Penyebab utama Galvanic Corrosion (GC) karena adanya pertemuan dua logam dengan dua komposisi yang berbeda. Beda yang dimaksud bukan saja hanya pertemuan logam SS dengan Carbon Steel, atau sejenisnya, tetapi sesama jenis material yang beda kimia komposisinya juga bisa terjadi GC. Dalam dunia perminyakan, galvanic corrosion yang paling banyak terjadi pada pertemuan Flange to Flange dimana terdapat gasket spiral wounded, atau ring join gasket, atau pada sambungan metal. Disarankan bagi manufacturing, bila membeli material, jangan juga terlalu percaya pada mill certificate. Kalau material itu dipergunakan untuk membangun kepentingan produk vital, disarankan sebaiknya memgunakan jasa metal analyzer, agar komposisi material untuk produk tersebut bisa mendekati persamaan. Demikian.

Tanya – muhammad rifai

Kepada para materialis, mohon sharenya bagaimana potensial galvanic corrosion pada dua material berbeda yang disambung dengan las-lasan… selama ini saya lihat, las-lasan antara carbon steel vs stainless steel adalah umum dilakukan… paling tidak itu yang terjadi pada pressure vessel.

Tanggapan 1 – mmunarist

Cak,

Secara deret volta bakal ada beda potensial yang esensial antara keduanya, nah ini akan menyebabkan munculnya efek pengutuban ion (polarisasi ion) yang menyebabkan salah satu material tersebut jumlah ionnya menjadi tidak stabil dan ini akan menyebabkan timbulnya korosi.

Tanggapan 2 – Sugeng Hariyadi

Rifai,

Sebelumnya apa sudah dilakukan verifikasi atas kondisi yang terjadi pada PV anda dengan WPS yang sudah dipakai pada saat fabrikasi..?, Apakah PV tersebut dipasang pada plant yang penuh CO2 atau H2S..?.., seharusnya tidak terjadi galvanic corrosion ya.., kalau jenis kawat las yang dipakai sudah tepat..!

Tanggapan 3 – muhammad rifai

Pak Sugeng,

kira2 logicnya gimana ya? baru pengen tau agak dalam nih… sebab selama ini belum nemu jawaban yang memuaskan…

memang berdasar dari pengalaman (orang), nggak terjadi galvanic corrosion… tapi, masih belum terjelaskan mengapanya..

Tanggapan 4 – alek kurniawan

mencoba menjawab Pak,

sistem korosi galvanic cell bisa terjadi karena ada pertemuan antara empat elemen (keempat-empatnya harus terpenuhi):

1. Ada logam yang lebih positif (misal stainless steel)

2. Ada logam yang lebih negatif (misal carbon steel)

3 Ada Kontak antara kedua logam pada point 1 dan 2, dengan perantara media konduktif atau kontak anatar logam secara langsung (kontak eksternal)

4. Ada kontak antara kedua logam dengan elektrolit (lingkungan korosif)

pada pengelasan antara dua logam yang berbeda, bearti sudah terpenuhi point 1,2,dan 3.

Agar korosi tidak terjadi maka, point 4 harus dimodofikasi, jangan sampai terpenuhi, dalam hal ini harus dihindari adanya kontak antara sistem dengan elektrolit, caranya yaitu dengan aplikasi coating/cat.

Tanggapan 5 – Henry Margatama

Sewaktu kuliah dulu pernah di kasih tau. Untuk masalah galvanic corrosion ( SS vs CS ), kalau material CS nya cukup kecil dibandingkan dgn material SS yg jauh lebih besar. Galvanic Corrosion akan tetap terjadi namun karena material CS nya kecil, elektron yg dibutuhkan jumlahnya sedikit untuk terjadinya reaksi reduksi. Sehingga untuk terjadinya korosi galvanik butuh waktu yg lama untuk mengkaratkan material SS. Oleh karena itu, korosi (galvanik) yg dimaksud dianggap tidak terjadi. Prinsipnya sprt penggunaan paku rivet di attachment. CMIIW.

Tanggapan 6 – Sugeng Hariyadi

Rifai,

Kalau memang PV anda mengalami galvanic corrosion, logic-nya material pada per-sambungan metal yang berbeda tersebut tidak homogen, oleh karena itu harus dicarikan kawat las yang gradenya lebih tinggi dari metalnya (diatas SS)…, Anda bisa melihat guidance tersebut pada spec NACE pada umumnya dan NACE-MR175…perihal korosi, kalau untuk pembuktian atas korosi yang tlah terjadi, disarankan untuk melihat WPS-nya dan lakukan uji metalogical lagi, termasuk Vicker test di dalamnya.

Semisal kalau cairan yang ada di dalam bersifat asam kemungkinan metalnya akan kalah dalam hal ini material SS-nya, untuk PV, material CS yang dianjurkan adalah A-516 Gr-70 dan SS-321L untuk vessel yang tahan akan cairan asam dan perlu diperhatikan bahwa terjadinya proses korosi pada sambungan metal yang berbeda itu disebabkan percampuran komposisi chemical yang tidak homogen…, untuk menghindari terjadinya hal tersebut terjadi perlu dicarikan material (kawat las) yang gradenya lebih tinggi dari metal yang disambung.

Sedang kalau nanti PV tersebut akan dialiri cairan yang bersifat basah, sistem welding harus benar 2x bagus, seperti halnya welding dengan metoda MIG, Flug atau Argon selain dengan menggunakan kawat las yang grade-nya lebih tinggi. Tapi kalau cairan yang lewat katakanlah PH ( 7 ~ 8) terjadi korosi, itu perlu di teliti lagi jenis kawat las yang dipakai.., bisa – bisa grade ASPAL yang dipakai….

Tanggapan 7 – muhammad rifai

yang nomor 3, apa memang harus?

yang nomor 4, yang harus dicat yang positif atau yang negatif ya

btw, penggunaan ss dan cs biasanya dihindari krn galvanic corrosion, akantetapi sering juga untuk kasus yang diwelding nggak banyak yang bisa menyanggah… ini yang masih belum ketemu kenapa… minimal, beberapa kali proyek, ada pressure vessel yang shell platenya pakai cs dan ss.

Tanggapan 8 – Mubarok

Dear Mas2,

Mungkin yang dimaksud Mas Alex untuk point yang no 3, adanya kontak antara kedua logam memungkinkan adanya aliran electron dari logam yang menjadi anode ke logam yang menjadi cathode. Kalo nggak ada koneksi antara kedua logam itu kan berarti nggak mungkin si electron lari dari si logam anode, kalo nggak ada electron yang lari maka logam tersebut tidak akan menjadi logam positif karena jumlah electronnya nggak berkurang.

Kalo di di kapal2 kita sering pake zinc anode untuk melindungi badan kapal dari korosi pada lingkungan sea water. Zinc pada table galvanic series merupakan logam yang paling mudah terkorosi nomor dua setelah magnesium. Jadi lebih mudah karat ketimbang CS. Istilahnya demi melindungi badan kapal kita kasih makan saja zinc anode supaya corrode duluan.

Tanggapan 9 – M. Teguh

Pak Rifai,

urun rembug, sekedar menambahkan pak Alec, no. 3, supaya terjadi memang harus ada kontak antara SS dan CS, bisa dilas, baut, rivet dll.

Untuk banyak kasus yang tidak terjadi korosi galvanik pada sisi CS, kemungkinan fluida service nya tidak korosif (bukan elektrolit), atau mungkin luas permukaan CS jauh lebih besar dari SS jadi corrosion rate nya lama.

Untuk no. 4, sudah pernah dibahas sebelumnya di milis migas. Yang seharusnya di cat yang positip/cathode atau SS nya, atau sekalian keduanya. Kalau yang di cat yang CS dan terjadi ketidaksempurnaan cat (holiday), maka luasan CS yang tidak terlindungi dan menjadi anode sangat kecil dan akan terjadi konsentrasi korosi di titik itu.

Tanggapan 10 – farabirazy albiruni

Pak Rifai,

Biasanya penggunaan dissimilar weld tidak terkait dengan korosi aqueous yang dapat menyebabkan korosi galvanik. Umumnya pengelasan dissimilar weld antara low alloy steel dengan high alloy steel adalah untuk menghadapi kasus temperatur tinggi dan juga hydrogen attack. Kalau untuk kasus galvanik, biasanya hanya coating, lining, atau cladding yang umum digunakan untuk menghindari terksposnya langsung carbon steel dengan cairan korosif.

boleh tau detail kasusnya seperti apa?

Tanggapan 11 – muhammad rifai

Pak Abhie,

sbenernya nggak sedang dalam satu kasus kok, cuma beberapa waktu lalu ketika lead minta masukan tentang cladd vessel trus kebetulan ada nozzle kecil… dia hawatir fabrikator nggak bisa pakai overlay… saya cuma bilang, kalau nggak bisa trus gimana… dia bilang, mungkin pakai ss material dan sepertinya dia hawatir galvanic corrosioin… trus saya timpali saja… ya udah, pakai aja.. itu biasa kok

sekarang ingin pencerahan (atau lebihnya ke sharing) dari para miliser, apa dan bagaimana itu galv corr… apalagi baru dapet warning kalau milis migas hanya bisa OOT… padahal pada jago2 kok… mungkin hanya beberapa yang masih salah paham.

Tanggapan 12 – farabirazy albiruni

Pak Rifai,

mengenai prinsip galvanic sebenernya sudah sering di bahas dan banyak kok sumber untuk referensi teorinya. Saya cuma ingin menambahi apa yang telah di sampaikan teman-teman bahwa khususnya mengenai masalah penyambungan dissimilar weld antara low alloy steel dengan high alloy steel alasan utama pemilihan kawat las yang akan digunakan adalah strength dan bukan corrosion. Aspek metalurgi yang timbul akibat proses pengelasan sesuai dengan prediksi lewat Schaefler Diagram hanya untuk memudahkan kita dalam mendesain kekuatan hasil las-lasan. Kalaupun ada fenome untuk menghindari terjadinya intergranular craking akibat migrasi atom Cr, yah tak lain adalah karena secara strength, IGC menyebabkan hasil las2an bersifat getas. Selama dissimilar weld anda terendam dalam elektrolit, maka akan terjadi proses korosi galvanik. Saya sendiri pernah menemukan kasus galvanik yang menyebabkan kebocoran di samping dissimilar weld pada bagian carbon steelnya setelah beroperasi selama 20 tahun.

Itu aja yang bisa saya sharing…monggo para ahli lain yang lebih banyak jam terbang bisa menambahkan..

Tanggapan 13 – Frank

Ikut sharing,

Penyebab utama Galvanic Corrosion (GC) karena adanya pertemuan dua logam dengan dua komposisi yang berbeda. Beda yang dimaksud bukan saja hanya pertemuan logam SS dengan Carbon Steel, atau sejenisnya, tetapi sesama jenis material yang beda kimia komposisinya juga bisa terjadi GC. Dalam dunia perminyakan, galvanic corrosion yang paling banyak terjadi pada pertemuan Flange to Flange dimana terdapat gasket spiral wounded, atau ring join gasket, atau pada sambungan metal.

Disarankan bagi manufacturing, bila membeli material, jangan juga terlalu percaya pada mill certificate. Kalau material itu dipergunakan untuk membangun kepentingan produk vital, disarankan sebaiknya memgunakan jasa metal analyzer, agar komposisi material untuk produk tersebut bisa mendekati persamaan. Demikian.