Kadar emisi SOx seperti yang kita ketahui konsentrasinya akan sebanding dengan kandungan sulfur dalam bahan bakar. Sehingga jika maksudnya ingin mereduksi emisi SOx, maka bahan bakar yang telah digunakan harus di switch ke bahan bakar yang mempunyai kandungan sulfur yang rendah. Namun jika kita ingin mengontrol emisi SOx agar nilainya di bawah ambang batas yang dipersyaratkan Bapedal, maka harus invest peralatan baru yang fungsinya untuk ‘menangkap’ Sox sebelum flue gas dibuang melalui cerobong atau sering dikenal dengan istilah Flue Gas Desulphurisation (FGD). Jenis penangkap emisi SOx ini ada dua tipe. Pertama tipe kering yang menggunakan limestone dan tipe basah yang menggunakan air laut. Di power plant paiton digunakan tipe basah, menggunakan air laut dengan efisiensi penangkapan SOx up to 95%. Jadi jika misalnya sebelumnya konsentrasi SOx = 2000 mg/Nm3, dengan menggunakan FGD, konsentrasi akhir akan menjadi hanya 100 mg/Nm3 yang jauh di bawah persyaratan ambang batas lingkungan.

Tanya – Mahyudanil

Dear Rekans,

Kami punya masalah dengan SOX yang ada di flue gas setelah dilakukan penggantian bahan bakar untuk Boiler dan Fired Heater dari IDO (Industrial Diesel Oil) ke campuran IDO-MFO (Marine Fuel Oil). Seperti telah diprediksi sebelumnya kadar emisi SOX di flue gas melonjak naik melebihi baku mutu emisi yang ditetapkan KLH sebesar 800 mg/M3 gas buang.

Mohon sharing infonya bagi rekan-rekan yang pernah punya pengalaman dalam mereduksi SOX di dalam flue gas. Terimakasih sebelumnya

Tanya – marihal@ytljt

Dear Pak Danil,

Kadar emisi SOx seperti yang kita ketahui konsentrasinya akan sebanding dengan kandungan sulfur dalam bahan bakar. Sehingga jika maksudnya ingin mereduksi emisi SOx, maka bahan bakar yang telah digunakan harus di switch ke bahan bakar yang mempunyai kandungan sulfur yang rendah. Namun jika kita ingin mengontrol emisi SOx agar nilainya di bawah ambang batas yang dipersyaratkan Bapedal, maka harus invest peralatan baru yang fungsinya untuk ‘menangkap’ Sox sebelum flue gas dibuang melalui cerobong atau sering dikenal dengan istilah Flue Gas Desulphurisation (FGD). Jenis penangkap emisi SOx ini ada dua tipe. Pertama tipe kering yang menggunakan limestone dan tipe basah yang menggunakan air laut. Di power plant paiton digunakan tipe basah, menggunakan air laut dengan efisiensi penangkapan SOx up to 95%. Jadi jika misalnya sebelumnya konsentrasi SOx = 2000 mg/Nm3, dengan menggunakan FGD, konsentrasi akhir akan menjadi hanya 100 mg/Nm3 yang jauh di bawah persyaratan ambang batas lingkungan.
Semoga membantu.

Tanggapan 1 – Ikhsan@asc

Dear Pak Danil/Pak Albert,

Sekedar tambahan,

Kalau lihat cost investasi FGD yg ideal cukup lumayan tinggi belum termasuk power (jika draft pressure dari Furnace Boiler < delta press unit FGD.

Yang saya ketahui metode untuk FGD antara lain :

1. Menggunakan catalitic converter, mengconvert SO2 menjadi SO3 kemudian dapat menghasilkan H2SO4 98 % jika di kontakkan dgn water. Tetapi investasi cost very expensive kecuali kalau memproduksi H2SO4. Possibility ROI harus menghasilkan SO2 dari stack minimum 2 % vol.

2. Menggunakan Wet scrubber (bisa pakai WSS,Air Industri,Effluent Water, dll) tetapi sebaiknya mengandung NaOH. Jika pakai WSS seperti di Paiton kelihatannya perlu ratio L/G yg besar (one pass through/ water circulation yg besar) untuk mencapai eff 95 % yg dikatakan Pak Albert, kalau ada rekan yg di Paiton boleh dong di share ke milis.

3. Menggunakan Ventury scrubber yg dikombinasikan dengan alkali solution, tetapi perlu trial yg lebih detail karena semakin kecil partikel (< 0.5 micron) ventury scrubber kelihatannya tidak effektif.

4. Replacement Fuel Oil Boiler dgn low sulfur seperti Natural Gas/Batubara dll.Nilai ekonomisnya bisa dihitung sendiri….dan kontraknya long term saja maklum harga BBM melambung terus.

5. Mixing dengan Fuel Oil yg low sulfur seperti yg dilakukan Pak Danil (IDO + MFO) tetapi perlu pengaturan aktual ratio yg sesuai untuk mencapai SOx target di flue gas Boiler.

6. Kalau ada utilize energi yg di vent out ke atmosfir seperti H2, vent gas yg nilai bakarnya masih tinggi…..saya yakin Bapak2 di milis ini cukup capable untuk mendesign Dual Fuel / Dual burner.

Kalau bicara investasi…..biasanya Top management lebih mengarah harus ada saving costnya (ROI tinggi), so sebaiknya di coba lebih comprehensif dulu kenapa setelah di mix dgn Low sulfur, nilai SOx masih tinggi antara laian :

1. Apakah sampling di stack telah sesuai dgn goverment regulation (kalau gak salah sampling point berada diantara 2D dari atas & 8D dari bawah).

2. Di normal sampling sebaiknya ada N2 purge kecil continue, di close saat di sampling

3. Perlu komparasi dengan Labo third party & Internal Labo/portable analyzer Flue gas, jangan2 kesalahan dari analisa/analyzernya.

4. Saat sampling sebaiknya diyakinkan excess O2 < 10 %, saya yakin Pak Danil bisa kontrol < 4 %. Standarisasi SOX di peraturan pemerintah harus di conversi dengan O2 10 %.

5. Jika item 1 s/d 4 sudah terpenuhi/sesuai yah kelihatannya harus di banyakin ratio IDO nya sampai SOx < 800 mg/Nm3 (Blue proper).

Semoga membantu, mohon ma;af jika ada yg keliru.

Tanggapan 2 – Mahyudanil

Pak Albert/Pak Ikhsan,

Terimakasih atas pencerahannya.

Ada beberapa hal yang masih ingin saya tanyakan tentunya bila teman2 yang ada di milis ini masih berkenan untuk sharing ilmu dan pengalaman.

1)Apakah ada jenis chemical/additive yang bisa diinjeksikan ke dalam fuel oil yang tujuannya untuk mengikat SO2 pada saat proses pembakaran dan membuatnya menjadi padatan yang mungkin akan menempel di dinding boiler/heater stack (tidak ikut keluar bersama flue gas). Kalo bisa yang sifatnya sudah commercially proven.

2)Apakah ada cara sistem/metode yang digunakan untuk menyerap sulphur compound dari fuel oil sejenis Scrubber System atau jenis lainnya. Dalam hal ini fuel oil terlebih dahulu diumpankan ke system/unit tersebut sebelum dikirim ke boiler/heater.

3)Apakah ada jenis chemical/additive yang bisa diinjeksikan ke dalam storage system yang tujuannya untuk mengikat sulphur compound dan mengendapkannya di dasar tangki. Sehingga sulphur compound yang terkandung dalam fuel oil yang diumpankan ke boiler/heater akan turun secara signifikan.

Sebagai informasi konsumsi BBM di tempat saya adalah sekitar 7500 KL/bulan. BBM tersebut masih kita konsumsi sampai adanya suplai natural gas dari PGN SSWJ Project(kabarnya sih Pebruari 2007).

Tanggapan 3 – marihal@ytljt

Dear Pak Danil,

Untuk fuel oil pre-treatment dalam hubungannya dengan emisi SOx, saya belum pernah dapat info mengenai hal tersebut, mungkin karena selama ini di PLTU Paiton, fuel oil hanya digunakan saat start-up, sehingga fokus kami lebih kepada treatment batu bara sebagai bahan bakar utama. Mungkin rekan-rekan yang bekerja di PLTU yang menggunakan fuel oil sebagai bahan bakar utama bisa sharing pengalamannya. Sekedar menambahkan, slag atau foul yang menempel pada pipa-pipa boiler justru merupakan ‘nightmare’ di industri coal power plant dan sedapat mungkin dikurangi, selain itu jika kita mengurangi kandungan sulfur dalam bahan bakar, maka hal yang perlu dipertimbangkan adalah penurunan nilai kalor bahan bakar yang tentunya akan berdampak kepada konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.

Tanggapan 4 – donald silalahi

Dear p.albert

saya tertarik dengan pernyataan bapak ‘nightmare’ slag atau foul yang menempel pada pipa-pipa boiler khususnya coal fire power plant. Mohon pencerahannya pak,

a. kira2x apa penyebabnya (apakah karena berbahan bakar batubara)

b. apakah itu terjadi pada pipa boiler saja atau termasuk pipa2x steam diluar boiler tersebut.

Tanggapan 5 – marihal@ytljt

Dear Pak Donald,

Mengapa saya pilih kata ‘nightmare’ karena sampai saat ini fenomena pembentukan slag dan foul masih merupakan tahap penelitian dan trial, belum ada solusi yang pasti. Namun secara umum slag dan fouling diyakini terjadi karena adanya kandungan abu dalam bahan bakar batubara serta karakteristik ash fusion temperature dari masing-masing bahan bakar batu bara. Dalam kandungan abu ini terdapat kandungan Natrium yang merupakan komponen utama terbentuknya slag serta sulfur sebagai komponen utama terbentuknya fouling. Slag terjadi di daerah temperatur tinggi, yaitu di daerah waterwall sampai furnace exit. Sedangkan foul terjadi di daerah temperatur rendah (di luar
boiler), yaitu di sekitar Air Heater inlet.
Sampai saat ini senior saya di salah lembaga penelitian nasional masih terus meneliti fenomena slag dan fouling ini, jadi semua yang terkait dengan masalah ini memang harus sama-sama belajar 🙂

Tanggapan 6 – Risang Raheditya

kalo boleh menambahkan fouling yang terjadi pada air heater memang berasal dari endapan sulphur gas buang hasil pembakaran yang mengembun akibat proses perubahan fase dari gas ke padat. proses ini terjadi karena adanya pertemuan antara gas buang yg panas dengan udara pembakaran yg bertemperatur lebih rendah melalui proses perpindahan panas, sebab pada dasarnya air heater termasuk dalam alat penukar panas tipe mixed flow. Sedang fenomena terbentuknya endapan lumpur mungkin orang kimia bisa menjelaskan lebih lanjut.