Flame arrester adalah alat (device) untuk menahan api sampai waktu tertentu sesuai desainnya. Misalnya pada aplikasi storage tank dipakai breather valve yang merupakan gabungan vent dan flame arrester. Pada aplikasi flare system, semua flare system sudah dilengkapi dengan flame/flash back protection. Proteksi pertama adalah purge gas. purge gas didesain dengan flowrate dan tekanan tertentu untuk memberikan perlindungan terhadap flash back. Untuk mengurangi konsumsi purge gas, flare dilengkapi dengan velocity seal atau molecular seal.

Tanya – ibnu.migas

Kebetulan ada sdkt design dimana Sy membutuh informasi tentang flame arrester di sistem flare.

Apakah tiap flare itu harus dilengkapi dengan flame arrester? Kita disini tdk mengkotakkan flame arrester yg bnyk dikenal dr bentuknya yg seperti corrugated plate interceptor di oil separator,saja. Tp semua jenis perlindungan flame feed back dr flare ke upstreamnya.

Terlebih bagaimana jika di 1 body flare ada 2 pipe inlet. inlet 1 adl gas dg CO2 tinggi,75%-an+ch4 8%-an. Inlet 2 lg adl gas dg CH4 dkk yg skitar 90%-an. Apakah keduanya hrs pakai flame arrester?

Tanggapan 1 – artha

Pak Ibnu,

Bisa lihat deh di website nya enardo, salah satu produsen flame atau detonation arrester, mereka ada guidance untuk design nya. Di situ lumayan jelas kok.

Tanggapan 2 – Simeon S. Ginting

Pak Ibnu,

Flame arrester adalah alat (device) untuk menahan api sampai waktu tertentu sesuai desainnya. Misalnya pada aplikasi storage tank dipakai breather valve yang merupakan gabungan vent dan flame arrester.

Pada aplikasi flare system, semua flare system sudah dilengkapi dengan flame/flash back protection.

Proteksi pertama adalah purge gas. purge gas didesain dengan flowrate dan tekanan tertentu untuk memberikan perlindungan terhadap flash back. Untuk mengurangi konsumsi purge gas, flare dilengkapi dengan velocity seal atau molecular seal.

Perlindungan kedua (sebagai optional) adalah liquid seal drum (LSD). LSD didesain untuk memberikan positive pressure di flare stack.

Flame arrester boleh-boleh saja dipasang di inlet pipe flare stack untuk lebih memberikan perlindungan ke upstream flare. Tapi ini bukan keharusan. Karena seperti yang saya sebutkan tadi, flare system sudah dilengkapi dengan flame/flash back protection. Yang perlu diperhatikan hanya apakah inlet pressure ke flare stacknya masih cukup atau tidak. Berapa pressure drop yang dihasilkan oleh flame arrester bisa dicheck ke vendor flame arresternya.

Tanggapan 3 – ibnu.migas

Pak Simeon,

Terima kasih utk masukannya.

Oya, berapa tekanan minimum aman utk inlet gas ke flare spy tidak menimbulkan back flame ke upstream?

Oya msh di perusahaan flare JZ?

Tanggapan 4 – Simeon S. Ginting

Pak Ibnu,

Tidak ada tekanan minimum aman utk inlet gas ke flare. Seberapa tekanan yang tersedia ke flare, maka vendor flare yang akan menawarkan type flare apa yang sesuai.

Tanggapan 5 – harry alfiyan

Pak Ibnu,

Sedikit tambahan saja mengenai penggunaan flame arrester di kedua inlet pipe flare yang Bapak gunakan. Secara fungsi, penggunaan flame arrester tidak dipengaruhi oleh komposisi dari gas yang akan di treat,. tapi lebih kepada seberapa besar proteksi yang hendak Bapak gunakan, kaitannya dengan safety reason. Hanya saja yang perlu Bapak perhatikan adalah kelemahan dari flame arrester yang kadangkala suka clog atau plug, sehingga memperbesar pressure drop.

Keterangan selebihnya sudah dijawab tuntas oleh Pak Simeon.

Tanggapan 6 – Alvin Alfiyansyah

Mas Ibnu,

Sebaiknya dihitung backpressure atau pressure di flare network pipingnya agar inlet pressure bisa lebih precise didapatkan.
Kalo pakai software bisa flarenet yg digunakan utk menghitung hal ini sedang secara manual juga bisa asal data isometrik ada agar precise.
Proteksi lain-lain sudah dijelaskan Pak Simeon. Hati-hati bila mau nambah flame arrester lagi, saya kira purge system dgn seal yg baik termasuk KO drum sudah memberikan proteksi yg baik. Pressure drop di flame arrester harus diperhitungkan dengan baik.

Semoga membantu.

Tanggapan 7 – ibnu.migas

Pak simeon dan pak alvin,

Terima kasih masukannya.
Dr sini sptnya purge seal mjd sesuatu yg lbh mandatory drpd flame arrester sendiri.

Utk itu sy akan fokus ke purge seal:

1. Bgm prinsip kerja purge seal?apakah gasnya cukup dg udara yg dihembuskan oleh blower di dinding bwh flare spy menimbulkan positif pressure di dlm flare?

2. Bgm jk flare hny menggunakan damper (natural draft-tnp blower), apakah itu berarti flare tsb tdk menggunakan purge seal?

Mhn penjelasannya,

Terima kasih sebelumnya

Tanggapan 8 – Crootth Crootth

Dear Mas Ibnu,

Sebaiknya setiap kirim e-mail rajin memberi judul topik bahasan (misalnya Process atau Drilling atau lainnya)

Mengenai Flare system dan Flame Arrester, semua partisan telah memberikan opini injiniring nya.

Saya hanya menambahkan beberapa hal saja:

1. Dalam merancang flare header sebaiknya menghindari banyak belokan (pemasangan elbow), atau penyempitan, atau baffling agar turbulensi dari gas yang sedang melaju pesat tidak ‘prone’ terhadap internal explosion. Kalau tidak salah sudah ada dua kasus ledakan di dalam flare system di Indonesia, sehingga mencegahnya adalah hal terbaik

2. Jika flare header utama menuju ke dua flare stack, patut dipertimbangkan alirannya agar salah satu flare stack tidak memperoleh beban lebih tinggi dari flare stack lainnya (Charlie’s Effect)

3. Pertimbangkan perubahan komposisi setelah penggabungan flare header A dengan CO2 (75% an) dan flare header B dengan CH4 (90% an) agar jangan sampai pas flare stack sudah dipasang ujug ujug ga nyala, karena ternyata seiring dengan berjalannya waktu flare header B komposisinya berubah menjadi cuma 70% CH4 dan CO2 nya naik jadi 20% … dengan perubahan (di masa depan ini) apa yakin flare masih nyala?/

Tanggapan 9 – ibnu.migas

Pak crooth,

Terima kasih utk sarannya. Sy juga ingin mendptkan informasi dr rekan2 semua, yg pernah berpengalaman disini.

Mengenai masukan ttg flarenya,sy jg berterima kasih utk inputannya.

Kita menggunakan BTU analyzer utk menentukan berapa methane yg hrs masuk ke pipa CO2. Insyallah kita dpt mengontrol komposisinya dr alat tsb.

Spt kita tahu nilai BTU yg diijinkan utk tjadinya pembakaran di flare tentulah = komposisi optimal didlm range segitiga api..Nah, yg sy khawatirkan td ya flame back ke dlm pipa inlet yg sdh diinject methane dan membentuk segitiga api.pipa inlet waste gas to flare nya 30′.

Demikian kami informasikan apa yg mjd kekhawatiran sy sebelumnya.