta pipa dilapangan. Pernah kami dilapangan menjumpai overlap dalam penyambungan pipa secara vertikal dan kesalahan dalam penyebaran beban pada standard harusnya diteruskan secara konsentrik dari standard dan diteruskan ke dasar.Ada yang tidak menggunakan base plate sedangkan itu fungsi untuk mengdistribusikan ke ground/tanah. ditambah kurang faham standarisasi dalam material scaffolding,Dll… Mohon menjadi peringatan serta menambahan ilmu bagi kita semua.

Tanggapan 7 – ANSHORI_BUDIONO

AAL,

30 orang bekerja di atas perancah yang dipasang di dalam cerobong asap. Root cause nya management dan pekerja tidak ‘aware’ dgn keselamatan.

Tanggapan 8 – Dirman Artib

Kalau memang terbukti ‘Root Cause’ nya adalah Management tidak aware dengan keselamatan pekerja, maka Direktur harus dimasukkan ke penjara. Akibat kelalaiannya, mengakibatkan orang lain cedera atau mati, lupa tulisan hukum bahasa Belanda nya, kira-kira berbunyi ‘andrech ma ti ged ach’, silahkan dikoreksi oleh kawan-kawan yang ahli hukum.

Tanggapan 9 – ANSHORI_BUDIONO

Hehehe.. Pak D’Art. Maksud saya, the root cause of the root cause is awareness isn’t it? Tapi ya tidak boleh jump to conclusion bahwa Level direksi terikutkan utk masalah awareness ini. Lihat ajalah, setiap masuk ke sebuah kantor, hampir semua memajang dengan bingkai surat sakti bertuliskan… ‘We are bla bla.. Commited to quality and HSE.’ Itu berarti, direksi telah memainkan peranannya sebagai pemberi kebijakan utk kepedulian terhadap masalah HSE. Beda halnya kalau ternyata ada bukti bukti kuat dan tertulis yang tidak sejalan dengan kebikjakan yang telah dibuat itu yang melibatkan direksi, misalnya direksi tidak menyetujui anggaran untuk keselamatan kerja yang diajukan, atau memangkas anggaran untuk keselamatan kerja demi mengharapkan keuntungan berlipat sehingga peralatan keselamatan kerja yang digunakan kemudian menjadi tidak standar.

Tanggapan 10 – Ahmad Solikhin

Salam migas,

saya bukan orang HSE, hanya kebetulan pernah sedikit terlibat dalam perencanaan pemasangan pemasangan refractory di sebuah cerobong asap setinggi 65m…

Mungkin di RAPP cerobong asap yg dimaksud adalah stack boiler dari pembangkit di dalam pabrik. Kalau ada orang RAPP harap diconfirm… Waktu itu, kami minta masukan dari sub con bagaimana cara memasang refractory, akhirnya diputuskan kita memakai gondola, karena untuk memakai scaffolding tidak dimungkinkan mengingat ketinggiannya dan ruang cerobong yg sempit.

Tanggapan 11 – Hari Subono

Dear All,

Saya sebagai orang yang selalu menggunakan scaffolding dalam pekerjaan saya – saya ada beberapa kritikan terhadap inspektor scaffolding:

– Pemeriksaan dilakukan setelah scaffolding selesai secara keseluruhan. Nah, untuk scaffolding yang perlu dibangun dengan ketinggian tertentu menurut saya ini tidak tepat dikarenakan sesungguhnya scaffolding itu sendiri sudah ‘digunakan’ untuk melanjutkan bagian scaffolding lanjutannya.
Seperti yang saya baca – kejadian di RAPP ini terjadi ketika scaffolding sedang di-ereksi/ ditegakkan (mohon ralat bila saya salah).

– Inspektor seringkali tidak menanyakan bagaimana scaffolding ini nantinya digunakan, perihal beban apa nanti yang akan diterima oleh scaffolding, juga aktifitas yang akan dilakukan di atasnya.

Saya juga menyarankan bagi para penanggung jawab dari pihak yang akan menggunakan scaffolding itu nantinya – agar melakukan pemeriksaan dan minta penguatan/ penambahan bila dianggap perlu.

INGAT; yang memakai itu nantinya adalah orang-orang Anda – yang mana keselamatan mereka menjadi tanggung-jawab Anda.

Ma’af bila ada sebagian teman-teman yang merasa tersinggung, saya hanya ingin menyampaikan saran agar kualitas keselamatan dapat lebih ditingkatkan.

Tanggapan 12 – Riza si Ija

menambahkan pak (newbie)..

summary nya itu berarti : accident spt ini bisa terjadi karena multi faktor..

Apa sudah ada pihak RAPP yg investigasi kecelakaan ini? karena memang sumber terkuat utk kecelakaan ini, dr pihak korban.. dari situ kita bisa mengetahui root causenya (mhn koreksi)…

ada hal penting yg saya lihat disini (karena informasinya msh minim)…

1. hal yg menguatkan/pemeriksaan awal, sebaiknya owner lebih memperhatikan PTW (permitt to work) nya yah pak.. bagaimana level of risk dr pekerjaan subcon (risk assessment jg). dr situ pihak RAPP bisa follow up preventionnya agar kecelakaan bisa di minimalisir bahkan dihilangkan…

2. bagaimana pekerja itu melakukan SOP nya, dgn prosedur working at height, apakah pekerja tsb menggunakan PPE seperti safety helmet, harness nya dipakai atau tidak, safety shoes nya layak atau tidak…

3. lalu bagaimana supervisor pihak RAPP ketika subcon tsb bekerja dgn risiko spt itu. jika supervisornya tidak begitu memperhatikan pekerjaan subconnya, bisa tjd fatal accident yg spt ini…

4. terakhir yg ingin saya tanyakan kepada senior2, apakah scaffold yg sudah lama usianya, bisa mempengaruhi beban (maximum capacity)nya? bisa jadi juga, dgn scaffold yg usianya sudah lama/uzur bisa mempengaruhi kecelakaan tsb…

poinnya, Pihak RAPP dan subcon (yg melakukan pekerjaan tsb), harus lebih aware thp safety nya…

mohon koreksi

Tanggapan 13 – Alvin Alfiyansyah

Mas Riza,

Sebagai inspector, secara fisik dan visual harus memeriksa materialnya dari join sampai ledger dan trisomnya dan semua peralatan pendukung perancah ini. Jadi inspector wajib mereject peralatan perancah saat pemeriksaan material perancah tersebut. Yg jelas dugaan distribusi beban tidak merata, erection peraancah yg tidak memperhitungkan posisi dan jumlah pekerja serta lack of supervisory (dari pihak kontraktor maupun owner dari pekerjaan ) in the job mungkin bisa jadi berbagai cause yg mesti dibenahi.

Komen Pak Hari ada benarnya, tinggi perancah 18-20 m berarti mungkin memerlukan 6-10 bay dimana apakah setiap bay telah diinspeksi saat erection perancah dilakukan dan kenapa bisa banyak orang kalo saat kejadian terjadi masih dalam tahap erection bukan saat pekerjaan sudah dimulai. CMIIW. But anyway semoga ada lanjutan ceritanya agar pembelajaran dapat kita dapatkan kemudian.

Tanggapan 14 – janjonswan hutasoit

Ikut nimbrung mengenai kecelakaan ini,

Turut berduka cita dan mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini, Managemen perusahaan semakin peduli terhadap keselamatan kerja dan kesehatan karyawan.

Kalau pihak kepolisian sudah masuk ke area perusahaan harus didampingi oleh petugas HSE perusahaan tersebut karena ada perbedaan yang mendasar pada saat investigasi dimana kalau kepolisian pasti mencari siapa yang salah sedangkan HSE dominan mencari penyebap permasalahan bukan mencari siapa yang salah.

Menurut pandangan saya bahwa kecelakaan ini secara general kemungkinan disebabkan oleh 2 hal, yaitu:

1. 1. Kelemahan sistem HSE, misalnya:

tidak ada kebijakan HSE dari TOP managemen, tidak ada/lemahnya peraturan HSE, tidak ada/kurang pelatihan karyawan tentang HSE, tidak ada prosedur kerja atau ada prosedur tapi pekerja tidak mengerti

2. 2. Sistem HSE sudah ada tapi lemah dalam implementasi, misalnya:

Kebijakan dan peraturan HSE kurang dipublikasikan

Training safety tidak dilakukan

Lemahnya pengawasan Pekerjaan

Permit to work dan Pre start job meeting untuk pekerjaan untuk kategori high risk tidak dilakukan

Menurut pengalaman saya kecelakaan di perusahaan secara langsung disebapkan oleh 2 hal yaitu:

– Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dimana managemen harus dilibatkan karena berhubungan dengan design dan cost.

– Tingkah laku yang tidak aman (Unsafe Action) dimana ini langsung ke personal, HSE sistem yang berperan seperti training, prosedur2, PPE dan punishment

Untuk preventive action agar tidak terulang lagi mungkin Hirarki Managemen Resiko (Eliminate, Subtitude, Engineering Control dan design, Administratif Control dan PPE) perlu diimplementasikan.

Berbicara masalah hukuman kepada pengurus atau pengusaha yang tidak peduli/lalai terhadap keselamatan karyawannya, menurut pandangan saya hukum kita masih terlalu lemah karena:

(UU no. 1 tahun 1970 Pasal 15 ayat 2 menyatakan):

(2) Peraturan perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

(Saya belum tahu kalau pasal ini sudah direvisi)

Saya yakin teman teman HSE di dua perusahaan sudah banyak berbuat dan semoga dengan kejadian ini tidak menjadi patah semangat. Maju terus melakukan tugas yang mulia menyelamatkan manusia, property dan lingkungan.

Tanggapan 15 – ANSHORI_BUDIONO

Kalau memang terjadi pelanggaran peraturan yang menyebabkan kematian bisa kena pasal berlapis, Pak.

Hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah), itu atas Pidana atas pelanggaran peraturannya berdasarkan UU no. 1 tahun 1970.

Karena ada yang meninggal, bisa juga dituntut dengan pasal KUHP ttg menghilangkan nyawa manusia.

Meski kemudian Perusahaan dan pihak keluarga yang meninggal tsb berdamai, dua dua nya delik pidana yang mana polisi tetap wajib mengusut dan menyidik kasus ini. Demikian juga jaksa, kalau berkas sudah diterima kejaksaan.

Kalau memang kasus ini ada kelalaian Perusahaan, tampaknya perdamaian tidak hanya harus dilakukan Perusahaan dengan pihak keluarga, tapi juga dengan polisi dan jaksa.

Perdamaian itu indah.