Proses/tahap untuk membuat Hak Paten terhadap penemuan suatu produk, pertama-tama yang harus diperiksa adalah apakah barang atau alat yang Anda temukan tidak termasuk dalam bidang-bidang penemuan yang tidak dapat diberi paten. Kemudian, memeriksa Daftar Umum Paten untuk melihat apakah sudah pernah ada sebelumnya pendaftaran terhadap alat yang hendak didaftarkan tersebut.

Tanya – jniartibrs

Dear Rekan Migas,

Mungkin ini sudah pernah dibahas tetapi saya ingin menanyakan kembali apakah dari rekan sekalian tahu bagaimana proses/tahap untuk membuat Hak Paten terhadap penemuan suatu produk. Serta dimana tempat untuk membuat Hak Paten tersebut?
Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Riezqa Andika

Pertama-tama yang harus diperiksa adalah apakah barang atau alat yang Anda temukan tidak termasuk dalam bidang-bidang penemuan yang tidak dapat diberi paten. Kemudian, memeriksa Daftar Umum Paten untuk melihat apakah sudah pernah ada sebelumnya pendaftaran terhadap alat yang hendak didaftarkan tersebut.

Setelah melakukan pengecekan terhadap hal-hal di atas, maka Anda, sebagai orang yang membuat alat itu, dapat mengajukan permohonan paten terhadap alatnya tersebut ke Kantor Paten, Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek pada Departemen Hukum dan Perundang-undangan. Atau paman Anda dapat juga memberikan kuasa kepada orang lain (seperti konsultan paten) untuk melakukan pengurusan paten ini.

Terdapat dua bentuk paten, yaitu paten dan paten sederhana. Paten diberikan kepada si penemu bila hasil penemuannya di bidang teknologi untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada orang lain untuk melaksanakannya. Sedangkan paten sederhana diberikan bila hasil temuan itu tidak memiliki kualitas penemuan karena diperoleh dengan cara yang sederhana dan tidak melalui prosedur sebagaimana lazimnya kegiatan penelitian dan pengembangan.

Dalam mengajukan permintaan paten (dalam hal ini paten sederhana), diajukan dengan mengisi formulir yang memuat: (1) tanggal surat permintaan; (2) alamat lengkap dan jelas; (3) nama lengkap dan kewarganegaraan penemu; (4) jika permintaan diajukan orang lain selaku kuasa dilengkapi pula nama lengkap dan alamat lengkap kuasa yang bersangkutan; (5) judul penemuan; dan (6) jenis paten yang diminta.

Surat Permintaan Paten Sederhana di atas dilampiri dengan dokumen-dokemen sebagai berikut:

a. deskripsi tentang penemuan;

b. klaim yang terkandung dalam penemuan;

c. satu atau lebih gambar yang disebut dalam deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas;

d. abstraksi;

e. surat kuasa apabila permintaan paten diajukan melalui Konsultan Paten; dan

f. surat pernyataan persetujuan dari penemu atau yang berhak atas penemuan, jika permintaan paten yang bersangkutan diajukan bukan atas nama penemu.

Biaya dalam mengajukan permohonan paten terdiri atas biaya permintaan dan biaya pemeriksaan paten. Untuk paten sederhana, kedua biaya ini harus dibayarkan sekaligus pada saat pengajuan permohonan.

Pada saat terjadi peniruan paten, orang yang berhak atas paten dapat menuntut peniru ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tujuannya, supaya paten yang bersangkutan berikut hak-hak yang melekat pada paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk sebagian ataupun untuk dimiliki bersama. Pemegang paten berhak pula untuk menuntut ganti rugi melalui Pengadilan Negeri ditempat tinggal si penemu.

Untuk paten sederhana jangka waktunya 10 (sepuluh) tahun.

Tanggapan 2 – Deni Shidqi K.

Dear JB,

Beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum mem-paten-kan sesuatu:

1. Yakinkan bahwa temuan anda memenuhi syarat awal: Inovasi, Invensi, dan bisa diperbanyak massal (repitisi produk).

2. Lakukan penelusuran patent, untuk mengetahui ‘state of the art’ produk sejenis. Sekaligus sebagai justifikasi alat/sistem yang anda temukan merupakan benar2 memiliki nilai kebaruan.

3. Kalau langkah 1 dan 2 sudah dilakukan silahkan membuat ‘Draft Paten’. Mungkin ini memerlukan bantuan ‘patent attorney’ karena ini sudah memasuki bahasa hukum, di mana ada ‘kalim2’ dan istilah hukum lainnya. Tetapi selain bahasa hukum terkadang ada istilah teknis spesifik dalam menggambarkan proses/alat/cara kerja. Setelah itu membuat sket gambar (tidak perlu gambar CAD ato lainnya yg sangat presisi), dalam hal ini gambar yg dimaksud hanya berupa ilustrasi dan detil keterangan ‘klaim’ temuan anda.

4. Lakukan pendaftaran secara Ditjen HaKI, karena memang tempat resmi satu2nya di Indonesia yang ada di Jl. Daan Mogot Tangerang. Silahkan untuk mengetahui lebih teknis (http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi).

5. Untuk Patent attorney memang tidak sebanyak pengacara/notaris. Mungkin untuk mudahnya silahkan berkonsultasi dengan pihak Ditjen HaKI karena mereka pun menyediakan pelayanan jasa ‘konsultan’. Tetapi bila dirasa terlalu jauh (macet karena harus ke Tangerang), di Jl. Gatot Subroto Jakarta juga bisa melakukan hal yang sama, yaitu kantor LIPI bagian PUSINOV (Pusat Inovasi), Silahkan menghubungi Bapak Ragil Yoga Edi, SH. Kebetulan saya kenal beliau dan merupakan salah satu patent attorney yang tepat, karena selain mengerti bahasa hukum (karena memang sarjana hukum), selain itu juga sangat mengerti bahasa teknis yang diterjemahkan menjadi bahasa hukum karena sering berkecimpung dengan dunia teknologi di LIPI.

Mungkin sementara itu dulu yang bisa kami share, Kalau anda mau bertanya ‘pendahuluan’ ke ybs silahkan email: ragil.yoga.edi@lipi.go.id
atau ragil@inovasi.lipi.go.id

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 3 – Jeres Rorym

Mas Riezqa,

Sedikit urun rembuq dari saya … berdasarkan pengalaman juga, memang apabila mau dipatenkan di Indonesia bisa hanya untuk berlaku di Indonesia saja (Ini pendapat saya, CMIIW) akan tetapi apabila mau secara internasional lebih baik dipatenkan di US, Jepang atau Uni Eropa karena apabila terjadi penyalahgunaan dan konflik hukum maka permasalahannya akan lebih jelas apalagi untuk ke makamah arbitrase international nantinya …

Jadi saran saya apabila hendak mengeluarkan paten, yah memang baik dikeluarkan di Indonesia akan tetapi alangkah baiknya juga dicoba untuk mendapatkannya dari negara2 luar … apalagi kita berada di dunia global saat ini …

Hanya sekadar share pengalaman pribadi

Tanggapan 4 – Deni Shidqi K.

Pada prinsipnya patent memang berlaku hukumnya secara lokal (negara) saja, tapi kalau kebaruan (invensi/inovasi) bersifat internasional. kalau produk serupa pernah ada di negara lain ya artinya kita duplikasi atau meniru, tetapi utk urusan dituntut tinggal dilihat lagi apakah di negara bersangkutan (yg melakukan pembaajakan) patent tersebut jg sdh didaftarkan. kalau memang belum dia tidak bs menuntut secara hukum, tetapi secara moril/etika kita tetap melakukan ‘penipuan’. Sedangkan untuk mendaftarkan patent kalau memang dirasa akan sangat berpotensi komersil secara global, saran saya patentkan juga di China (jagonya peniru teknologi apapun). Tetapi tetap saja kekuatan patent memang berlaku perlokal negara tersebut saja. Tapi jangan khawatir, kalau anda mau mempatentkan temuan anda ke negara2 USA, EROPA, China, atau negara lainnya anda tidak perlu datang dan menyewa patent attorney ke USA ato negara lainnya, cukup didaftarakan melalui Ditjen HaKI kemudain minta didaftarkan ke negara potensial yang anda tuju tadi. karena kita (Indonesia) merupkan salah satu negara APCTT (Asian and Pacific Centre for Transfer of Technology) dibawah WIPO (World Intellectual Property Organization). (CMIIW).