Terlepas dari masalah social, politik dan ekonomi sekitar permasalahan banjir, pada kesempatan ini kami mengajak rekan2 semua untuk memberikan usulan/solusi teknis yang layak untuk mengurangi atau bahkan menghindari terjadinya banjir. PERTANYAANNYA: 1. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MENGATASI BANJIR APAPUN KONDISI DI HULU ,DAS, MAUPUN AIR LAUT SEKITAR?; 2. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MEMPERBAIKI KONDISI RESAPAN DAN DAS?

Pembahasan – suparman

Terlepas dari masalah social, politik dan ekonomi sekitar permasalahan banjir, pada kesempatan ini kami mengajak rekan2 semua untuk memberikan usulan/solusi teknis yang layak untuk mengurangi atau bahkan menghindari terjadinya banjir.

PERTANYAANNYA:

1. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MENGATASI BANJIR APAPUN KONDISI DI HULU ,DAS, MAUPUN AIR LAUT SEKITAR?

2. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MEMPERBAIKI KONDISI RESAPAN DAN DAS?

Tanggapan 1 – Djayaputra.Kunarta

Pak Suparman dan teman-teman lainnya, Mungkin kita bisa belajar dari S’pore karena mereka juga dulunya banjir. Sekarang mereka punya saluran kota besar-besar. Mungkin kita akan ketawa kalau kita lihat waktu musim kering airnya hanya mengalir sedikit sekali ditengah-tengah pada anak saluran dari saluran yang besar itu. Saya yakin banyak pejabat kita yang sudah melakukan ‘studi banding’ yang resmi maupun secara pribadi alias jalan-jalan ke S’pore. Diatas saluran kota yang besar nanti bisa dibangun jalan layang jadi bermanfaat ganda. Masalahnya di Jakarta atau dikota-kota besar adalah pembebasan tanahnya. Tapi mau tidak mau kita harus berani bertindak kalau mau terlepas dari masalah banjir. Saya yakin ahli-ahli di Badan Perencanaan Daerah/kota dapat menghitung besar saluran yang dibutuhkan plus toleransi 20%.Jadi kapasitasnya harus mampu menampung air untuk 20/30 tahun kedepan. Saya kok engga lihat kendalanya kalau mau dilaksanakan secara benar! Banyak rakyat kecil yang akan terbebas dari penderitaan setiap tahunnya.

Tanggapan 2 – achmadhidayat

Kalau pakai sumur resapan bisa ndak yah..

Kayak bikin sumur migas gitu..kali lho..:) Maklum ndak ngerti, barangkali ada yang bisa memberi pencerahan?

Tanggapan 3 – Paulus.T.Allo

yang agak repot adalah, jumlah daerah resapan di DKI memang sudah jauh berkurang. kalaupun bikin sumur resapan, jumlahnya tidak akan bisa banyak. belum lagi ditambah dgn pembangunan Mal dan gedung perkantoran baru.

pembuatan tunnel, mungkin bisa jadi solusi, masalahnya nanti adalah pembebasan tanah.

trus, kalau kita lihat beberapa Kali yg lewat kota Jakarta, ternyata banyak sekali Kali yg membawa sampah2. ini juga yg bikin saluran mampet, sehingga saat debit air yg lewat ke Kali meninggi, air2 tidak bias terlewatkan dgn cepat, akhirnya meluap dan jadi banjir.

permasalahan lain adalah tidak adanya sistim aliran air yg terintegrasi. akibatnya, ada satu daerah yg sering sekali terkena banjir tapi daerah yg persis di sebelahnya mungkin akan kering (tidak pernah kena banjir). ini akibat tiap daerah atau komplek, membuat aliran airnya sendiri-sendiri.

Tanggapan 4 – resaputra

Kalo pake tunnel, dibuangnya kemana Mas? Padahal kan kalo gak salah Tj. Priuk itu di bawah permukaan laut….

Lihat saja kalo sedang musim hujan spt ini, jalan tol ke cengkareng (hampir) banjir. Itu pun karena ada pagar batas yang tinggi kira2 satu meter. Padahal tambak di sekitarnya sudah kebanjiran……

Mungkin benar kata mas Novan, harus dengan kemasyarakatan dan politik…………

Tanggapan 5 – Paulus.T.Allo

kebetulan saya tidak punya referensi yg mengatakan kalau Tanjung Priok berada dibawah permukaan air laut. data yg saya punya adalah tanjung priok berada pada ketinggian sekitar 2 meter diatas permukaan air laut. (ini pun tidak jelas, tanjung priok sebelah mana). http://202.159.18.43/data/tabel4.htm

ada orang yg pernah cerita kepada saya, kalau waktu jaman dulu (tidak jelas tahun berapa), saluran air dekat ancol dan daerah sekitar pelabuhan tanjung priok, selalu ada pengerukan, utk mengangkat sedimen2 yg tertimbun. soalnya gara2 sedimen ini, akhirnya daya tampungnya menjadi berkurang, diharapkan dgn adanya pengerukan ini, daya tampungnya bisa kembali normal sehingga tidak terjadi luapan. tapi belakangan ini, sudah tidak terlihat lagi aktifitas pengerukan pada daerah2 tsb. jadi orang ini tidak begitu heran kalau daerah sekitar priok sering terjadi banjir.

bagaimanapun juga, air dari tempat tinggi kan mesti dibuang ke tempat rendah (dalam hal ini laut), tidak ada tempat pembuangan lain. kalaupun terjadi luapan air di sekitar priok, bisa jadi akibat dari daya tampung yg sudah mulai berkurang karena sedimen yg semakin menumpuk.

Tanggapan 6 – suparman

Jadi,

Setelah dikupas2, banjir jelas bisa diatasi dan kalo boleh saya simpulkan unsur2 pokoknya yaitu:

1. Perencanaan tatakota didalamnya merupakan perencanaan peruntukan seluruh lahan termasuk utilitas2 tidak dilakukan secara local (Jakarta saja, bogor saja, depok saja, tangerang saja, bekasi saja dll) karena perubahan peruntukan satu lokasi akan turut mempengaruhi system secara keseluruhan, kecuali masing2 lokal tersebut dipasang bendung pemisah (kalo diplatform kita punya ‘coming’.

2. Perawatan system saluran harus secara teratur dilakukan agar kapasitas saluran yang ada tidak berkurang, bahkan saluran yang ada harus dimungkinkan untuk ditambah jumlah kapasitasnya (baik dengan menambahkan jumlah saluran maupun dengan meningkatkan kapasitas saluran yang ada dengan cara penambahan alat mekanis, asal jangan ‘asal beli’ maksudnya waktu dibeli dan dites oke tapi waktu dibutuhkan saat menjelang banjir eh malah macet………).

AGAR LEBIH BAIK LAGI PERLU DITAMBAHKAN

3. pengamatan setiap sungai pada areal yang direncanakan (riwayat tinggi muka air sungai dan perilaku alirannya) perlu direcord untuk perhitungan perencanaan banjir sehingga bisa dibuat perencanaan banjir 50 tahunan, 100 tahunan ataupun selang waktu lainnya). Pola aliran sungai ini penting untuk diamati dan dikaitkan dengan ada/tidaknya peralihan fungsi lahan areal yang diperhitungkan, karena hal ini akan membantu kita, bagaimana alam (sungai) akan membentuk keseimbangannya terhadap perubahan fungsi lahan tersebut, dan kapan atau dalam kondisi bagaimana keseimbangan mulai tergganggu.

4. Hal yang sama dengan kondisi tinggi muka air laut dalam hubungannya dengan
debit sungai saat pengamatan.

Untuk cara perhitungan dapat dilihat pada buku2 yang ada tulisan hydrolic engineering ataupun flood design engineering.

NAMUN SEMUA YANG DIATAS TIDAK ADA GUNANYA SAMA SEKALI DAN HANYA BUANG2 UANG

BILA MENTALITAS ‘KITA SEMUA’ TIDAK MENUNJANG.

Disini ada hal yang menarik bahwa suatu aksi pada lokasi tertentu dapat menimbulkan akibat (buruk/baik) pada lokasi lain. Akibat perubahan fungsi lahan dipuncak, banjirnya di Jakarta. Dan saya ingat akan suatu makalah pada th 1985 yang dibawakan oleh alumnus kami (Prof. Fabian) yang ngajar di salah satu universitas terkenal amrik yang meninjau bagaimana suatu fundasi pada suatu bangunan gedung dapat mempengaruhi fundasi bangunan lain dan dia meninjau secara makro dan nama teorinya ‘Fuzzy Set Theory’, mungkin ada yang mau mengembangkan teori ini untuk drainage management, ataupun garbage management dll.

Mohon dikoreksi bila ada salah2 kata.