Sesuai namanya, Coiled Tubing (CT) adalah tubing (pipa) baja yg bisa digulung, mirip benang/tali berukuran diameter dari 1 sampai 4.5 inci. Pada rig konvensional, pipa/tubing/strings disambung atau diputus satu persatu memakai sambungan ulir. Cara ini memakan waktu yg lebih lama, membutuhkan orang & peralatan yg lebih banyak, resiko HSE yg lebih tinggi, dsb. yg ujung-ujungnya costnya lebih mahal. Karena CT menggunakan tubing yg kontinyu, tidak perlu disambung-sambung, maka kelemahan rig konvensional tadi bisa dihilangkan atau dikurangi. Dan yg lebih penting, faktor safety akan jauh lebih baik.

Tanya – Oran Jacob

Members Yth.,

Saya dengar, coiled tubing adalah teknologi masa depan pengganti rig. Betulkah itu ? Apa saja pemanfaatannya selain pengganti rig ? Apa sih materialnya sehingga tubing besi koq bisa digulung seperti itu dan tidak patah ? Sudah adakah di Indonesia ?

Tanggapan – samperuru@labuan.oilfield

Dear Pak OJ,

wah, sepertinya Pak OJ gemar membaca buku. Kebetulan saya tahu sedikit ttg Coiled Tubing, jadi perkenankanlah my humble two-cents worth:

Sesuai namanya, Coiled Tubing (CT) adalah tubing (pipa) baja yg bisa digulung, mirip benang/tali berukuran diameter dari 1 sampai 4.5 inci. Pada rig konvensional, pipa/tubing/strings disambung atau diputus satu persatu memakai sambungan ulir. Cara ini memakan waktu yg lebih lama, membutuhkan orang & peralatan yg lebih banyak, resiko HSE yg lebih tinggi, dsb. yg ujung-ujungnya costnya lebih mahal. Karena CT menggunakan tubing yg kontinyu, tidak perlu disambung-sambung, maka kelemahan rig konvensional tadi bisa dihilangkan atau dikurangi. Dan yg lebih penting, faktor safety akan jauh lebih baik.

Secara umum, kelebihan memakai CT:

1. Safety

2. Economic

3. Operational

4. Environmental

Aplikasi CT:

1. Sarana pengantar fluida (semen, acid, brine, air, diesel, foam, gas nitrogen, sand, dsb.):

A. Remedial/Squeeze cementing: penyemenan untuk memperbaiki sumur.

B. Matrix stimulation: stimulasi produksi hidrokarbon memakai fluida acid.

C. Wellbore fill removal: mengisi atau mengganti fluida dalam sumur.

D. Well kick-off (nitrogen lifting): menstimulasi fluida formasi untuk berproduksi dgn cara mengisi sumur dgn fluida ringan (fluida bercampur gas
nitrogen).

E. Tubing/well clean-up (CoilCLEAN*): membersihkan tubing dan/atau sumur dari deposit scale, pasir, dsb.

F. Gravel pack untuk sand-control: menggunakan CT untuk memompa pasir ke dalam sumur.

Kelebihan memakai CT sbg pengantar fluida:

A. Sirkulasi fluida secara kontinyu.

B. Tubing yg dapat bebas bergerak naik-turun pada saat treatment. Ujung tubing dapat dipasang suatu alat khusus yg dapat bebas berputar 360o.

C. Akurasi titik kedalaman untuk penempatan fluida di dalam sumur.

D. Tidak perlu mengeluarkan completion atau productions strings dari dalam sumur.

2. Coiled Tubing Drilling (CTD): pemboran sumur menggunakan CT.

3. CT logging: logging memakai CT, sangat efisien untuk sumur yg high-angled atau horisontal.

4. CT perforating: perforating memakai CT, sama dgn CT logging.

5. CT fracturing (CoilFRAC*): fracturing memakai CT, efektif untuk multiple zone fracturing.

6. REDACoil*: instalasi ESP (Electrical Submersible Pump) memakai CT.

7. Korelasi kedalaman sumur (DepthLOG*).

8. Lain-lain.

Spesifikasi material CT:

1. Tahan terhadap H2S.

2. Kuat menahan beban tarik & tekan, burst & collapse pressure.

3. Resistan terhadap korosi & erosi.

4. Harus liat (ductile) agar bisa digulung & bisa keluar-masuk ‘injector-head’.

5. Dapat dilas.

6. Resistan tinggi terhadap fatigue.

7. Punya nilai ekomonis, karena umurnya yg terbatas & harus diganti tiap periode tertentu.

Material yg paling mendekati spesifikasi tsb adalah baja karbon rendah (0.1-0.2% C) dgn campuran unsur lainnya (Mn, P, S, Si, Cr, Cu, Ni, Zr, Cb). Bahan bakunya berbentuk flat strip yg mempunyai panjang 3500ft (1060m).

Proses pembuatannya:

1. Untuk membuat CT dgn panjang lebih dari 3500ft, flat strip ini disambung dgn las (angled weld) terlebih dahulu.

2. Flat strip ini lalu ditarik memasuki enam pasang forming roller yg secara gradual bentuknya berubah menjadi tubing/silinder.

3. External bead akibat las kemudian dibuang dgn cara dipotong.

4. Lalu proses annealing & cooling

5. Selanjutnya proses sizing memakai milling agar ukurannya tepat seperti yg diinginkan.

6. Inspeksi untuk mendeteksi defect, dilakukan elektronis secara otomatis.

7. Heat treatment untuk menghilangkan segala macam tegangan akibat proses-proses sebelumnya. Juga untuk memberi hardness yg merata di seluruh bagian CT.

8. Cooling & digulung

9. Pressure testing sebesar 80% dari internal yield value, minimal 15 menit.

10. Terakhir CT ditiup dgn udara kering untuk mengurangi kelembaban di dalamnya. Lalu digudangkan untuk dikirim ke pemesan.

Sayang sekali, teknologi ini masih dimiliki oleh AS. Semua paberiknya berdomisili di AS walaupun bahan baku flat strip umumnya didatangkan dari Jepang. Di Indonesia CT sudah lama dipakai oleh berbagai operator E&P. Dari yg simpel sekedar memompa air sampai yg canggih untuk mengebor sumur/CTD (BP-Arco, Vico, TFE), gravel pack (Unocal) & CT Logging (Caltex).

Beberapa bed-time stories:

1. Aplikasi CT:

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id1805

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id1381865

http://www.slb.com/Hub/brochure/index.cfm?b=connect/production/HPCT&id=id8615

2. Artikel CT:

http://www.slb.com/Hub/Docs/connect/reference/oilfield_review/ors94/1094/pdf/p09_23.pdf

http://www.slb.com/Hub/Docs/connect/reference/oilfield_review/ors92/0792/pdf/p45_51.pdf

3. Asosiasi CT Internasional: http://www.icota.com/

4. Manufaktur CT: http://www.precisio.com, http://www.hydrarig.com/, http://www.qualitytubing.com/