Underwater welding, ada yang disebut dry welding dan wet welding. Dry welding, pakai hiperbaric chamber, dipakai untuk better quality welding, welding perlu post hot treatment, atau lautnya terlalu dalam (high pressure), biasanya pakai metode GTAW. Wet welding, welder dive di laut terbuka, cuma buat minor works, nambal kapal bocor, masang katodik protection, salvage operation. Biasanya pakai metode SMAW dengan waterproof electrodes. Peralatan yang dipakai beda di darat/ marine use/ anti shock system…. walaupun pada prinsipnya sama.

Tanya – Nur Kumeidi

Dear Milister

Mohon pencerahan tentang pengelasan bawah air, baik dari segi elektrodenya maupun mesin lasnya. Apakah harus menggunakan spesifikasi khusus atau bisa dengan perlengkapan/peralatan onshore.

Tanggapan 1 – Sea6diveR

Underwater welding, ada yg disebut dry welding dan wet welding.

Dry welding, pakai hiperbaric chamber, dipakai untuk better quality welding, welding perlu post hot treatment, atau lautnya terlalu dalam (high pressure), biasanya pakai metode GTAW.

Wet welding, welder dive di laut terbuka, cuma buat minor works, nambal kapal bocor, masang katodik protection, salvage operation. Biasanya pakai metode SMAW dengan waterproof electrodes.

Peralatan yang dipakai beda di darat/ marine use/ anti shock system…. walaupun pada prinsipnya sama.

Resiko terbesar welder underwater adalah kesetrum, potensi decompression sickness lebih besar dari pada diver biasa, dan kerusakan fungsi organ tubuh karena pengaruh gas dan tekanan… makanya ratenya gedeee bgt… mau coba?

Semoga menghibur.

Tanggapan 2 – Deny Nugraha

Dry under water welding dg custom made habitat:

http://www.neptunems.com/services/nepsys/overview.aspx

Tanggapan 3 – Nur Kumeidi

Belum pengen mencoba pak Putu. Ilmu belum sampai…hehehe…

Kemarin saya melihat untuk pengelasan bawah air saat pemasangan catodic protection pada sheetpile. Welder menggunakan peralatan seperti di darat namun menggunakan electric tape. Demikian juga dengan kawat menggunakan jenis AWS 6013 dengan pembungkus electric tape juga. Saya tanya kepada weldernya dia selalu mengunakan kawat las seperti itu untuk pengelasan catodic bawah air. Apakah hal itu dibenarkan? Apakah secara kekuatan pengelasan dapat dipertanggung jawabkan? (tidak menggunakan WPS/ PQR).

Tanggapan 4 – bpriandoko

Barangkali kami menambah pertanyaan, apakah welding under water di indonesia teknologinya sdh menggunakan robot, kalo ya di k3snya mana? Tks

Tanggapan 5 – Sea6diveR

Cak Nur,

Beberapa tahun lalu, saya masih lihat diver untuk salvage operation pakai kompressor untuk tambal ban buat suplai udara, plus dalemnya tabung dicemplungin pengharum ruangan biar udaranya jadi seger aroma jeruk… Padahal kalo kompressor buat diving beneran, pelumasnya aja pake minyak nabati.
Intinya safety bagi sebagian rekan-rekan kita, walaupun kulitnya proyek migas… masih jauh dari memadai. Kalaupun tidak dibenarkan, tapi kalo harga proyeknya kecil???

Sama kayak analogi… Numpak becak njaluk slamet Cak…

Underwater welding pakai robot kayaknya dah pernah denger deh… Star apa COPI gitu… lupa. Tapi kalo hiperbarik dah banyak, tapi muahaal banget, day rate DSV nya setara ama sewa tanker. Dan setahu saya belum ada yang berbendera merah putih.

Tanggapan 6 – Nur Kumeidi

Hehe….begitulah keadaan masyarakat kita cak Putu. Mengesampingkan kesehatan dan keselamatan demi sesuap nasi. Banyak juga saya termui di sekitar galangan kapal para pencari potongan2 scrap yang nyilem pake kompresor tambal ban..

Yang lebih saya ingin tanyakan sebenarnya tentang mekasinme pengelasan dan hasil dari pengelasan tersebut. Monggo bagi yang sering melakukan pengelasan bawah air untuk sharing2…

Tanggapan 7 – heri setiawan

Sedikit menambahkan.

Bagaimana seharusnya hasil kualitas pengelasan wet underwater welding dievaluasi, ada diatur dalam international standard salah satu nya- “AWS D3.6 Specification for underwater wet welding”. Ini mungkin bisa digunakan sebagai acuan. Didalamnya dijelaskan ada 3 class kualitas utk pengelasan bawah air-katagori structural ( Class A weld, B weld dan C weld), contohnya untuk Class A welding , mechanical properties (Tensile test , ketangguhan (CVN test), dan bend test ) yang dihasilkan harus bisa dibandingkan setara dengan kualitas lasan yang dilakukan dipermukaan/darat . Kualitas paling rendah adalah class C weld, dimana kualitas dari pengelasan untuk struktur katagori ini tidak terlalu bagus dari segi kualitas dan dianggap hasil lasannya bisa diterima , jika pun terjadi inisiasi kerusakan dari sini misalnya tidak akan mempengaruhi integritas dari primary struktur.

Dari hasil penelitian dan experimen pengelasan bawah air, diketahui bahwa semakin dalam dilakukan pengelasan (misalnya antara pengelasan di kedalaman 20m dan 50m ) keuletan terutama di % elongation dan ketangguhan logam las makin menurun.. kekerasan yang dihasilkan juga makin tinggi.. diatas 325Hv10 (standard maximum kekerasan untuk kebanyakan offshore struktur). Pemilihan consumable berbasi nickel dan menggunakan teknik temper bead welding bisa mengurangi nilai kekerasan di daerah HAZ.

Dijelaskan pula di standard tadi prosedur las dan tukang las(Dive welder), untuk pengelasan bawah laut harus dibuktikan dan disimulasikan sesuai dengan kedalaman, jenis kawat las & posisi pengelasan. Hal2 essential variable lainnya dalam pengelasan seperti didarat juga harus dicatat dan didokumentasikan. Inspeksi hasil pengelasan bisa juga dilakukan dengan metode visual inspection maupun NDT (Magnetic particle inspection) oleh Inspector yang terkualifikasi untuk underwater inspection.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 8 – Sea6diveR

Dear Pak,

Untuk kualitas hasil las bawah air, saya ingin menambahkan faktor penentu dari sisi faktor manusia dan alam.

Berada di 20-50m dpl, tubuh kita akan menerima tekanan diatas 3 ATM, sehingga besar kemungkinan menerima efek gas/ oxygen narcosis (efek narkotik dari gas-gas didalam tubuh kita yang secara natural tidak dapat terurai dengan sempurna karena pengaruh tekanan), reaksi otak dan otot akan semakin lemah.

Dikedalaman 15m kita masih bisa mengerjakan 10 soal penjumlahan sederhana sekitar 10 detik, tapi dikedalaman 30m, rata-rata waktu untuk mengerjakan soal yang sama menurun menjadi sekitar 20-30 detik. Pada kondisi decompression sickness lanjutan, otak kita akan mulai berhalusinasi dan rasa takut meningkat.

Faktor alam, semakin dalam dpl, suhu semakin dingin, jarak pandang semakin minim, semakin gelap, dan arus bisa sangat mengganggu.

Jadi wajar, kalau semakin dalam posisi underwater welding, kualitas pengelasan dari sisi workmanship juga semakin menurun, karena tubuh kita tidak didesain di habitat tersebut.

Nice discussion.