Mohon bantuannya saya butuh code SNI-13-3474-2002. Mohon di share ya kalo ada punya.

Tanya – Iyus Suherlan

Dear milis…

Yth milisir Migas, mohon bantuannya saya butuh code SNI-13-3474-2002. Mohon di share ya kalo ada punya.

Tanggapan 1 – Triez

Saya pikir kalau merefers ke ASME/ANSI B 31.8 tidak akan begitu jauh karena beberapa clausal SNI-13-3474-2002 juga merefers ke international code seperti ASME/ANSI untuk Standard Sistem perpipaan transmisi dan distribusi gas.
saya kurang tahu tapi klo SNI-13-3474-2002 mungkin harus menguhubungi Pusat Standardisasi Nasional.

Tanggapan 2 – jakindosidoarjo

SNI bisa didapat (dibeli) di Perpustakaan BSN, Manggala Wana Bhakti, lantai 3. Kalau std nya sdg ada murah kok.

www.jakindo.co.id

Tanggapan 3 – joko aprilanto

Saran pak, Mestinya dipermudah cara mendapatkan SNI tsb, dg cara beli via internet atau di perpustakaan2 Propinsi/ atau lembaga2 (seperti Perindustrian) SNI ini bisa mudah di dapat jadi yag di Irian atau Aceh atau Sulawesi tidak perlu datang Ke Maggala Wana bakti. Trimakasih.

Tanggapan 4 – jakindosidoarjo

Sebetulnya sdh ada kemudahan utk mendapatkan SNI dan std internasional lainnya di perpustakaan BSN. Tinggal kirim permintaan atau pesanan std ke email. Dokinfo@bsn.go.id.
Utk ISO dan ASTM harganya lebih murah dr distributor resmi, jika menjadi anggota Mastan

Tanggapan 5 – Sugeng Hariyadi

saran pak Joko ini bagus juga untuk diimplementasikan, masak jaman modern gini mesti tenteng – tenteng segebok kertas dari jakarta ke luar daerah, kalau beli 2 spec SNI, dikumpulin lebih dari satu kilo, capek juga bawa sana – bawa sini…, semestinya pihak yang berwenang memikirkan bagaimana cara SNI ini gampang diakses supaya bisa dijadikan referensi di Indonesia…., yang lain pada online…, ini masih fotocopy….., akan lebih parah kalau hasil fotocopynya kurang memuaskan………’

mudah – mudahan, pihak yang diberi mandat bisa mengakomodir usulan ini…

Tanggapan 6 – didik setyohadi

Kalau tidak salah SNI bisa di download gratis di websitenya BSN di www.bsn.go.id

Tanggapan 7 – Iyus Suherlan

Terimakasih Pak Didik dan Pak Tris, saya sudah dapet SNI nya. Benar, SNI bisa diunduh gratis di website BSN.

Tanggapan 8 – Putri Yuanita

Dear all,

yg pernah saya gunakan SNI 3474:2009 Sistem Penyaluran dan Distribusi Pipa Gas,and it’s totally ‘menjiplak’ ASME B31.8. Ngakak juga sih liatnya, apa memang kita cuma bisa mentah-mentah menjiplak design code punya orang tnp memodifikasi dgn mempertimbangkan kondisi desain di dalam negeri? Dari Pak Tris, saya ambil kesimpulan SNI-13-3474-2002 juga untuk pipa gas, nah ada yg tau bedanya dgn SNI 3474:2009 yg juga ttg pipa gas?mungkin lebih beradab dalam menjiplak dan kontennya lebih bermutu? (^_^).

Tanggapan 9 – karyo pelor

Mba Putri,

Memang kita harus lebih banyak & ekstra kerja keras lagi untuk menghasilkan sesuatu yg betul2 home made asli indonesia dg berbagai environment & habitnya (tentunya failure yg tjd pd pipeline diindonesia bsa dijadikan referensi jg), saya yakin tdk mudah membuat hal spt itu banyak faktor yg berpengaruh…..

Tentunya para ahli yg sdh membuat SNI ini telah betul2 bekerja keras jg dlm membuat sbuah standar acuan yg akan dipakai scara nasional, krn justru dg keahliannya membaca & background pengalamannya memang pipa2 diindonesia banyak yg didesain sesuai standar amerika ASME maupun API, khususnya u. gas pake ASME B31.8 sedang oil pake ASME B31.4, so american way pada dasarnya….shg apabila SNI ini mengacu kpd ASME tsb itu akan lebih cocok dg kebanyakan pipa diindonesia…dan jg krn di ASME B31.4/8 pun mengatur baik pipa darat maupun pipa offshore, jadi sudah cukup lengkap, adapun kekurangan2 analisa/materi yg tdk dicantumkan di ASME tsb bisa diambil dari code/standard yg lain selama logis & dpt dipertanggungjawabkan scara teknis…

Memang tdk dpt dipungkiri scara redaksi masih banyak typical error yg harus dibenahi dan tdk menutup kemungkinan pula kedepannya disempurnakan dg kondisi yg ada diindonesia. Perlu diingat jg bahwa SNI ini jg milik bersama warga indonesia jd sudah semestinya jg kta2 warga negara berhak dan ‘wajib’ pula memberikan revisi/masukan2 serta kritik kpd pihak BSN aka ahli2 pembuatnya….

Tanggapan 10 – Dirman Artib

Sebagai orang yang pernah menjadi anggota Sub TC dari KOMTEK67S yaitu komisi teknis yang bertugas tahun 2004, saya mau menerangkan bahwa khusus SNI yang dikembangkan untuk industri migas memang menyadur dari standard-standard yang sudah lebih dulu lahir, karena memang begitu guideline nya dari BSN, namanya dalam Bahasa Indonesia kira-kira ‘Adopsi identik’. Ada 2 pendekatan yang diberikan oleh guideline yaitu :

1. Adopsi identik, yaitu langsung menterjemahkan bahan standard API ke dalam Bahasa Indonesia.

2. (Kalau nggak salah ‘Adopsi ekivalen’ , Maaf mungkin saya lupa, tolong Pak Edwin, Pak GunSir dan kawan-kawan lain nya mantan KOMTEK 67S membantu)

Memang cara no.1 yang kita terapkan pada waktu itu.

Cara no. 2 pernah sekali dicoba di Sub TC saya, maka 1 paragraph dari bahan API memerlukan waktu berdebat hampir 2 jam atau rata-rata 1.5 jam, sementara pekerjaan ini hanyalah volunteer dan kita sebagai professional yang digaji oleh majikan masing-masing tak punya budget waktu yang banyak dari majikan.

Ke 2 pendekatan di atas adalah cara umum pengembangan standard-standard nasional di dunia, termasuk ketika ISO mengadopsi standar -standard yg dikembangkan oleh negara-negara Eropa seperti DIN (German), BS (British), Norsok (Norway).

Jadi kalau di masa akan datang baca standar Made in group Pak Gunawan Siregar yaitu di Pipeline BS vs Pipeline API jangan ngakak lagi, karena memang begitu normanya.

Btw.

Saya pernah lakukan study kecil-kecilan bahwa Safety Shoes standard BS EN dan SNI ketika diadopsi banyak yang dihilangkan, misalnya test mampu tusuk, konduktivitas listrik dan daya serap air. Tampaknya di SNI persyaratan itu dihilangkan, sehingga sebuah pengalaman dari seorang operator yang menggunakan Safety Shoes saat perbaikan rumahnya tertembus paku. Hal ini yang mendasari saya melakukan study dan megusulkan kepada Manajemen Majikan agar tidak lagi membeli Safety Shoes hanya SNI standard.

Tanggapan 11 – Putri Yuanita

Pak Didik,

di website BSN, tidak semua SNI tersedia. Untuk SNI 13-3474-2002 tidak ada, jd harus k perpus BSNnya sepertinya.

Tanggapan 12 – farabirazy albiruni

Rekan Migas YTH,

Di Indonesia hampir praktis tidak ada asosiasi profesional yang kuat untuk menjadi ujung tombak lahirnya standar yang digunakan sebagai code/rule dalam suatu kegiatan industri. Makanya sekarang lagi giat-giatnya beberapa asosiasi profesi di Indonesia membangun sense tersebut seperti Asosiasi Pengelasan Indonesia, Asosiasi Uji Tak Rusak Indonesia, dll. Effortnya juga memang sangat banyak jadi tolong hargai kerja rekan-rekan kita yang jadi volunteer di sana dan kalaupun bacanya sampai ‘ngakak’ yah wong jangan di sebut secara explisit seperti itu. Kalau Mbak Putri punya keahlian silahkan volunteerkan diri anda di asosiasi-asosiasi yang sesuai dengan back ground Mbak Putri. Mudah2an hasilnya ke depan dengan keterlibatan Mbak Putri akan lebih baik SNI yang dihasilkan dan Indonesia tidak jadi tempat sampah bagi teknologi asing.

Bagi rekan-rekan KMI yang tertarik untuk menjadi volunteer di bidang NDT, saat ini kebetulan saya sedang terlibat aktif di Asosiasi Uji tak Rusak Indonesia sebagai salah satu nggota scientific committee dan pokja untuk merumuskan road map NDT Indonesia ke depan. Silahkan hubungi saya via japri bila anda tertarik untuk membangun bidang NDT di Indonesia dengan asosiasi profesional yang kuat dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri di bidang teknologi uji tak rusak. Saya tunggu…

Tanggapan 13 – Jakindo Sidoarjo

Sdr. Farabirazy Albiruni (abhie)

Untuk merumuskan road map NDT Indonesia ke depan,
Kira-kira apa output (goal) yang diharapkan oleh AUTRI kita, untuk memfasilitasi komunitas NDT, perusahaan NDT dan industri yang terkait.

Tanggapan 14 – farabirazy albiruni

Dear Pak Jakindo,

Pastinya AUTRI coba memfasilitasi semua stake holder yang terkait dengan bidang NDT. Saat ini AUTRI masih dalam tahap proses setelah sekian lama mati suri, namun ada beberapa hal yang sudah dan akan dilakukan AUTRI ke depan guna menjadi asosiasi profesional yang kuat:

1. Mendirikan center of excellence bagi penelitian dan aplikasi NDT baik di Universitas maupun di Industri

2. Mendirikan lembaga sertifikasi personil bidang NDT

3. Mengadakan reguler seminar dan simposium terkait bidang NDT (tahun 2010 sudah dilaksanakan NDT Expo, tahun 2011 akan kembali dilaksanakan seminar uji material berskala internasional dan akan tiap tahun dilaksanakan).

4. Mendirikan pusat training terintegrasi bidang NDT di Indonesia (januari 2011, AUTRI akan melakukan training & sertifikasi nasional RT Level 3)

5. Mempromote standarisasi terkait aplikasi bidang NDT di Industri di Indonesia

Big Goalnya tentu saja agar Indonesia tidak selalu tergantung dengan pihak asing dan bisa mandiri serta mampu bersaing di tingkat global dalam bidang NDT.

Nah bila Pak Jakindo tertarik untuk bergabung dengan kami dalam kegiatan volunteer memajukan bidang NDT di Indonesia, kami dengan sangat senang akan menerima Bapak. Nanti bapak akan saya usulkan untuk menjadi salah satu tim pokja AUTRI dalam merumuskan NDT Indonesia ke depan. As FYI, berikut anggota tim pokja saat ini:

1. Dr. Ir. Tri Wibowo – B2TKS BPPT

2. Prof. Dr. Ir. Rochim Suratman – ITB

3. Dr. Ing. May Isnan – B2TKS BPPT

4. Dr. Gede Bayu Suparta – UGM

5. Dr. Roziq Himawan – BATAN

6. Ir. Sigit Budi Santoso – BATAN

7. Dr. Ir. Winarto – UI

8. Ir. Rini Riastuti, MSc – UI

9. Dr. Hosta Ardyananta – ITS

10. Yasir – B4T

11. Ir. Agus Salim – PT Radiant Utama

12. Ir. Saenal A Rapi – GMF AEROASIA

13. Farabirazy Albiruni, MSc.Mech. Eng – PT. Pupuk Kaltim

14. Ir. Hari Ismawan – Krakatau Steel

15. Ir. Ery Mirzal Latief

16. Ir. Jonny Havianto –PLN

17. Ir. Sugiarto – PLN

Kami di Pokja masih sangat membutuhkan keterlibatan rekan-rekan lainnya. Mari kita bahu membahu membuat Indonesia lebih baik..

Info mengenai AUTRI bisa dilihat di website AUTRI:

http://www.autri.org/

Gimana Pak Jakindo?

Tanggapan 15 – Pala pala_utama

Dik Abhie,

di coba aja misinya siapa tahu anda yg bisa menjadikan Standard Indonesia dapat di akui oleh International, karena selama ini orang seangkatan saya sudah sering ber cita2 ingin membuat Standard Indonesia yg di akui dunia, tapi selalu hilang di telan masa.

mungkin harus ada perjuangan yg sangat keras dan di dukung oleh instansi2 terkait agar benar2 membuahkan hasil.
dan mungkin harus ada persatuan individu2 yg punya level3 di bidang NDT untuk mendukung misi anda.

sampe sekarang saya masih teringat dengan pengalaman pribadi waktu saya baru dapat UT level 2 ASNT th 1985, pada waktu itu MIGAS mendatangkan NDT level 3 dari America untuk mengajar di Indonesia.

setelah lulus bekerja di Mc.Dermott yg waktu itu tidak ada UT technician Level 2 orang Indonesia, memang pada waktu itu kepercayaan Mc.Dermott belum ada thd orang Indonesia, ya..karena Leadnya orang Philipina maka kalau ada orang Indonesia yg di kirim ke Mc.Dermott utk menjadi UT Technician harus di test dan selalu gagal…itu yg jadi masalah, maka setelah kita dapat ilmu dari Level 3 America, salah satunya saya yg di kirim ke Batam untuk bekerja di Mc.Dermott, berkat Ilmu yg di dapat dari guru orang America, saya dapat lulus Test di Mc.Dermott.
mulai saat itu bule (QC Manager Alan Spanton) percaya bahwa orang Indonesia juga mampu mengerjakan UT untuk project2 di Mc.Dermott.
alhamdulillah sampat generasi sekarang tidak ada lagi orang Philipina
UT Technian di MC.Dermott.

Maju Indonesia dgn generasi yg Potensial untuk menjelajah dunia MIGAS di seluruh dunia.

Tanggapan 16 – jakindosidoarjo

Tujuan SNI utk melindungi produk dalam negeri dan membendung barang import utk konsumen dalam negeri SNI juga mengadop dr standard intersional yg diakui, seperti yg dilakukan oleh negara lain. Sy melihat utk SNI Wajib sudah dipenuhi/dipatuhi oleh produk dalam negeri dan import, yg asesmennya dilakukan oleh LSPro kita, yg diakreditasi oleh KAN

Tanggapan 17 – Triez trisworo99

Memang sudah saatnya menurut saya, pak. Ya tentunya pelan2. Saya kurang tahu status terkahir SNI kita, apa semua standard sudah kita buat untuk oil and gas.
Klo boleh tahu, dimana list padanan standard kita dengan standard international yang sudah kita absorb atau kita buat untuk oil and gas?
Mungkin kalau bisa dishare yg sedang berjalan atau yg sudah selesai atau yg sedang direvisi bisa diperlihatkan statusnya, klo memang itu diperkenankan untuj dishare. Dengan itu mungkin para praktisi dan peneliti didunia oil and gas di kita sekarang bisa ikut mereview atau memberikan masukan kritis, karena mungkin ada satu dan lain hal dari international standard yg belum terabsorb atau belum sesuai dengan aplikasi sesungguhnya. Saya yakin tidak semua klausul di oil and gas standard juga sempurna 100%. Untuk memaksimalkan itu mungkin di SNI , mungkin ada beberapa klausal di SNI yg harus ditambahkan sehingga kekurangan pada international standard bisa di perbaiki di SNI dengan masukan para pakar migas kita.