Saat ini DME (CH3OCH3) menjadi salah satu topik hangat di beberapa belahan dunia termasuk Eropa terutama wilayah Skandinavia (Swedia dan Finlandia). Kedua negara tersebut telah bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan DME berbasis biomass melalui gasifikasi dan pilot projectnya bahkan telah digunakan sebagai mix-blend LPG untuk otomotif serta power plant sebesar 2 MW di Vaxjoo. DME bisa dibuat dari dehidrasi methanol, sedangkan DME dengan gasifikasi batubara adalah rangkaian proses yang berbeda. Batubara digasifikasi untuk memperoleh syngas kemudian melalui reaksi dengan gas karbon monoksida (CO) maka akan dihasilkan DME.

Tanya – Muhtar Alim

Di Oke zone hari kamis tanggal 2 Juli 2009 (tahun kemaren) ada press relaease tentang PT Pertamina (Perserro) dan Arrtu Mega Energi sepakat menandatangani SPA (Sales Purchase Agreement) untuk mengembangkan energi alternatif baru, Dimethyl Ether (DME).

Disebutkan pula Arrtu Mega Energie akan membangun pabrik DME di Eretan, Cirebon.

Sudah terealisasi apa belum ya pembangunan pabriknya? siapa EPC kontraktornya?

Dan, apakah bisa disebutkan kalau DME itu termasuk energi baru terbarukan? di Okezone disebutkan gasifikasi batu bara menjadi DME. Sementara di tulisan selanjutnya disebutkan bahwa methanol yang akan dirubah menjadi DME. Apakah methanol dan gasifikasi batu bara bisa menjadi DME dengan senyawa kimia yang sama ?

Sebenernya, ‘makhluk’ apakah DME itu?

Demikian rekan-rekan milis sekalian. Mohon pencerahan.
Terima kasih.

Tanggapan 1 – prov_aksan

Kebetulan saat ini DME (CH3OCH3) menjadi salah satu topik hangat di beberapa belahan dunia termasuk Eropa terutama wilayah Skandinavia (Swedia dan Finlandia). Kedua negara tersebut telah bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan DME berbasis biomass melalui gasifikasi dan pilot projectnya bahkan telah digunakan sebagai mix-blend LPG untuk otomotif serta power plant sebesar 2 MW di Vaxjoo. DME bisa dibuat dari dehidrasi methanol, sedangkan DME dengan gasifikasi batubara adalah rangkaian proses yang berbeda. Batubara digasifikasi untuk memperoleh syngas kemudian melalui reaksi dengan gas karbon monoksida (CO) maka akan dihasilkan DME. Secara kimiawi produksi DME dari syngas adalah sebagai berikut:

3CO + 3H2 —–> CH3OCH3 + CO2

Sedangkan yang dimaksud pembuatan DME dari methanol melalui gasifikasi batubara oleh Pertamina adalah syngas hasil gasifikasi diubah menjadi methanol kemudian didehidrasikan untuk menjadi DME.

Tantangan terbesar saat ini adalah masih tingginya biaya produksi DME mengingat cara termudah untuk membuat DME sebenarnya melalui dehidrasi methanol namun harga methanol dan gas alam yang fluktuatif menjadikan DME ini dipandang kurang ekonomis belum lagi nilai kalori bakarnya yang lebih rendah dibanding LPG (nilai bakar DME sekitar 6900kcal/kg) namun prospek ke depannya cukup baik mengingat sumber bahan baku DME bisa diperoleh dari biomass termasuk limbah pertanian dan peternakan. Bagaimana dengan Indonesia? Saya kurang tahu perkembangannya terakhir yang saya dengar Pertamina memang akan berencana mensubsitusi LPG dengan DME hingga tahun 2015. Project awal adalah produksi DME 800000 ton/tahun di Jawa Barat. Yang saya ketahui Jepang,Korea, dan China mengimpor LNG dari Indonesia untuk dikembangkan menjadi DME berbasis syngas bahkan China sudah memproduksi DME secara komersial 11000 ton/tahun di provinsi Sichuan dengan LNG sebagai feedstocknya.

Mari kita tunggu kiprah Pertamina dalam mengembangkan energi terbarukan dan ramah lingkungan ini.

Tanggapan 2 – lolulit@yahoo

Mas/Mbak Yan,

Denger-denger project di atas sudah mau construction dan EPC yang mau ngerjakan adalah IKPT.

Please rekan2 IKPT to clarify?

Tanggapan 3 – b_einstein

Setau saya yang dikerjakan IKPT adalah untuk pembangunan terminal LPG dan DME di Cilegon. Sedangkan untuk pembangunan DME plant di Eretan dipindahkan lokasinya ke Cilegon supaya dekat dengan terminalnya sehingga biaya transportasi bisa dikurangi dan lebih mudah untuk mobilisasi operator.
Kalau tidak salah, pembangunan akan diserahkan ke salah satu licensor dari Jerman (nama dirahasiakan, hehe).

Tanggapan 4 – Muhtar Alim

Selamat pagi Pak Boby,

Bukankah LPG Receiver di Cilegon yang bangun Wika? Lokasinya di Tanjung Sekong. Hanya, nggak tau kalau DME. Jadi apa tidak dibangun? Oleh IKPT ya?

DME belum mempunyai daya saing karena mahal. Kenapa ya energi baru terbarukan bisa lebih mahal dari Oil n Gas?

Tanggapan 5 – b_einstein

Siang pak Muhtar (yang Alim),

Kalau yang dibangun oleh Wika itu terminal LPG untuk Pertamina. Sedangkan yang akan dibangun IKPT adalah terminal ‘LPG Mix’ yaitu LPG yang sudah diblend dengan DME dengan ratio tertentu. Lokasinya di Cilegon tapi bukan Tj. Sekong.

Kalau mengenai mahalnya DME saya juga baru tahu, karena setahu saya di luar negeri sudah banyak yang mulai mencoba beralih ke DME. Mungkin prospek kedepannya lebih bagus karena harga cenderung lebih stabil dibandingkan dengan LPG yang supplynya mulai menipis.

Tanggapan 6 – Muhtar Alim

Pak Boby,

IKPT memang dapat kontrak EPC untuk DME ya di Cilegon Pak?. Saya baru tau info ini dari Anda. Yang saya tahu IKPT juga lagi mengerjakan Boiler Utilization di PKT.

Untuk PKT 5 juga katanya IKPT The Lowest Bidder. Mohon maaf pakai kata ‘katanya’. Maklum, masih bias Pak informasinya. Heheheh.

Untuk Energi Baru Terbarukan sayang sekali kalau Pemerintah belum serius menanganinya. Mungkin pengalamannya bisa sperti Aqxx (Merk AMDK – Air minum dalam kemasan). Dulu di awal ‘kelahirannya’, 1 liter Aqxx lebih mahal dari 1 liter Bensin. Sekarang, bensin yang lebih mahal. Tapi, mungkin terlalu sederhana ya pemikiran saya?

Cadangan Minyak dan Gas Bumi makin lama makin tipis tetapi energi baru terbarukan belum serius ditangani. Mungkin, setelah Minyak dan Gas habis, kita pakai minyak Jarak untuk lampu penerangan. Hehehhe.

Padahal, minyak jarak juga bisa dijadikan Methanol. Dari Methanol ke DME.

Antara DME dan CBM, mana yang lebih mungkin dan lebih ekonomis serta ramah lingkungan untuk dikembangkan di Indonesia ya?

Terima kasih infonya ternyata plant yang semula akan dibangun di Eretan, Jawa Barat dipindah ke Cilegon..??

Tanggapan 7 – prov_aksan pr

Tentang mahalnya harga DME sebenarnya tidak begitu mahal terlebih lagi jika dibuat dari gasifikasi batubara dimana feedstocknya berupa syngas dari gasifikasi akan lebih murah jika dibandingkan dengan LPG. Prospek ke depannya juga cukup baik untuk Indonesia mengingat konsumsi LPG ke depan akan makin bertambah dan sumber migas menipis. Dan keunggulan lain DME adalah bahan bakunya bisa berasal dari sampah atau biomass.

Baik DME maupun CBM bisa diharapkan sebagai sumber energi alternatif ke depannya tapi keduanya memiliki produk yang berbeda, CBM lebih diutamakan pada hasil methana-nya sedangkan DME lebih diarahkan pada subsitusi LPG. Selain digunakan langsung sebagai bahan bakar pada otomotif pengembangan DME juga sudah merambah ke fuel cell saat ini.

DME cair juga digunakan sebagai penghasil elektrolit selain hidrogen, tapi secara umum baik DME maupun CBM bisa dikembangkan di Indonesia mengingat sumbernya masih cukup melimpah dan secara keekonomisan terjangkau oleh masyarakat. Tantangan terbesar di Indonesia menurut saya tinggal pada pemerintah saja apakah bersedia dengan konsisten mengembangkan sumber energi terbarukan semacam DME,CBM,bio-butanol,dll termasuk dari segi riset dan aturannya? Saya berharap project DME plant oleh Pertamina ini menjadi semacam pilot project dimulainya penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan di Indonesia setelah project bensin dari air kemarin terbukti gagal.