Permasalahannya pada konstruksi jalan adalah tergantung juga dari frekuensi, volume, dan berat kendaraan yang lewat, disipasi tegangan tidak selalu akan tercapai. Beban dinamik yang terus menerus bekerja pada jalan menimbulkan akumulasi tegangan yang tidak terdisipasi pada lapisan tanah tersebut. Tegangan tak terdisipasi yang terakumulasi ini pada suatu saat besarnya bisa melampaui ‘preconsolidation pressure’ dari tanah bercampur semen tersebut dan terjadilah penurunan tanah yang cukup signifikan.

Tanya – SUHERMAN

Dear Teman2,

Kalau ada yang bisa bantu nih mengenai penyebab terjadinya penurunan permukaan jalan +/- 0.4m pada beberapa spot setelah diimprove dengan cara melapisi dengan soil cement recycling dengan ketebalan 0.3m dan campuran 5% cement, sebelum di improve jalan tsb sudah dipakai bertahun tahun tanpa ada penurunan, kita juga telah memastikan sebelumnya bahwa CBR untuk sub grade cukup memadai, kapasitas kenderaan yang melewati jalan tersebut sebelum dan sesudah di improve relative sama, mohon bantuan untuk mengetahui akar permasalahannya.

Tanggapan 1 – Ruth Renova

Untuk menanggapi persoalan yang telah dikemukakan saudara tadi, menurut saya sebaiknya di cek kembali bahan material yang telah ada (kondisi eksisting) jalan apakah dia sesuai dengan bahan perencanaan yang telah dilakukan pada masa konstruksi. penurunan jalan menurut saya, bisa juga dikarenakan compact tanah dasar kurang memenuhi syarat dan cek kembali untuk sub grade dan grade sendiri apakah semuanya sudah memenuhi ketentuan dari peraturan jalan raya. untuk peraturan jalan raya bisa didapatkan dari Departemen Pekerjaan Umum bidang Jalan.
semoga bisa membantu anda.

Tanggapan 2 – Agus Setianto Samingan

Yth. Pak Suherman dan rekan-rekan sekalian,

Menurut saya memang perbaikan tanah yang akan dipergunakan untuk jalan raya dengan mencampurkan semen bisa dibilang kurang tepat.

Setahu saya, dengan menambahkan semen, ‘preconsolidation pressure’ dari tanah akan naik bahkan kenaikannya bisa mencapai ribuan kPa. Akan tetapi sekali ‘preconsolidation pressure’ tersebut tercapai, kompresibilitas tanah (yang dicampur semen) tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan tanah asli yang tidak dicampur dengan semen.

Permasalahannya pada konstruksi jalan adalah, tergantung juga dari frekuensi, volume, dan berat kendaraan yang lewat, disipasi tegangan tidak selalu akan tercapai. Beban dinamik yang terus menerus bekerja pada jalan menimbulkan akumulasi tegangan yang tidak terdisipasi pada lapisan tanah tersebut. Tegangan tak terdisipasi yang terakumulasi ini pada suatu saat besarnya bisa melampaui ‘preconsolidation pressure’ dari tanah bercampur semen tersebut dan terjadilah penurunan tanah yang cukup signifikan.

Kemungkinan kedua mengingat terjadinya penurunan jalan hanya pada spot-spot tertentu saja adalah disebabkan ketidakhomogenan dalam pencampuran semen dengan tanah tersebut. Ataupun di titik-titik tersebut terdapat semacan residu yang memungkinkan ‘reversal reaction’ antara tanah, semen, dan air. Skenario terakhir ini kemungkinan besar akan terjadi kalau tanah yang digunakan adalah jenis lempung (clay) dengan aktifitas yang cukup tinggi dan ekspansif. Perlu diketahui juga bahwa tanah jenis lempung ekspansif dan semen adalah termasuk ‘interacting materials’ yang akan bereaksi dengan air. Dengan demikian maka interaksi antara material-material tersebut dengan air menjadi faktor penentu performa keseluruhan dari campurannya.

Terima kasih dan semoga bisa membantu.