Kami sedang mengahadapi permasalahan sensor O2 analyzer yang selalu mengalami kerusakan,dalam 3 tahun telah merusakan 3 buah sensor. Sebetulnya life time sensor ini 5 sampai 10 tahun. Dugaan sementara ada gas yang terlalu besar jumlah ppm-nya yang bisa memperpendek usia sensor.

Tanya – M. Muslikh

Bapak-bapak/ibu-ibu yth,

Sebelumnya kami memperkenalkan diri :

Nama A Muslikh,karyawan PT Polypet yang bergerak dalam bidang produksi PET (polyethylene terephthalate ) resin,salah satu tugas sehari merawat gas O2 analyzer yang terpasang pada sistem NPU (Nitrogen Purification Unit ).

Kami sedang mengahadapi permasalahan sensor O2 analyzer yang selalu mengalami kerusakan,dalam 3 tahun telah merusakan 3 buah sensor.Yang sebetulnya life time sensor ini 5 sampai 10 tahun.Dugaan sementara ada gas yang terlalu besar jumlah ppm-nya yang bisa memperpendek usia sensor. Untuk itu kami mohon bantuan rekan-rekan di Milist Migas Indonesia.

Informasi penyewakan Gas Chromatograph beserta technical assistance yang sedianya untuk menganalisa sampling pada tapping point O2 analyzer tsb. Untuk mengetahui root cause dari permasalahan kami di atas.
Sebelum dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Waskita Indrasutanta

Seperti layaknya yang terjadi pada hampir semua analytical instrument, bahwa memang analytical instruments lebih memerlukan maintenance period yang lebih sering. Untuk O2 analyzer penggantian sensor 3X dalam 3 tahun menurut pendapat saya masih termasuk dalam batas wajar. Manufacturer meng-claim life time umumnya adalah pada kondisi ideal, atau tidak ter-expose bahan contaminant. Jadi kita juga tidak bisa mempunyai stock sensor terlalu Banyak dalam inventory kita. Tempat penyimpanan juga harus bersih dari gas contaminant.

Perhatikan bahwa sensor yang disimpan di gudang-pun juga mempunyai shelf life time yang terhitung sejak tanggal produksi. Tergantung jenis sensornya, tetapi umumnya sensor akan ter-deteorisasi karena exposure terhadap asam (acid). Apabila gas mengandung belerang (S2) yang tinggi, pada temperature yang tinggi akan berubah menjadi SO2 dan SO3 yang akan bereaksi dengan kandungan air (H2O) menjadi H2SO3 dan H2SO4 dan akan merusak sensor. Sering pula belerang menjadi deposit yang menutupi sensor (in-situ) atau sample handling system. Untuk pastinya lihat manual dari O2 analyzer zat contaminant apa yang merusak sensor.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – Bambang_HW

Sebagai tambahan info :

Kalau benar untuk menganalisa O2 dalam NPU tersebut type Gas Chromatograph ( meskipun sebenarnya menurut estimasi saya akan lebih efektif jika menggunaan standart O2 Analyzer, seperti product Ametek, ABB, atau Yokogawa, dll) tentunya untuk GC ini banyak factor yg harus diperhatikan dalam maintenance, al :

1. Apakah type sensor pada GC tersebut: TCD (Thermal conductivity Detector atau FID ( Flame Ionization Detector), tapi mengingat proses yg dianalisa cukup simple kemungkinan besar cukup TCD type.

2. Pastikan bahwa kondisi fluida yang dianalisa benar-2 dalam fase GAS, dan tidak mengandung liquid. Biasanya GC dilengkapi dengan ‘Sampling system’ untuk mengkondisikan ‘process sample’. Jika sampai sample liquid lolos hingga ke kolom analysis, bisa menyebabkan kebuntuan.

3. Pada GC pasti akan selalu ada ‘Carrier Gas’ bisa berupa He atau H2, untuk itu jangan sampai terjadi ‘Carrier Gas’ habis, sedangkan GC masih dalam keadaan running, hal ini akan menyebabkan sensor TCD rusak atau Coulumn analysis buntu.

4. Jika suatu saat GC tersebut akan di’OFF’kan, harus ikuti procedure dan step-step yg tentunya dikeluarkan oleh Vendor yg bersangkutan atau sebaliknya pada saat start ‘Running’ pun harus mengikuti tahapan yg benar, mengingat pada GC biasanya diperlukan ‘Heating up’ dengan waktu tertentu.