Rekan2 semua, ini selingan untuk refresing saja.
Memang sudah beberapa tahun lalu kita pernah dengar pd th 2030 Jakarta akan tenggelam, karena tanahnya menurun hampir satu meter per tahun, hal ini terangkat lagi gara2 ambruknya jalan Martadinata sepanjang 100m, karena tanah di bawah jalan sudah berongga yg di perediksi adalah penurunan tanah.
yg menjadi pertanyaan kita…apakah tindakan pemerintah terhadap penurunan tanah ini, yg di kerenakan pengambilan air tanah oleh masyarakat dan perusahaan di jakarta.
kalau memang di sebabkan oleh pengambilan air tanah, mengapa pemerintah tetap mendiamkan masyarakat dan perusahaan mengebor dan mengambil air tanah sampai sekarang, padahal saya kira tidak sukar untuk mencegahnya dengan membuat KEPRES atau UU dengan ancaman berat bagi siapa yg menggunakan air tanah.

Pembahasan – Pala Utama

Rekan2 semua, ini selingan untuk refresing saja.

Memang sudah beberapa tahun lalu kita pernah dengar pd th 2030 Jakarta akan tenggelam, karena tanahnya menurun hampir satu meter per tahun, hal ini terangkat lagi gara2 ambruknya jalan Martadinata sepanjang 100m, karena tanah di bawah jalan sudah berongga yg di perediksi adalah penurunan tanah.
yg menjadi pertanyaan kita…apakah tindakan pemerintah terhadap penurunan tanah ini, yg di kerenakan pengambilan air tanah oleh masyarakat dan perusahaan di jakarta.
kalau memang di sebabkan oleh pengambilan air tanah, mengapa pemerintah tetap mendiamkan masyarakat dan perusahaan mengebor dan mengambil air tanah sampai sekarang, padahal saya kira tidak sukar untuk mencegahnya dengan membuat KEPRES atau UU dengan ancaman berat bagi siapa yg menggunakan air tanah…mungkin pemerintah masih sibuk dengan masalah2 yg lebih besar spt: Bank Century, KPK. Gayus, dan rencana DPR bikin gedung baru yg menelan dana cukup signifikan…yah kita rakyat tidak bisa berbuat apa2…selamat bekerja buat rekan2 yg sesama di Over Seaspt: Tim Teng, Africa,Russia,Amerika, Thailand, Vietnam, North Sea tapi saya cuma kerja di seberang Batam aja..yaitu JB.

Tanggapan 1 – june.topan

Benar yang dikatakan Pak Pala, UU dan Kepres dapat dibuat oleh pemerintah dan pemerintah juga harus memikirkan solusi yang akan dilakukan darimana air akan diambil.
Masalah Gayus, KPK, bank Century dan gedung baru DPR boleh sibuk dengan masalah itu. Tapi pemerintah juga harus lebih utama memikirkan rakyat yang seandainya akan mengalami musibah, karena ini adalah masalah nyawa manusia…

Tanggapan 2 – cak.topan@batam

Pak Pala;

Kalo saya baca ini, jujur aja… Pening jadi pemerintah.
ibarat kata, semua masalah sekarang uda jadi prioritas pertama. dari mulai macet, banjir, kriminalitas, sampe jalan ambrol.
belum ditambah perkara politik.

kurang tau apa langkah pemerintah soal ini, pak. ga jelas. ato mungkin ada juga cuma ga terekspos media.
toh, temen2 saya juga lebih demen balik jakarta daripada stay di ujung dunia (ini maksudnya saya loh… di Batam 😀 ).

Tanggapan 3 – Hendra

Mas Pala,

Menurut hemat saya, Jakarta tidak akan tenggelam. Kalau penggunaan air tanah di Jakarta tidak dihentikan, muka air tanah di bawah Jakarta akan lebih rendah dari muka air laut. Akibatnya, akan ada intrusi air laut yg cukup jauh ke arah selatan Jakarta. Masalah penurunan akan berhenti sampai ada kesimbangan antara kecepatan pemompaan air tanah an kecepatan intrusi air tanah yg masuk dari utara. Masalahnya, saya tidak tahu kapan keseimbangan ini akan dicapai.
Dengan berkata begitu tidak berari saya tidak perduli dg pemompaan air tanah. Saya berpendapat sama bahwa pemerintah harus mengontrol penggunaan sumber air ini dg baik, tidak hanya utk kepentingan kita saat ini, tapi juga cucu-cucu kita yg juga membutuhkan sumber daya air ini. Kita tidak ingin cucu kita hidup di Jakarta dimana air tanahnya semua asin sampai ke jakarta selatan misalnya. Kita harus bersam-sama menjaga sustainabilitas sumber daya alam negara kita dg baik, dan pemerintah diberi kepercayaan berdasarkan undang2 utk menjaga sumber daya alam ini dg baik. Soal kenapa pemerintah diam saja, saya juga tidak tahu mas.

Ttg RE Martadinata, saya berpendapat bahwa masalah penurunan jalan RE Martadinata tak ada hubungannya dg penurunan kota jakarta secara umum. Masalah longsornya jalan ini lebh dikarenakan masalah lokal. Mungkin kalau hasil penelitiannya sudah selesai (dikerjakan oleh teman2 di ITB) kita akan tahu apa penyebab pastinya.

Tanggapan 4 – Gilbert

‘Pening jadi pemerintah? Mengundurkan diri saja kalau kalo berani?’

Kalau dari pandangan Saya, banyak aspek di negara ini dilakukan hanya untuk kepentingan sesaat, tidak memikirkan kedepannya…10 tahun bahkan 30 tahun lagi bagaimana.

Penebangan hutan di kalimantah yang ‘tidak terkontrol’ sudah membuat daerah yang dulunya aman dari banjir jadi langganan tetap si banjir.
Pembangunan di Jakarta yang lebih memikirkan aspek politis dan tidak lingkungan membuat Jakarta seperti ini (Kutipan wawancara Mantan Meteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf di Metro TV tentang topik Jakarta tenggelam).

Tanggapan 5 – dee sari

Saya sudah setahun ini menetap di daerah sekitar Jakarta, dulunya selama lebih dari 20 tahun tinggal di Surabaya. Kabarnya, Surabayapun terancam akan tenggelam oleh Lumpur Lapindo yang masih terus mengalir, kalau benar Jakarta juga terancam tenggelam, enaknya saya tinggal dimana ya??

Saya rasa memang Pemerintah sudah saatnya bereformasi menjadi lebih baik sesuai dengan cita-cita reformasi sesungguhnya (Ingat beberapa tahun silam saat pak Harto digulingkan dengan mengagung-agungkan reformasi). Kemana rekan-rekan yang dulu meneriakkannya?Lantas apa solusinya sekarang?Ataukah kita sendiri masih sibuk untuk memperkaya diri kita masing-masing dengan materi?

Saya tidak berani meminta pemerintah mundur, hanya saja menanggapi krisis yg terjadi di pemerintahan beberapa tahun terakhir membuat hati tersayat-sayat…

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Menurut saya, pemimpin yang futuristik tidak lagi akan memikirkan Jakarta. Terlalu besar biayanya untuk memikirkan agar Jakarta tetap bisa menampung dan mendukung segala aktivitas di atasnya. Justru sebaliknya, jalan terbaik adalah STOP semua pembangunan apapun di Jakarta. Lakukan pembangunan di daerah lain yang lebih berguna buat membuat daya tarik orang untuk ke sana daripada kita menumpuk dan bertaruh hidup yang tak manusiawi di Jakarta.

Tadi malam di Metro TV saya sampai tidak tahan untuk melihat potret seorang ibu bersama 2 orang anaknya yang mengais mencari nasi sisa-sisa pekerja yang sudah dibuang ke tempat sampah. Lalu memisahkan nasi tersebut dari lauk ikan teri-kacang untuk disimpan beberapa hari sebagai cadangan makanan untuk mereka bertiga. Nasi sisa lebih lalu dikeringkan untuk membuat apa yang mereka sebut sebagai nasi aking untuk cadangan makanan juga. Bagaimana bisa para orang-orang berdaya (baca: pemerintah dan masyarakat sekitar) tidak melakukan intervensi untuk menghentikan hal ini. Termasuk saya, semua kita sudah ikut berdosa jika membiarkan hal ini terus berlangsung.

Sekali lagi, STOP membangun apapun di Jakarta, karena itu hanya pemborosan dan tak akan berguna banyak bagi masa depan rakyat kebanyakan. Kalau memang Palangkaraya akan menjadi ibukota, sebaiknya di sana saja mulai dipikirkan untuk membuat subway, monorail, LRT, pelabuhan udara, pelabuhan laut, jalan-jalan sekelas tol, well drainage, apartment-apartement dll.

Tanggapan 7 – Tri Langgana Hermawan

Sepakat dengan pak Dirman, saat ini Jakarta sudah ‘jenuh’ dengan segala yang ada didalamnya. Untuk melakukan perbaikan pun akan diperlukan daya yang tidak sedikit. Perlu dilakukan desentralisasi sehingga tidak hanya kota2 tertentu saja yang berkembang. Kawasan timur Indonesia,Kalimantan, Sumatra dan daerah2 lain di luar P.Jawa masih sangat potensial di kembangkan.

Tanggapan 8 – Ilham Hasan

Ikut Nimbrung,

Saya tertarik paragrap terakhir dari email Mas Hendra. Ada 2 point yg disampaikan di paragrap ini bhw:

1. Amblasx Jl. RE Martadinata karena masalah lokal;

2. Penelitian dilakukan untuk mengetahui sebab2 amblasx jln tersebut;

Point 1, pikiran sy sedikit bisa menerima bhw amblasx Jl. RE Martadinata karena faktor lingkungan lokalan saja di sekitar jln tersebut, tp tdk sepenuhx.

Point 2, yg pingin sy komentari. Sy pernah belajar hampir 5 thn mengenai oceanographic engineering. Apapun yg dibuat di sekitar pesisir pantai perlu sekali mengkaji secara cermat dan mendalam mengenai karakteristik pesisir pantai. Di pesisir pantai ada beberapa energi yang bisa mempengaruhi kekokohan bangunan di sana, tebing2 dan karang2 saja bisa terkikis dan rusak akibat energi tersebut, apalagi kalau hanya buatan manusia.

Di sana ada energi arus, ada ombak, dan angin juga cukup kuat. Khusus di sekitar pantai Utara Jakarta ini, klo sy mencermati besar dugaan saya ‘rip current’ yang cukup kuat di sekitar pesisi pantai di lokasi RE Martadinata ini yg berpotensi menggerus lokasi bawah jalan beton akhirx amblas karena sdh tdk ada daya topang karena terkikis arus. Rip current ini merupakan arus pantai yang sifatnya bisa berbalik 180 derajat pada dasar pantai. Arah pergerakannya tegak lurus menuju garis pantai dan setibanya di pantai ia berbalik dan menggerus/mengikis bibir pantai, akhirx bisa terjadi gerusan sedimen dan membuat rongga di bawah jalan. Rip Current ini cukup berbahaya juga bagi orang2 yg berenang di pantai. Bisa kita lihat sering terjadi orng terseret arus dan hilang, itu kadang2 penyebabx arus ini. Ia bergerak di bawah dasar pantai.

Selain itu, ada yang disebut longshore current. Ini arus sepanjang bibir pantai di pesisir. Untuk mengetahui ada tidakx, kita bisa lihat apabila terbentuk gundukan2 pasir di pantai kemudian membentuk jorokan/lidah ke arah laut dengan pola yg teratur. Tp sy kira arus ini tdk signifikan di lokasi tersebut. Rip current ini terjadi bila beberapa puluh meter ke arah laut lepas ada slope yg langsung agak terjal dan fetch lenght angin (jarak pembangkitan ombak oleh hembusan angin begitu panjang tanpa ada halangan)/ tanpa ada hambatan. Ini semua bisa memicu energi Rip Current yg berbahaya.

Makax, sebelum buat bangunan2 di pesisir, faktor lingkungan oseanografi ini harus diteliti lebih dalam dulu, dan sebaiknya memasang alat deteksi arus di beberapa titik dipasang paling tidak 3 bln pada level yg berbeda2 ada, hampir di dasar pantai, ada pertengahan dan ada permukaan. Mekanisme alamiah arusx seperti apa, longshore currentx bagaimana dan drip sedimentation/pengangkutan sedimennya seberapa cepat, semuax harus diteliti dulu sebelum bangun sesuatu di pesisir pantai, atau bila arus terlalu kuat, biasanya diberikan berbagai breaker baik wave maupun current. Kalau sudah amblas, baru diteliti, ini agak repot.