Siapapun maunya ketika kapal beroperasi dalam kondisi even keel (rata) baik untuk kondisi full load, partial load atau light & heavy ballast. Tapi apa memang memungkinkan semuanya bisa terjadi? Umumnya ketika mendesain kapal direncanakan dalam kondisi Full Load atau mendekati Full Load kondisi sarat adalah even keel. Untuk kondisi operasional lainnya sulit untuk terjadi dan kalaupun diusahakan (ini tergantung keahlian Captain dan Mualimnya) perbedaan sarat haluan dan sarat buritan tidak terlalu besar. Memang bisa dikhawatirkan terjadi kondisi tidak stabil ketika terjadi perbedaan sarat haluat dan sarat buritan. Tapi itupun hanya untuk kondisi dengan perbedaan sarat yang besar dan masih sekedar asumsi awal. Karena masih diperlukan pembuktian terhadap kondisi stabil tidaknya (stabilitas kapal) setelah dilakukan perhitungan Intact Stability.

Tanya – muhammad rifai

Migas milister,

Kebetulan saya baru belajar tentang FPSO, dan dari pihak yang mendesain hull-nya ada spec : requirement : Note the spec requires a minimum of 1 deg trim by the stern. mohon masukan, apa maksudnya requirement tersebut.

Tanggapan 1 – Surya Yuwardana

Dear Pak Rifai,

Gampangnya:

Trim by stern adalah posisi kapal pada keadaan normal bagian belakang kapal lebih terbenam dr pada bagian depan/haluan kapal atau ‘njengat’ kalo org jawa bilang.

Kebalikannya adalah trim by bow, yakni bagian haluan kapal lebih terbenam daripada buritan kapal, atau ‘nungging’ kalau org jawa bilang.

Minimum 1 degree berarti kondisi kapal diusahakan minimum 1 derajat miringnya diukur dr kondisi ‘even keel’ atau sama rata ketinggian haluan dan buritan.

Tanggapan 2 – muhammad rifai

Pak Surya,

Njengatnya itu stabil atau nggak? maksudnya dalam operasi diusahakan njengat terus… dan itu minimum ya? jadi kapan2 bisa jadi untuk beberapa saat njengat lebih dari 1 derajat..

Secara fisolofi, kenapa mesti diusahakan njengat pak?…

Tanggapan 3 – budiono.iwan

Dear pak Rifai,

Sy cb menjawab, kenapa harus jengat? Pada saat kapal beroperai baling2 hrus terbenam smua untuk menghasilkan daya dorong yg maksimal serta mencegah patah akibat pressure yg beda. Pd saat kapal kosong kondisi even keel ada kemungkinan baling2 akan muncul sebagian dan utk menghilangkan itu mk kapal di buat jengat atau trim by stern.

Tanggapan 4 – priogade

Pak rifai,

Siapapun maunya ketika kapal beroperasi dalam kondisi even keel (rata) baik untuk kondisi full load, partial load atau light & heavy ballast. Tapi apa memang memungkinkan semuanya bisa terjadi?

Umumnya ketika mendesain kapal direncanakan dalam kondisi Full Load atau mendekati Full Load kondisi sarat adalah even keel. Untuk kondisi operasional lainnya sulit untuk terjadi dan kalaupun diusahakan (ini tergantung keahlian Captain dan Mualimnya) perbedaan sarat haluan dan sarat buritan tidak terlalu besar.

Memang bisa dikhawatirkan terjadi kondisi tidak stabil ketika terjadi perbedaan sarat haluat dan sarat buritan. Tapi itupun hanya untuk kondisi dengan perbedaan sarat yang besar dan masih sekedar asumsi awal. Karena masih diperlukan pembuktian terhadap kondisi stabil tidaknya (stabilitas kapal) setelah dilakukan perhitungan Intact Stability.

Khusus untuk definsi terjadi jengat 1 derajat, buat saya tidak bisa dikatakan bahwa terjadi bentuk sudut 1 derajat ditarik garis lurus dari haluan ke buritan kapal terhadap garis pararel. Masih terlalu awal jika mendefinisikan seperti itu. Bagaimanapun dalam suatu pemuatan kapal, kapal akan mengalami kondisi yang disebut hogging dan sagging. Kondisi hogging dan sagging ini akan menyebabkan terjadi defleksi di panjang keseluruhan kapal. Jadi mungkin saja ketika mengukur derajat di haluan kapal terjadi sudut jengat -2 derajat tetapi ketika di buritan sudut jengat yang terbentuk malah +1 derajat. Dalam mendesain kapal perlu diketahui kondisi trim untuk haluan, buritan, midship (tengah) dan menghitung koreksi sudutnya untuk tiap kondisi pemuatan.

Untuk kondisi full load, kondisi propeller pastilah terbenam keseruhan di dalam air. Untuk kondisi lainnya, belum tentu. Sehingga benarlah apa yang dikatakan bahwa diusahakan propeller terbenam dalam air ketika beroperasi. Ketika propeller terbenam maka efisiensi propeller akan tidak hilang. Jika ada beberapa bagian propeller kapal yang muncul di permukaan air, maka akan terjadi loss eficiency dan yang berbahaya akan terjadi instabillitas putaran propeller yang ujung-ujungnya akan merusak mesin induk kapal (main engine).

Tapi untuk kapal-kapal tipe F(P)SO dimana propeller dilepas atau tidak difungsikan, maka berkaitan dengan sudut jengat dapat dilihat alasan diatas sebelumnya.

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 5 – Ika Prasetyawan

Cak Rifai,

Requirement tersebut bisa jadi tidak ada hubungan dengan stabilitas kapal atau masalah propulsi. Bisa juga persyaratan trim tersebut berkaitan dengan ‘ambient condition’ untuk electrical / control equipment. Contohnya, pada kondisi trim 10 derajat maka emergency machinery dan electrical equipment, plus electronic appliances dan remote control system, harus dapat berfungsi dengan baik (LR FOIFL Rule Part 6 Chapter 2). Jadi ini biasanya dicantumkan sebagai salah satu requirement dari FPSO yang akan dibuat.

Tanggapan 6 – iwan aryawan

Sepertinya kebutuhan 1 derajat trim mah fungsinya untuk mempermudah cargo handling atau drainage. Misalnya dalam satu cargo tank, si 1 derajat slope ini cukup (dengan bantuan gravitasi) untuk mengalirkan fluid/oil dari arah bulkhead depan ke bulkhead belakang. Jadi untuk menyedot produced oil dari cargo tank misalnya, cukup menempatkan deepwell pump atau suction pipe di dasar cargo tank dekat dengat bulkhead belakang. Karena kemiringan tadi.

Fungsi lainnya, untuk mempermudah mengalirkan fluid dari tanki2 di depan ke belakang. Misalnya untuk proses pembuangan fluid setelah cargo tank cleaning ke slop tank yang biasanya terletak di bagian belakang kapal atau stern.

Tanggapan 7 – El Mundo

sbg tambahan saja:

requirement trim by 1 derajat kedepan atau kebelakang itu ada kaitannya dengan dua hal.

1. seperti yg dijelaskan oleh pak Iwan selain untuk mempermudah cargo handling, juga berkaitan dengan requirement ROB (Remaining cargo On Board), setelah stripping. Pada umumnya rob ini berkisar antara 0,01 – 0.05 % total volume di ukur pada kondisi trim (1 derajat misalnya). Maksud dari requirement ini agar dapat mempersingkat waktu tank cleanning (inspeksi) tanpa menghentikan operasi FPSO itu sendiri.

Ntar tankinya keburu penuh kalau tank cleanning & gas freenya lama lama. Apalagi kalau yang survey nya makmur (gemuk2) sehingga susah lewat manhole… just kidding!

2. Trim requirement juga berkaitan dengan minimum clearance requirement antara mooring leg dan bow jika FPSO menggunakan external turret mooring yang di pasang di depan. Walaupun bulbous bow telah di potong dan clearancenya dapat dihitung atau di simulasi, dgn requirement tsb dapat memperbesar jarak antara mooring leg dan bow FPSO pada saa even keel.

Tanggapan 8 – hartonojamin

Apa yg di jelaskan Pak El Mundo benar sekali.

Tambahan lg dr Orang Marine,

Kembali ke pertanyaan Minimum

requirement trim by 1 derajat kebelakang hanya buat cargo handling baik discharging atau tank washing. Jangan lupa hrs dimasukkan maximum trim by stern or head, juga list(heel) karena ada batasan untuk deck boiler dan turret (external).
Sebagai referensi di FDPSO terakhir

Max trim by stern: 4m, list: 2 deg, trim by head: 1m, itu semua tergantung desain floating objetnya.