Biaya produksi kapal tidak bisa dibuat persentase secara tetap karena tergantung banyak hal terutama menyangkut jenis kapal dan lokasi galangan. Sebuah kapal dibangun di Cina dibandingkan kapal yg dibangun di Eropa Barat / Jepang harganya bisa 2 kali lipat meskipun jenis kapal itu sama. Galangan Jakarta dgn Surabaya tentunya juga ada perbedaan beaya produksi. Beda yard, beda kelas, beda overhead.

Tanya – Darmayadi

Kebetulan saya ada keperluan untuk membuat suatu simulasi penghematan biaya proses produksi pembuatan kapal laut dengan mengaplikasikan teknologie pengelasan. Adakah yang bisa bantu memberikan informasi struktur biaya produksi dalam persentasi (%)aja.

Misal : Biaya Overhead (%)?

Biaya Bahan Baku (%) ?

Biaya Lain-Lain (%)

Tanggapan 1 – Slamet Widodo

Pak Darma,

Biaya produksi kapal tidak bisa dibuat persentase secara tetap karena tergantung banyak hal terutama menyangkut jenis kapal dan lokasi galangan. Sebuah kapal dibangun di Cina dibandingkan kapal yg dibangun di Eropa Barat / Jepang harganya bisa 2 kali lipat meskipun jenis kapal itu sama. Galangan Jakarta dgn Surabaya tentunya juga ada perbedaan beaya produksi. Beda yard, beda kelas, beda overhead.

Flat top barge (tongkang) materialnya bisa 90% baja yg dilas.
Sedangkan utk tug boat komponen beaya terbesar adalah main engin & propulsion, minor steelwork. Lain lagi dengan survey vessel, seismic, diving, cable laying vessel atau Derrick Pipelay Barge. Major cost ada pada machinery and equipments.

Gimana kalo kapal perang? Tentunya gak sama dgn kapal2 jenis di atas.

Tanggapan 2 – Darmayadi

Pak Slamet,

Untuk sementara bagaiman jika yang bicarakan adalah kapal laut yang 90% bahannya dari baja seperti Tongkang, Kapal Tanker ataupun Kapal untuk angkutan Kontainer.

Terus terang saya masih penasaran kenapa galangan kapal kita jika ikutan tender pengadaan kapal untuk digunakan di Indonesia masih sering kalah dibandingkan dengan galangan kapal yang ada di negara maju. Sebelum China, jagoan galangan di Asia adalah Jepang dan Korea, yang secara kasat mata bisa dikatakan bahwa upah tenaga kerja dan lain-lainnya masih lebih tinggi dari Indonesia.

Tanggapan 3 – Sholeh Sudjarwoko

Pak Darma,

Untuk kapal laut semisal tanker berat material baja bisa mencapai 70 % lebih dari berat total kapal.
Kalau permasalahan tender bersaing dengan Cina atau Korea memang kurang fair kalau kita hanya melihat dari perbandingan labour cost. Yang dihadapi galangan kapal Indonesia terutama masalah infrastruktur supply material. Untuk baja meskipun bisa pakai baja lokal spt Krakatau atau GDS namun sebagian bahan baku bajanya juga masih impor untuk memenuhi standard mutu baja untuk bangunan kapal. Selain itu outfitting u/ kapal: yang jelas Main Engine hampir semua masih impor, selain itu pipe, valve & fitting2 lainnya termasuk peralatan navigasi juga impor. Soalnya maker untuk alat atau outfitting lokal belum ada atau belum mampu memenuhi standard marine.

Karena masih impor maka yang menjadi kendala adalah delivery. Cina dengan infrastruktur supply material yang relatif kuat bisa delivery kapal relative lebih cepat & lebih murah, karena mereka relatif kecil kendala waktu impor & relatif kecil biaya impor.
Ship’s owner selalu mempertimbangkan minimal masalah delivery, cost & mutu. Delivery tentunya yang lebih cepat dan tepat waktu.
Demikian sedikit sharing.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan ini dapat dilihat dalam file berikut: