‘EEx d IIC T6’ artinya: ‘E’ : alat tersebut di sertifikasi oleh CENELEC (Standard Eropa). ‘Ex’ : Explosion Protected (Explosion proof) ‘d’ : Protection concept yang digunakan adalah ‘Flame Proof’, artinya apabila terjadi ledakan didalam enclosure dari alat tersebut, maka energy panas yang timbul tidak akan keluar dari enclosure tersebut. ‘IIC’: Ini adalah klasifikasi jenis gas, kalau IIC artinya peralatan tsb. dapat digunakan unruk daerah dimana terdapat gas ‘Acetylene’ atau ‘Hydrogen’. ‘T6’: ini adalah klasifikasi temperatur, artinya maximum surface temperature adalah 85 Derajat Celcius.

Tanya – novizulemi

Selamat siang bapak2,

Mohon pencerahan mengenai kode untuk hazardous area, misalnya seperti kode EEx d IIC T6 apakah ini termasuk explosion proof?.
atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Tanggapan 1 – cahyo@migas-indonesia

Cuma tahu dikit ttg elektrical sewaktu CBTA (competency-based training assesment) di laut natuna dulu…

Ex kalau tidak salah artinya emang proteksi terhadap ledakan atau explosion proof (Ex) dan huruf d dibelakangnya adalah salah satu metoda proteksi yang lumayan populer, yaitu flame proof. Selain itu kalau tidak salah ada e, n, p, dll. Ex d kalau tidak salah menggunakan proteksi yang mampu menahan tekanan dari dalam yang diakibatkan oleh ledakan dari campuran flammable gas ttt, melepaskan tekanan dari dalam ruang melalui suatu flame path seperti cover dan lubang2 si sekeliling baut. Makanya tidak heran, barangnya biasanya berat….tampangnya engga meriah pokoke..Biasanya direkomendasikan di motor2 listrik, trafo, kapasitor, switch gear, control gear, dll (orang listrik lebih tahu nih..). dan kelas Exd ini
katanya API 505 tidak direkomendasikan di zone 0 (menurut standard eropa) Kalau IIC itu asal muasalnya adalah menurut kode API 505/NEC/Eropa yang deal dgn gas seperti asetilen, H2, Etilen oksida, etc….Dan T6 adalah kode temperatur, yang baik menurut API RP 500 atau RP 505/NEC /dll dipakai untuk temperatur tidak lebih dari atau sama dgn 85 C. kalau ada T6, tentunya ada T1 s/d T5.

Orang listrik mungkin lebih detil bisa memberi tahu anda.

Tanggapan 2 – feriansyah abubakar

Apa kabar Pak Cahyo? cuma nambahin sedikit, menurut reference yang saya punya; ‘EEx d IIC T6’ artinya:

‘E’ : alat tersebut di sertifikasi oleh CENELEC (Standard Eropa). ‘Ex’ : Explosion Protected (Explosion proof) ‘d’ : Protection concept yang digunakan adalah ‘Flame Proof’, artinya kalo enggak salah apabila terjadi ledakan didalam enclosure dari alat tersebut, maka energy panas yang timbul tidak akan keluar dari enclosure tersebut. ‘IIC’: Ini adalah klasifikasi jenis gas, kalo IIC artinya peralatan tsb. dapat digunakan unruk daerah dimana terdapat gas ‘Acetylene’ atau ‘Hydrogen’. ‘T6’: ini adalah klasifikasi temperatur, artinya maximum surface temperature adalah 85 Derajat Celcius. Kebeneran saya punya chart untuk peralatan ‘explosion proof’, kalo ada yang berminat silahkan, tapi filenya lumayan gede approx. 1.8 MB ajdi lewat Japri aja.

Tanggapan 3 – Djohan Arifin

meskipun lambat, rasanya kok ngganjel kalo nggak nambahin, okaylah byar lebih terang, en dahmudahan bermanfaat…

mari kita mulai dari segitiga api yang terdiri atas: bahan bakar, oksigen dan sumber api. Maksudnya nyala api akan terjadi jika ketiga komponen ada secara bersama, jika salah satunya hilang, matilah api itu. Dalam suatu lingkungan terbuka (dimana udara/oksigen selalu ada) dan mengandung bahan mudah terbakar (hazardous area), hanya diperlukan sepercik bunga api (sumber panas) untuk mengakibatkan kebakaran. Maka didalam daerah tersebut tidak boleh ada api telanjang, spark ataupun sumber panas yang temperaturnya lebih tinggi dari titik nyala dari gas yang berkeliaran itu. Mangkanya semua peralatan elektris yang terletak didaerah hazardous area harus disembunyikan didalam enclosure dengan sertikasi kode seperti ‘EEx’d’ IIC T6′. Dengan kata lain segitiga api diputus sumber apinya.

Seperti ditulis bang Feriansyah bahwa alat tersebut disertifikasi di Eropa (CENELEC) dengan kategori Flameproof (di Amerika proteksi yang sama disebut sebagai explosionproof), dipakai untuk daerah gas hydrogen atau acetylene dengan maximum surface temperature T6 = 85 oC.

Ini aneh, kalau gasnya hydrogen / acetylene seharusnya pakai T1 dengan maximum temperature 450 oC sudah cukup. Maksudnya, meskipun sudah terjadi campuran hydrogen / acetylene dengan udara, adanya peralatan dengan suhu maximum 450 oC tersebut, masih belum akan menghasilkan kebakaran. Lalu kenapa memilih T6? kenapa nggak T1 yang lebih tinggi (yang harganya lebih murah), aneh kan? Logikanya untuk aplikasi yang sama, enclosure T6 lebih mahal karena kemungkinan dinding lebih tebal (jadi lebih berat) atau ada tambahan sirip agar surface temperature jadi rendah.

Kalau sebagai orang Operasi, kasus ini gak masalah, karena lebih safe, bisa dipakai lessons learnt untuk pembelian berikutnya. Tapi sebagai bohir yang mengapprove design, wajib tanya pada design engineernya, kenapa designnya boros.

semoga bermanfaat

Tanggapan 4 – Juliansyah

Sekadar menambahkan, coba link ini: Guide of Good Practice for implementing of the European Parliament and Council Directive 1999/92/EC on minimum requirements for improving the safety and health protection of workers potentially at risk from explosive atmospheres. Semoga bermanfaat.

http://europa.eu.int/eur-lex/en/com/cnc/2003/act0515en02/1.pdf

Tanggapan 5 – Crootth Crootth

Wah ini baru kejutan….

saya kutip pernyataan pak Djohan….

‘Ini aneh, kalau gasnya hydrogen / acetylene seharusnya pakai T1 dengan maximum temperature 450 oC sudah cukup. Maksudnya, meskipun sudah terjadi campuran hydrogen / acetylene dengan udara, adanya peralatan dengan suhu maximum 450 oC tersebut, masih belum akan menghasilkan kebakaran. Lalu kenapa memilih T6’

Saya heran bukan kepalang masak Acetylen/Hydrogen campur udara tidak meledak? pada temperatur 450 C pula? sebagai chemical engineer rasanya saya tidak pernah diajari fakta ganjil seperti ini….

Apakah kondisinya beku? atau peralatan T6 tersebut mengeluarkan
Apakah peralatan T6 tersebut mengeluarkan udara 40 kali lipat volume setiap gas acetylene yang terdapat di dalamnya?

Apakah peralatan tersebut mensuppress fire secara langsung dengan misalnya menyemprot CO2 sehingga kandungan acetylen kurang dari 2.4 % volume?

Mohon diklarifikasi secepatnya Pak Djohan biar keresahan saya berakhir….

Tanggapan 6 – feriansyah abubakar

nambahin dikit pak Crootth Crootth, Menurut ref. yang saya punya ‘auto ignition temp.’ untuk acetylene adalah 305 Deg. C, jadi rasanya kalo pake T1 yang max surface temp nya 450 Deg. C kurang aman………

Tanggapan 7 – Djohan Arifin

Mas DAM ysh,

terimakasih atas perhatian dan responsenya.

biar nyambung silahkan lihat Institute of Petroleum, Area Classification Code For Installations Handling Flammable Fluids, Part- 15, August 2002 2nd Edition. Pasal 7.3 disitu diterangkan ‘there is no simple link between ignition sensitivity and ignition temperature. As an example, hydrogen is extremely sensitive to ignition by sparks, but has a high ignition temperature’. Pada Table 7.2 ada daftar fluida dengan temperature classnya; minyak tanah (kerosene) punya temperature class T3 (ignition temp = 200 oC) lebih tinggi daripada H2.

Tanggapan 8 – feriansyah abubakar

Pak Djohan mungkin bisa share ‘Institute of Petroleum, Area Classification Code For Installations Handling Flammable Fluids, Part-15, August 2002 2nd Edition’ nya

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Pak Djohan,

Betul pernyataan dari IP tersebut…

Namun saya kira Standar IP ini ngga nyebutin tentang campuran Asetilen/Hydrogen dengan UDARA bukan???

bukan begitu bukan?

Tanggapan 10 – Djohan Arifin

bukankah Institute of Petroleum itu dipakai di petroleum industry? kira2 dimana ya lokasi industri yang tidak ada udara disekitarnya?

katakanlah udara (oxygen) memang tidak ada, lalu pada temperature berapa hydrogen / acetylene akan terbakar? bukankah dari dalil segitiga api, hydrogen / acetylene tersebut tidak akan terbakar tanpa oxygen, meskipun temperaturenya mencapai 1000 oC atau berapapun?

bukan begitu bukan?

Tanggapan 11 – Alvin Alfiyansyah

Mungkin yg dikhawatirkan Mas DAM disini adanya reaksi exotermic (melepaskan panas) dari reaksi Asetilen/Hydrogen dicampur Udara, yg berarti dapat terbakar sendiri tanpa adanya oksigen.

Dalil segitiga apinya memang benar, tapi mungkin reference Mas DAM yg perlu di-share tentang persen v/v utk Asetilen tersebut dalam udara yg dapat terbakar sendiri bagaimana bunyinya ? Karena saya belum belajar reaksi Asetilen lebih dalam, yach mungkin saja AIT-nya kena….

‘The autoignition temperature of a substance is the lowest temperature at which it will spontaneously combust in a normal atmosphere, without an external source of ignition, such as a flame or spark. The lowest temperature at which a substance will ignite in the presence of an external source of ignition is known as its flash point.

Autoignition temperatures are measured using the same closed cup apparatus used for measuring flash points.’

Semoga membantu atau membuat tambah bingung.

Tanggapan 12 – Crootth Crootth

Alvin, Mas Djohan,

tentang UEL dan LEL Acetylene bisa dilihat di Estimating the Flammable Mass of vapor Cloud, 1998

Dalil Fire Triangle tidak berlaku bila:

1. Autoignition tercapai (tidak butuh flame/spark)

2. Terdapat reaksi oksidasi yang cepat, sumber O2 dari reaktan (tidak butuh O2 dari udara)

3. Untuk gas/liquid flammable yang memiliki UEL 100% (sumber NFPA 49, Daubert dan Danner pada tahun 1989 hanya menyebut 80% ) seperti asetilen misalnya (H2 sekitar 80%) (relatif tidak butuh O2 dari udara)

Setahu saya pada temperatur 400degC Asetilen akan kena AUTO IGNITIONnya (AIT nya 305 degC) dan Flash Point nya -18 degC

Sementara lokasi industri yang tidak memiliki udara (oksigen) adalah antara lain

1. enclosure dengan tekanan positif

2. sistem pemadam Halon/CO2 yang sedang bekerja

3. inerting sistem menggunakan gas/N2

4. lain lain

Bukan begitu bukan mas?

Mungkin sebaiknya mas mas welding yang kita tanya… apa kalau menyalakan asetilen di ruang vakum bisa menyala tanpa udara? (emang ada las vakum?)

Reference: Estimating the Flammable Mass of Vapor Cloud, CCPS concept books, 1998

Tanggapan 13 – Djohan Arifin

Menurut saya prinsip segitiga api tetap berlaku, pada self ignition komponen sumber api ada didalam process fluid itu sendiri, untuk reaksi oksidasi cepat komponen oxygen ada dalam reaktan… dst.

Mas DAM dan Mas Alvin Ysh.

marilah mendarat, yang dibicarakan adalah enclosure untuk alat electric didalam hazardous area suatu oil & gas industry. Mustinya ya terletak di daerah yang mengandung flammable gas dan udara (oxygen), lihat definisi zone-0, 1, 2 dan non hazardous.

Electrical + process engineer melakukan assessment untuk hazardous area classification, dengan melihat gas apa saja kemungkinan ter- released dari process equipment. Maka didapatlah hazardous zones dan apparatus sub-group (IIA/B/C) plus temperature classnya (T1/T2/T3), lihat IP table-7.2. Ketika menulis spec./datasheet untuk alat yang dibeli, kode ini harus dicantumkan sekaligus disebutkan certifying agentnya apa.

Ketika terima barang perlu dicek kodenya sama apa nggak, kalau dapat temperature class lebih tinggi (misal spec.nya T1 dapatnya T3) ya nggak papa, lebih aman. Oh ya temperature class ini ‘based on ignition temperature in accordance with IEC 60079-14 and determined by IEC 60079-4’. Mohon maaf untuk acetylene, saya telah salah kutip, seharusnya temperature class = T2, maximum temperature = 300 oC, juga gak perlu specify T6.

semoga bermanfaat

Tanggapan 14 – Crootth Crootth

Pak Djohan,

OK lah saya bersepakat dengan anda untuk ‘tidak bersepakat’ soal segitiga api, saya menganggap ada ketidak berlakuan segitiga api dalam kasus kasus khusus yang telah saya sebut…sebagaimana ada fluida yang tidak mengikuti hukum Newton, atau ketidakberlakuan hukum gravitasi di ruang angkasa… menurut saya pribadi ALAM selalu menyediakan perkecualian perkecualian.. tapi yah sudahlah yang ini ngga usah dibahas terlalu dalam…

Pak Djohan saya setuju kalau untuk menentukan class class peralatan electrical device itu adalah E/I Engineer dan Process Engineer… Jika memang base-nya adalah (auto)ignition temperature, yah 300 degC sebenarnya sangat mepet Mas, karena asetilen akan autoignition pada 305 degC, jika perlaatan ini dipasang di offshore sih (mungkin akan) aman aman saja, coba bayangkan jika dipasang di Kawah Kamojang yang terletak diketinggian lebih dari 2500m (CMIIW), bukankah tekanan akan menurun sehingga autoignition temperature dari asetilen pun akan lebih rendah dari 305 degC… hati hati loh dengan yang mepet mepet Pak…..

Terima kasih atas diskusinya…