Mungkin ada yang sering dilupakan dalam diskusi mengenai HAZOP ini, yakni operability. Operability menjadi satu kesatuan dalam HAZOP(dan LOPA sebagaimana dijelaskan oleh kang Ros). Tak bisa seseorang membahas HAZOP tapi melepaskan unsur operability nya. Tak bisa suatu HAZOP dilakukan tanpa melibatkan sesorang yang berpengalaman mengoperasikan fasilitas (yang sedang dibahas) di lapangan. Seorang HAZOP leader pun dituntut untuk mengetahui pengoperasian fasilitas lapangan (tidak harus pernah terlibat intens, namun setidaknya tidak awam dengan kekhasan pengoperasian fasilitas yang di HAZOP).

Was : [Process Safety] Hazops, perlukah Probability ??

Pembahasan – Roslinormansyah

Sejatinya HAZOPS itu memang dirancang untuk meng-explore barrier yang berpotensi bahaya pada proses dan peralatan dengan sejumlah tongkat penuntun bahasa. Entah pakai dilengkapi dengan Risk rating atau tidak dalam standar BS/IEC 61882 tidak disebutkan secara spesifik atau ‘sunnah’ aja kalo pakai Risk Rating.

Namun bila sejatinya HAZOPS itu adalah sarana untuk mengevaluasi ‘kecukupan’ dan ‘efektifitas’ dari safeguards yang di-purpose-kan ke suatu sistem proses atau peralatan. Karena itu membuka OREDA and friends (ETA/FTA), bisa-bisa saja namun terlalu njelimet padahal ruh dasar HAZOPs saat dipakai ICI (bahkan dalam IEC ^1882) tidaklah se-njelimet itu. Lagi pula waktu yang diperlukan semakin banyak dan menjadi semakin tidak efektif saja.

Yang menjadi persoalan adalah banyak yang beranggapan HAZOPs is final tool for Risk Analysis (or Risk Assessment). Bisa benar, bisa juga tidak. Karena saat ini ada analisis lanjutan dari HAZOPs yang dikenal dengan istilah LOP Analysis untuk melihat apakah safeguardsnya betul-betul kemampuan reliabilitas sesuai yang diharapkan atau tidak.

Let’s HAZOPs as guide in standar BS/IEC 61882, if want to detail then play the next level of Risk Assessment which known as LOPA (OREDA, ETA, FTA, etc menjadi lebih ‘bertenaga’).

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Dear All,

Mungkin ada yang sering dilupakan dalam diskusi mengenai HAZOP ini, yakni operability.

Operability menjadi satu kesatuan dalam HAZOP(dan LOPA sebagaimana dijelaskan oleh kang Ros). Tak bisa seseorang membahas HAZOP tapi melepaskan unsur operability nya. Tak bisa suatu HAZOP dilakukan tanpa melibatkan sesorang yang berpengalaman mengoperasikan fasilitas (yang sedang dibahas) di lapangan. Seorang HAZOP leader pun dituntut untuk mengetahui pengoperasian fasilitas lapangan (tidak harus pernah terlibat intens, namun setidaknya tidak awam dengan kekhasan pengoperasian fasilitas yang di HAZOP).

Dalam HAZOP disebutkan misalnya ‘More pressure’ dengan cause ‘Gas Blowby’, saya minta tolong disebutkan mengenai more pressure karena gas blowby di OREDA 2004 tertera di halaman berapa?? saya jamin jika anda mencari di OREDA, tidak akan ketemu!

Tapi tanyakan pada operator di lapangan, dan dia akan membuka data log (biasanya di control room) pada LSLL di upstream vessel dan dicocokkan dengan PSHH pada unit di downstreamnya, maka dengan mudah mereka memberikan jawaban berapa kali gas blowby dan menyebabkan overpressure dalam setahun.

Kadang saya melihat banyak expert yang mengandalkan literatur macam OREDA dll untuk menjawab persoalan yang secara sederhana sebenarnya bisa dijawab oleh operator di lapangan. Memiliki literatur yang lengkap kadang membutakan bahwa pelajaran dan informasi terpenting itu adanya di lapangan, bukan di Buku Buku!!

Mengenai LOPA (seperti hanlya HAZOP) yang disinggung Mas Rosli dalam pernyataannya ‘OREDA, ETA, FTA, etc menjadi lebih ‘bertenaga’, tanggapan saya adalah : menggunakan OREDA, ETA dan FTA seringkali tak membantu SAMA SEKALI lho! Dalam banyak kasus, LOPA bisa dijawab secara sederhana berdasar info dari lapangan, baik itu dari operator yang jujur membuka log book atau log data dari control room….

The truth is out there! di lapangan… jangan pernah melupakan pengoperasian di lapangan.

Tanggapan 2 – Roslinormansyah

Hehehe….ini yang menjadi ciri khas Cak DAM. Kritis melihat tulisan. There is nothing beyond the text. Hehehehe

Sebenarnya yang saya maksud dengan ‘bertenaga’ itu bukan menjadikan OREDA atau other reference itu sbg acuan utama utk melihat probability suatu HAZAN, utamanya dalam LOPA (termasuk HAZOPs). OREDA itu sendiri selama karir saya dulu sebagai Process Safety Engineer tetap sebagai kitab second opinion. Data probabilitas yang valid saya sepakat dengan Cak DAM, yaitu Internal Data Log (meski prudential tetap dilakukan agar validitas data tetap dipertahankan).

OREDA pun bukan teoritis semata juga lho! Dia juga data yang berasal dari berbagai lapangan meski terkadang ada banyak process yang khas di lapangan tidak dimuat di dalamnya.

Cuman kesulitan dari analisis probabilitas adalah ketika semua data, baik itu di internal (kata Cak DAM the truth data) dan di OREDA/atau yang lainnya, tidak ada. Lantas bagaimana upaya kita memprediksi secara valid dan deviasinya rendah atas nilai probabilitas ?. Inilah persoalan utama saat kita masuk dalam analisis risiko, baik itu dengan HAZOPs atau yang lain.

Tidak semua data probabilitas ter-capture dengan baik, entah itu di internal perusahaan atau di referensi yg lain. Dan satu hal yang paling penting terlalu percaya pada internal data log tanpa menguji validitasnya hanya akan mendapatkan probabilitas yang meta-value!.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan yang tergabung dalam Mailing List Migas Indonesia untuk pembahasan bulan Oktober 2010 ini, dapat dilihat dalam file berikut: