Bore piling ataupun hydraulic piling memang memiliki tingkat resiko yang rendah dalam hal getaran dibandinng hammering. Namun pemilihan jenis piling tentu berdasarkan parameter-parameter misalnya kondisi site/lapangan, jenis tanah dan kandungannya, kapasitas daya dukung, sumber material ( fresh ready mix concrete), aksesbilitas peralatan, waktu/skedul, resiko dan biaya (ini komponen parameter yang paling dipikirkan project manager/manajemen) dan hal lain yang berkaitan.

Tanya – hadi muttaqien

Dear rekan2 Milis Migas,

Mohon pendapat, sharing atau bagi2 pengalaman perihal Hammer Piling berjarak sekitar tiga puluh s/d lima puluh meter yang dilakukan didekat Turbine (Generator) yang sedang beroperasi, karena ada yang berpendapat tidak merusak Turbine, tetapi ada yang berpendapat merusak Turbine.
Sebelumnya di ucapkan terimakasih.

Tanggapan 1 – Thomas Yanuar P

Hallo Pak Hadi,

Soal impact gelombang getaran dari hammer piling bisa saja mengenai dimana lokasi Turbine berada. Namun soal nanti Turbine tersebut bisa rusak atau tidak tentu soal lain, perlu kajian yang lebih mendalam dan tidak serta merta menjustifikasi kerusakan karena getaran hammer piling.

Jika belum terjadi hammer piling, lebih baik dilakukan dulu inspeksi/pemeriksaan secara menyeluruh terhadap ketegakan/plumbness equipment dan pondasi (atau table top pedestal jika turbine berada diatas 2 meter diatas permukaan tanah). Kemudian dilakukan pemeriksaan secara berkala sampi kegiatan hammering selesai. Baru kita bandingkan.

Kita tahu bahwa kepadatan massa dan kesatuannya mempengaruhi efek rambatan getar terutama dipermukaan. Dalam korelasi dengan getaran hammer piling, getaran yang sampai kepada pondasi/daerah dimana turbine berada dapat disiasati dengan memutuskan kepadatan massa dan kesatuannya. Salah satunya adalah dengan membuat semacam galian yang berbentuk saluran diantara sumber getaran dengan posisi permukaan dimana pondasi/Turbine berada. Lebar dan kedalaman saluran bisa bervariasi tergantung banyak faktor, seperti kepadatan massa tanah, besaran hammer dan diameter tiang pancang yang dipakai dan kondisi sekitar (seperti banyak tidaknya bangunan atau hanya berupa tanah kosong, apakah ada aliran sungai/air dan lain sebagainya).

Perhitungan teknisnya untuk mendapatkan berapa lebar dan kedalaman yang cocok bisa dilakukan. Namun berdasarkan pengalaman, saluran lebar seperti 1,5 m dengan kedalaman 2 misalnya cocok untuk pile berdiameter 30-40 cm didaerah dengan kondisi tanah lanau kepasiran. Getaran tidak bisa dihilangkan 100% namun bisa diperkecil pada jarak 30-50 meter.

Demikian saran dan pendapat saya.

Tanggapan 2 – hadi muttaqien

Pak Thomas,

Terimakasih tanggapan dan sarannya, memang kelihatannya beresiko kalau Hammer Piling, dari pada mengambil resiko, amannya ada alternatif lain seperti Hydraulic Piling, Bore Piling, bagaimana menurut pendapat pak Thomas, bila berkenan juga perhitungan biaya piling yang termurah dan tidak mengganggu Turbine tersebut.

Tanggapan 3 – Didit Hariyanto

Pak Hadi,

Pendapat pak Yanuar pernah saya applikasi untuk steel pile dia 600 (L = 50 – 60 m) tanah lanau, dengan jarak pemancangan terdekat sekitar 10 m dengan gas turbine – generator 150 MW yang beroperasi. Saya juga pernah menyaksikan hal yang sama (pile yang sama dengan jarak sekitar 25 m) dengan  Steam Turbine yang tetap beroperasi.
Getaran tetap ada dan bisa diestimasi dan hasilnya dapat dicompare dengan Analisa structure (beban paling extrim ketika turbine tripping ==> critical speed), semoga membantu.

Tanggapan 4 – hadi muttaqien

Pak Didit,

Terimakasih sharingnya, info terakhir yang saya dapatkan , memang bisa dilakukan Hammer Piling dengan sebelumnya di test dan dengan membuat parit di antara Hammer Piling dengan turbine. Tetapi kondisinya yang sudah melakukan dengan yang akan melakukan masih dalam pengumpulan data. Risk-nya ini yang masih perlu di pelajari terhadap toleransi Shaft Turbine apakah masih aman.

Tanggapan 5 – Gurukinayan

Biasanya instalasi unit turbin telah dipasang peredam getaran pada joint turbine unit ke pondasi yg berfungsi mengisolasi getaran dari turbin ke pondasi, tentu juga sekali gus mengisolasi getaran dari luar ke turbine unit.

Biasanya juga turbin di lengkapi sensor getaran yg berfungsi untuk me- Trip turbin tersebut ketika getaran sudah mencapai max yg dibenarkan.

Di hubungkan dengan getaaran yg terjadi saat Hammer Pilling, tentu saja dipengaruhi oleh banyak factor, mis : jarak dan juga structur tanah.
Sejauh getaran tersebut tidak akan menyentuh H-Vibration tentu saja aman, namun bila getaran tersebut melewati max getaran yg di recomendkan oleh fabrikator turbin, maka turbin tersebut akan Trip.

Tentang kerusakan yg akan terjadi, mungkin perlu kita ketahui dan menyamakan presepsi kerusakan apa yg di maksud. Kalau turbin trip yg di maksud sebagai kerusakan, tentu seperti uraian diatas.

Tanggapan 6 – Thomas Yanuar P

Pak Hadi,

Bore piling ataupun hydraulic piling memang memiliki tingkat resiko yang rendah dalam hal getaran dibandinng hammering. Namun pemilihan jenis piling tentu berdasarkan parameter-parameter misalnya kondisi site/lapangan, jenis tanah dan kandungannya, kapasitas daya dukung, sumber material ( fresh ready mix concrete), aksesbilitas peralatan, waktu/skedul, resiko dan biaya (ini komponen parameter yang paling dipikirkan project manager/manajemen) dan hal lain yang berkaitan.

Coba kita urai sedikit plus minusnya:

1. Kondisi site dan jenis tanah. Biasanya hal ini yang muncul pertama kali dibenak para foundation/civil engineer. Jika jenis tanah rawa/tepi pantai, dominan lempung, muka air tanah tinggi, maka pemakaian bore piling biasanya dihindari. Kenapa? hal ini terkait dengan faktor resiko dalam pembuatan pondasi itu sendiri. Misalnya keruntuhan lubang setelah dibor (meskipun bisa dibantu casing namun biasanya panjang casing terbatas), kualitas pencampuran beton ketika dituang (ready mix bisa terkontaminasi air tanah dan lumpur yang dominan, padahal kuat tekan beton juga tergantung dari faktor kandungan air). Untuk kondisi tanah dan site seperti ini, hammer piling menempati pilihan pertama.

2. Sumber material. Material hammer piling biasanya sudah berupa produk jadi (baik concrete pile maupun steel pile) sedangkan untuk bore harus cast insitu (atau dibuat ditempat).

3. Kapasitas daya dukung. Untuk hammer pile karena sudah berupa produk jadi maka pilihan ukuran menjadi terbatas untuk mendukung suatu beban. Sehingga untuk suatu titik pembebaban sekian puluh ton diperlukan 3-6 hammer pile. Perlu diingat jumlah tiang terpancang tidaklah mewakili kapasitas dukung terukur 1 tiang (tiang tunggal). Ada faktor pengurangan efektifitas tiang.Jadi jika 1 tiang bisa mendukung beban 12 ton misalnya, jika dipancang 2 tiang dalam satu grup pemancangan bukan berarti menjadi 24 ton, tetapi kurang dari itu.
Dalam hal daya dukung untuk beban besar per titik, bore pile menjadi pilihan pertama karena diameter bisa dibuat lebih besar dari hammer pile sehingga tidak perlu banyak pile.

4. Aksesbilitas. Perlu dilihat kondisi pencapaian tempat dimana pile akan ditempatkan. Jika memakai hammer maka pertimbangan utama adalah daerah untk pergerakan crane, dan biasanya pihak kontraktor pondasi lebih banyak metode untuk mensiasatinya. Sedangkan jika memakai bore, tambahkan dalam pertimbangan yaitu akses untuk ready mixer truck terutama jika mengambil ready mix dari batch plant diluar site yang berimplikasi terhadap faktor lingkungan sekitar (jalan dan penduduk). Juga perlu dipertimbangkan lahan untuk penempatan tulangan beton (baik dirangkai ditempat ataupun beli jadi) sebelum dimasukkan kedlam lubang bor.

5. Waktu/Skedul. Tiang pancang biasanya lebih cepat dari bore dalam skala kuantitas yang sama.

6. Resiko. Bore pile lebih unggul dibidang resiko getaran dibanding hammer. Apalagi jika posisi lahan didalam live plant dan banyak rumah penduduk.

7. Biaya. Tergantung dimana lokasi berada dan resiko. Jika remote area hammer bisa lebih murah dan praktis namun jika didaerah yang mempunyai aksesbilitas baik serta diperlukan mendukung beban besar per titik, bore bisa jadi pilihan. Resiko patut dipertimbangkan seperti poin 6. Adakalanya diatas kertas pilihan terhadap sistem ini itu lebih murah dibandingkan lainnya namun pada faktanya sistem yang dipilih dapat menimbulkan resiko besar yang berujung (jika resiko tersebut terjadi) pada biaya tak terduga yang menguras kantong, waktu dan tenaga.

Dalam hal ini diperlukan assesment terlebih dahulu.
Begitu sedikit pendapat saya Pak Hadi, maaf kalau tambah bingung hehehehe…

Tanggapan 7 – Alex Iskandar

Bagus sekali uraiannya pak Thomas Yanuar..

Sekedar sharing mengenai piling pada proyek saya, pemasangan 2 gas kompresor baru sebagai tambahan dari 2 eksisting.

Sebelumnya pada awalnya memang direncanakan menggunakan bore pile.. Namun persis seperti yang di quote pak Yanuar, bahwa pertimbangan: Waktu, remote area, dan ke-ekonomisan (walaupun sudah seharusnya menggunakan metode ini di dokumen kontrak).

Waktu pemasangan bore pile bisa 2 kali lebih lama, dari boring, pengecoran dan curing.
Belum lagi menemukan peralatan yang cocok spesifikasinya di ‘live plant’, paling tidak engine yang digunakan adalah hydraulic atau diesel engine.
Dan peripherals peralatan bore pile, semacam mini batching plant yang harus dimobilisasi.
Dibandingkan dengan jumlah piling yang harus dipasang.

Dan akhirnya digunakan metode hydraulic hammer pile. Karena metode ‘push pile’ sangat susah menemukan peralatan yang tepat.
Mitigasi yang dilakukan adalah dengan menganalisan metode ini dengan pengetasan rambatan getaran, vibration, pada saat sebelum pengerjaan. Pengetesan dilakukan di Jakarta, karena kebetulan ada proyek piling yang sedang berjalan. Dan dikompare dengan batasan vibrasi yang diijinkan oleh kompresor, terutama pada vibration switch kompressor tsb.
Kami beruntung karena kondisi tanah di field lebih ‘lunak’ karena merupakan pengerasan geotekstil di Rawa, dibandingkan dengan di Jakarta.

Dan pada saat pekerjaan dilakukan vibration monitoring terutama pada saat awal-awal pekerjaan piling, dan koordinasi dengan Operation untuk mitigasinya dan dimasukkan kedalam SIMOP.
Hasilnya memang pekerjaan lebih cepat dan effisien.
Walaupun kita harus menghindari penyambungan dengan pengelasan, namun menggunakan metode ‘triple plate joints’ dengan menggunakan bolting.

Demikian sekedar share, walaupun saya bukan ahli di civil works.

Tanggapan 8 – hadi muttaqien

Pak Thomas, Pak Alex,

Sungguh mencerahkan tanggapannya, terimakasih banyak saya ucapkan, bisa menjadi bahan pertimbangan kami.

Terimakasih dan Salam,