Outsource dibidang jasa inspeksi cukup tumbuh dengan subur di negara kita ini, demikian pula di luar negeri sana, kontraktor atau opeartor banyak menggunakan jasa mereka dengan beragam alasan, nah persoalan akan muncul apabila perusahaan yg kita beri mandat tidak sesuai dengan harapan pemberi kerja apa pasal. Dalam quality system memilih outsource jasa inspeksi seharusnya melalui suatu proses evaluasi dengan terlebih dahulu menentukan kretiria apa yg akan digunakan. Ada banyak hal yg dilakukan pada tahapan evaluasi, misalnya kita aka lihat qms, pengalaman mereka dalam hal inspeksi, kapabilitas mensuplai orang seperti load kita, kompetensi dan kualifikasi dari personil yg akan diterjunkan, contoh reporting yg telah mereka lakukan dan jangan lupa untuk melirik kemampuan bayar mereka (finansial) jangan sampai tengah jalan kolap. Inspection prosedur maupun ITP bisa di feeding dari client atau mereka yg membuat dan disetujui oleh kita. Dan untuk menjaga keakuratan dari jasa mereka tentu kita ikat mereka dalam kontrak kerja yg memadai. Adakalanya pada saat final inspection kita perlu review hasil kerja mereka sebelum kita mengeluarkan inspection release certificate itupun kalau kita masih terlibat dalam loop ini. Demikian sepenggal pengalaman pribadi menggunakan jasa inspeksi dari luar negeri (eropa dan china).

Rangkuman Diskusi KBK Proses

Editor : Zulfan Adi Putra – Swastioko Budhi S. – Moderator KBK Proses

Tanya – Eldwin Djajadiwinata – Gyeongsang National University, South Korea

Saya anggota baru di millist ini. Senang bisa bergabung di Milist Migas Indonesia. Sekarang ini saya baru akan melakukan riset mengenai LNG Vaporizer untuk meraih gelar S2 di Korsel. Oleh karena itu saya memerlukan info mengenai proses produksi LNG, transportasinya, receiving terminalnya dan jenis-jenis LNG vaporizer berikut cara kerjanya, terutama jenis LNG vaporizer yang dipakai di Indonesia. Saya masih sangat awam mengenai LNG. Kalau ada yang memiliki artikel, jurnal atau info mengenai hal tersebut, mohon dikirimkan. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih banyak .

Tanggapan 1 – Danan Suryo Wicaksono – Teknik Kimia ITB

Kebetulan sekali. Saya juga bergelut di dunia LNG walaupun topiknya sedikit berbeda. Mas Eldwin, setahu saya Indonesia itu eksporter LNG (malah terbesar di dunia saat ini, walaupun sebentar lagi bakal disalip Qatar). Jadi singkatnya di Indonesia, gas alam diubah jadi LNG cair. Nah, LNG ini kemudian dikapalkan ke negara importer seperti Korea dkk.

LNG vaporizer itu merupakan fasilitas untuk mengubah LNG cair kembali menjadi gas untuk kemudian didistribusikan ke user, semisal power plant etc. Jadi setahu saya LNG vaporizer itu adanya di terminal importer, sedangkan (setahu saya lagi) Indonesia tidak mengimpor LNG (malah mengekspor).

Mas Eldwin saya senang sekali jikalau kita bisa berdiskusi lebih jauh mengenai bidang ini.

Tanggapan 2 – Eldwin Djajadiwinata – Gyeongsang National University, South Korea

Untuk mas Danan, terima kasih atas infonya. Tapi ada nggak LNG untuk keperluan dalam negeri ?. Misalnya di daerah yang jauh dari sumber gas alam tersebut sehingga harus dicairkan dulu untuk dikirim ke sana.

Tanggapan 3 – Stephanus Sulaeman – Pertamina Unit Pengolahan V Balikpapan

LNG dibuat dari gas alam bertekanan yang didinginkan. Prosesnya berupa antara lain penghilangan impurities (mercuri, air, carbon dioksida), dilanjutkan dengan proses pendinginan tiga tahap yang diselingi dengan proses pemurnian. Pendinginan awal dilakukan secara umum (propan-butan cooler), kemudian dengan MCR Multi Component Refrigeration (methane-propane) dilanjutkan dengan MHE (Main Heat Exchanger) dengan prinsip joule-thompson effect. Pada setiap tingkatan pendinginan dilakukan proses pemurnian, sehingga terdapat column-column antara lain depentanizer, debutanizer, depropanizer dan deethanizer. Keluaran dari MHE (column dengan tube terbuat dari aluminium coil yang sangat panjang-ribuan meter) mempunyai temperature -160 derajat celcius masuk ke dalam double wall tank (yang dilapisi pearlite diantaranya) untuk mengurangi boil-off. Produk boil off disedot oleh boil-off compressor dan dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk power generator. Dari tangki produk disalurkan ke kapal setelah sebelumnya line transfer dipurge dengan nitrogen, yang juga dikirim ke fuel gas atau flare. Kapal pengangkut bersifat double wall pula dan produk boil-offnya dipergunakan sebagai bahan bakar kapal. Biasanya maksimum boil off selama perjalanan ke Jepang/Korea berkisar 2-3% dari jumlah cargo. Temperatur tetap dijaga, pada waktu sampai ke tangki pemakai juga dilakukan prosedur yang sama. Tanki pemakai umumnya berupa tanki underground untuk mengurangi losses temperature yang terlalu cepat. Proses penguapan LNG secara cepat pada waktu pemakaian puncak dapat dilakukan dengan bantuan fin cooler.

Note : info ini hanya saya peroleh dari orang lain, saya tidak terjun secara detail.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: