Untuk optimasi length PC pile dengan dasar kedalaman boring N-SPT atau CPT kadang memang meleset/tidak sesuai. Data tersebut hanya sebuah pendekatan kondisi/struktur tanah pada areal kontruksi, kondisi tanah yang sebenar dibawah saja kita tidak tahu, hanya bisa mengestimasi kondisinya. So,pada case seperti biasa yang dilakukan oleh para superintendant adl melakukan trail pada titik pertama (dr group pile) berapa kedalaman pd elevasi final set dan kombinasi terbaik panjang pilenya. Setelah titik pertama, maka dilanjut ke titik kedua dan ketiga sesuai dg arah pergerakan/sequence kerja rig pancang. Biasanya searah dg pergerakan/sequence kerja rig pancang akan bisa didapat trend kedalaman pile sd elevasi final set.

Tanya – Ijef effendy

Rekans Milis,

Kayaknya langsung ke pokok permasalahan aja nih…he..he..he.., untuk menentukan panjang pile yang akan kita pancang pada suatu tempat dengan berpedoman pada data soil test yang telah didapatkan bagaimana mengoptimasi panjang pile tersebut terlepas dari rumus mekanika tanah… dan apabila data soil test yang didapat kedalaman boring N-SPT nya tidak seragam dan padahal radius titik area soil tidak begitu jauh ? data sample soil mana yang akan diambil..?, apabila rekans punya masukan dan saran boleh di share pada forum ini.

Tanggapan 1 – atok_trianto

Pak Jeffrey,

Untuk optimasi length PC pile dg dasar kedalaman boring N-SPT atau CPT kadang memang meleset/tidak sesuai. Data trsbt hanya sebuah pndekatan kondisi/struktur tanah pada areal kontruksi, kondisi tanah yg sebenar dibawah saya kita tidak tahu, hanya bisa mengestimasi kondisinya.

So,pada case seperti biasa yg dilakukan oleh para superintendant adl melakukan trail pada titik pertama (dr group pile) berapa kedalaman pd elevasi final set dan kombinasi terbaik panjang pilenya. Setelah titik pertama, maka dilanjut ke titik kedua dan ketiga sesuai dg arah pergerakan/sequence kerja rig pancang. Biasanya searah dg pergerakan/sequence kerja rig pancang akan bisa didapat trend kedalaman pile sd elevasi final set.

Sbg contoh, apabila rig pancang waktu mancang bergerak ke arah pantai, biasanya panjang pile akan lebih dalam. Dan yg dimaksd disini dg kombinasi pile adl sbg contohapabila elevasai final set adl +- 30 mtr, so kira bisa pakai kombinasi 12+12+10 atau 12+10+10,dsb. Tentunya, disesuaikan juga dg avaiable pile yg tlh ada on site. Demikian juga disesuaikan untuk kombinasi tipe pile yg digunakan (tipe pile A, B atau C).

Semoga bermanfaat, CMIIW.

Tanggapan 2 – r_widarbo

Rekan Jefrey,

Mungkin yang dimaksud disini adalah optimasi cost-ny? Untuk beban yang sama, sebenarny panjang pile bisa dikurangi, tetapi akibatny adalah jumlah titik pile akan menjadi semakin byk. Disini yang harus dilakukan adlh membandingkan mana cost yg lbh besar antara memanjangkan pile vs menambah jumlah titik pile.

Dari sisi teknis, dgn mengurangi panjang pile, jgn lupa utk mengkonsider settlement-ny, karena dgn berkurang kedalamanny, pile menjadi bertipe floating/ friction (bukan end bearing pile). Tentu saja ini mempunyai resiko lebih dibanding end bearing pile. Oleh karena itu, biasany safety factor utk friction harus lbh besar dibandingkan end bearing.

Utk data SPT, memang selalu berbeda. Tpi yg perlu ditanyakan adlh seberapa besar bedanya? Seberapa jauh jarakny? Well, lebih aman pake yg kecil.

Tanggapan 3 – Didit Hariyanto

Rekan Jefry,

Menambahkan pendapat dari pak Rahmat Widarbo sebelumnya, memang bisa terjadi kemungkinan akan terdapat perbedaan panjang PC pile dalam satu proyek, tinggal secara engineering bagaimana kita dapat mengatur pelaksanaanya. Pendapat saya akan lebih mudah mengatur untuk panjang pile yang sama dan ukuran yang sama pula dalam satu pondasi/ block pondasi, sehingga handlingnya lebih mudah.
Mohon rekan lain menaggapi.

Tanggapan 4 – tamrin sattung

Pak Jefry,

Sedikit menambahkan pendapat pak Rahmat Widarbo juga. Suatu pile apakah tipe friction atau end bearing pile tentu saja ditentukan oleh kekuatan tanah tempat pile itu sendiri, yang salah satunya diindikasikan dengan hasil SPT. Bisa saja suatu pile tidak perlu terlalu dalam untuk menumpu pada bedrock sehingga bekerja sebagai end bearing pile dan begitupun sebaliknya. Terima kasih.

Tanggapan 5 – dian.alexander

Pak Jefry,

Sekedar share saja,dasar penentuan dari final penentration pile bisa diperkirakan data tanah. Apabila data tersebut tidak seragam,sebaiknya di grouping dengan kondisi setiap group mempunyai design parameter. Nah biasa sebelum mancang,dilakukan juga analisa driveability. Disitu bisa diprediksi capacity,stress yg akan diterjadi sepanjang section pile,apakah hammer bisa dipakai untuk mancang smp target penetration dgn kondisi yg diterima. Adapun,ukuran pile yg dibutuhkan dan splice bisa diprediksi sebelum dilakukan pemancangan. Sejauh ini apakah dilakukan driveability analisis? Krn ultimate capacity akan sangat tergantung dari simulasi energy hammer&blowcount. Dan tentunya design parameter dari data tanah yg ada diperlukan pada analisa tersebut. Dari situ mungkin akan memudah Pak Jefry utk mendesign,sekaligus mengontrol design satisfaction untuk instalasi pile.

Catatan tambahan,nilai SPT untuk kondisi dinearshore sebaiknya dikoreksi dgn berbagai faktor,mis total rod,friction antar casing dan rod,standing water depth dll. Sebaiknya memenuhi nilai standard yg ada. Baiknya ada alat yg memonitor ukuran standard tsb,untuk menghindari nilai yg terlalu jauh range nya.

Semoga membantu.

Tanggapan 6 – r_widarbo

Setuju dgn rekan Tamrin. Lalu masalah perbedaan data SPT, saya pikir harus dilihat case by case, misalkan sbb:

1. Jika siteny ad di pinggir pantai atau pinggir sungai besar, secara umum lapisan tanah lunak akan lebih tebal di lokasi yg dkt sungai, dibandingkan yg jauh dr sungai. Dgn kt lain, elevasi tanah keras akan lebih dlm dibandingkan titik yg jauh dr sungai. Hasil SPTny pasti akan berbeda walaupun jarak titikny cukup berdekatan, malah sebaikny sengaja dites di beberapa tempat yg segaris dr yg titik plg dkt sungai ke titik yg lbh jauh. Gunany spy kita tahu kontur dr masing2 lapisan tanah, baik lunak maupun tanah keras. Hasilny : pile yg dkt sungai akan lebih panjang dr pile yg jauh dr sungai, utk mndptkan pile capacity yg sama.

2. Jika siteny ada di dataran yg homogen, scr umum hasil SPT tdk akan jauh berbeda. Sdkt perbedaan ini biasany dikarenakan koreksi alat, situasi pd saat tes, homogenitas tanah, etc. Jika ditemukan perbedaan signifikan, consider utk melakukan tes sekali lg utk memastikan.

Memang geoteknik ini msh byk yg grey area. Makany dlm perhitungan pile capacity, disarankan tdk hny mengestimasi dr SPT saja, tetapi jg dr CPT (jika dilakukan), lalu dicek lagi pd waktu pemancangan (final set), dan terakhir dicek lagi dgn menggunakan PDA (bbrp mgu stlh pemancangan, random sample). Jadi kita bnr2 yakin bhw pile tsbt puny capacity sesuai dgn yg kita harapkan. Disinilah seni-ny. :).

Tanggapan 7 – alex kajuputra

Pak Jefry,

Ada ahli tanah yg beranggapan bahwa penggunaan metoda soil test jg tergantung jenis tanahnya. Seperti SPT tidak cocok utk lunak dan lebih tepat memakai CPT. Sedangkan CPT cocok utk tanah lunak dan tanah keras tp ada batas kedalaman yg bisa dilakukan dan tidak bisa didapatkan sample tanah utk lab.

Begitu pula tujuan dari soil test itu juga menentukan jenis test yg perlu dipakai, misalnya utk design pile akibat lateral load akan lebih tepat pakai pressuremeter test.

Apapun itu hasil test tanahnya menurut saya hanya utk prediksi saja dan tetap diperlukan field test utk memastikan actual daya dukungnya. Bisa load test, PDA atau dari pile driving set. Dan memang saya setuju kalo Geotechnical itu banyak grey area dan masing2 engineer bisa punya pendapat berbeda. Tidak seperti di structural yg memang materialnya lebih mudah dprediksi sifat dan parameternya seperti utk beton dan baja.

Selain itu menurut saya optimasi pondasi beresiko tinggi karena sulit diperbaiki atau diperkuat setelah struktur atas jadi dan juga saya yakin biaya pondasi dibandingkan biaya totalnya mgkn tidak lebih dari 15%. Jadi utk apa susah2 optimasi kalo hasilnya tdk signifikan tapi resikonya besar.

Demikian sekilas opini.

Tanggapan 8 – Wahyu Pradityo

Dear Pak Jeffry,

Sekedar rule of the thumbs yg biasa sy pakai..Klo masi berbicara pada tataran engineering desain (terlepas dari SPT n CPT), biasanya tiang akan berhenti di kedalaman N-SPT 40-45 untuk tanah pasir (granular) utk tiang beton..n utk tanah clay tipikalny berhenti di kedalaman N-SPT 50-60 utk beton jg. Nah ini kebanyakan dijumpai di area pinggir pantai. Utk tiang baja biasany nambah2 dikit panjang tiangnya antara 3-5 m..Tapi ini tetap harus bapak dampingi dengan trial test di lapangan shg hasil desain bapak akan paling ngga mirip dengan lapangan..Tapi sekali lagi ini cm kebiasaan bodohnya yg sekali lagi harus divalidasi dengan perhitungan daya dukung yang tepat (dengan Plaxis lbh baik) dan trial test di lapangan.