Mana yang lebih menguntungkan kena PHK atau resign ? Sering kali kita enggan keluar dari perusahaan karena sayang uang pesangonnya hilang. Namun disisi lain terkena PHK dapat terkesan buruk karena seolah-olah dianggap perforemancenya buruk (sehingga di PHK). Walaupun bisa saja PHK terjadi atasu Mutual Agreement Termination (MAT), dimana putusnya hubungan kepegawaian karena kesepakatan kedua pihak. Kalau kondisi perusahaan ‘menghawatirkan’, Apakah kita mesti menunggu sampai di PHK atau resign hanya kalau sudah dapat kerjaan baru ?

Tanya – Rovicky Dwi Putrohari

Mana yang lebih menguntungkan kena PHK atau resign ?

Sering kali kita enggan keluar dari perusahaan karena sayang uang pesangonnya hilang. Namun disisi lain terkena PHK dapat terkesan buruk karena seolah-olah dianggap perforemancenya buruk (sehingga di PHK). Walaupun bisa saja PHK terjadi atasu Mutual Agreement Termination (MAT), dimana putusnya hubungan kepegawaian karena kesepakatan kedua pihak.

Saya belum pernah mengalami PHK, cenderung memutuskan resign. Namun memang kalau dilihat uang pesangonnya sayang juga sih 🙂

Kalau kondisi perusahaan ‘menghawatirkan’, Apakah kita mesti menunggu sampai di PHK atau resign hanya kalau sudah dapat kerjaan baru ?

Tanggapan 1 – defnil

Dikarenakan UU Ketenagakerjaan Indonesia, dari sisi finasial lebih menguntungkan kalau kita di PHK. Tapi umunya nggak nyaman dari sisi perasaan/pride/profesionalisme.

Daripada ‘makan hati’ menghadapi situasi kerja atau atasan, kurang dari sisi finasial kalau resign, tapi lebih nyaman dari sisi perasaan/pride/profesionalisme.

Saya berpendapat bahwa :

– alam diciptakan dalam kondisi kesetimbangan.

– apa yang memang bukan hak kita, walaupun kita tahan dengan berbagai cara, akan tetap keluar juga dengan cara lain. dan apa yang memang sudah diperuntukkan bagi kita, walaupun dihalang-halangi, dengan cara lain akan tetap sampai juga ke kita.

– misi kehadiran kita di muka bumi ini untuk melayani. tempat yang paling ideal buat kita adalah tempat dimana kita dibutuhkan..

Tanggapan 2 – Chandra@yahoo

Rasanya faktor tempat kerja juga perlu dimasukkan ke risk tersebut. Di singapore, hanya employees di atas 3 thn yg dpt retrenchment benrfits berdasarkan Employment Act, itupun based on mutual agreement and company financial status. Kalo company is at risk of bancrupcy and tidak ada duit byr pesangon, rasanya employee mkgn lebih baik cabut duluan.

Tanggapan 3 – Rovicky Dwi Putrohari

Saya dulu pernah ditawari untuk mengambil MAT, ketika perusahaan akan ‘dijual’. Tetapi saat itu tidak punya keberanian. Hmmm gamang juga. Padahal jelas akan dikasi pesangon.
Tapi malah akhirnya resign tanpa pesangon hanya mengejar cita-cita oportuniti di lain tempat. Sampai akhirnya nikmat banget (ga punya rasa takut) kalau resign 🙂

Memang bener pesangon itu angkanya menggiurkan. Tapi aku sendiri (ternyata) lebih mengejar oportunity ketimbang sekedar pesangon yang menggiurkan itu.
Oportunity memang memang akan selalu datang, tetapi oportunity terbaik tidak selalu tepat dapat diambil. Konon katanya mirip menunggu bis lewat. Ketika kita naik ternyata busnya penuh, atau malah kosong dua bus berikutnya yg lengang. Kita tidak pernah tahu pasti.

Tanggapan 4 – eko prasatiyo

Kalau menurut pendapat saya, tidak ada orang yg mau diPHK atau resign tanpa sebelum mendapat kepastian pekerjaan ditempat lain. Kadang kita bingung juga jika tiba2 seminggu sebelumnya dapat surat PHK tetapi belum ada tawaran dari tempat lain. Tetapi kadang kita berharap diPHK karena lamaran kita yg diperusahaan B diterima,meskipun kita msh bekerja diperusahaan A.

Tetapi intinya, apa ada perusahaan yang mau ‘merekayasa’ PHK kita kalau kita diterima kerja ditempat lain?

Menurut saya PHK merupakan expense dan lebih mahal daripada kmenunggu karyawan yg bersangkutan resign.

Tanggapan 5 – Eric Sidniyanto

Case by case ada perusahaan dan kondisi yg bisa dikompromikan seperti itu, Pak. Jadi sifatnya win-win solution.

Pernah ada kawan saya yang akan diPHK bersama 1 org lagi, tapi krn temannya sudah duluan dpt pekerjaan jadinya dia duluan yg kena.

Tapi memang relatif sekali dan tergantung kebijakan HRDnya, approach Department Managernya ke Management, dll.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: