Alloy artinya paduan. Untuk meningkatkan sifat material, misalnya baja supaya tahan korosi, supaya mudah dimachining, supaya permukaannya lebih halus, dll, maka pada material tersebut ditambahkan unsur-unsur lain misalnya unsur yang sering ditambahkan pada baja adalah mangan, nikel, aluminium, chrom, dll. Jumlah (prosentase) paduan ini terhadap logam induknya menentukan klasifikasi jenis alloynya, ada yang low-alloy (total undur paduan..misalnya nikel dan chorom, dibawah 50% dari logam dari keseluruhannya) dan ada yang high alloy (total paduannya diatas 50% dari keseluruhan material). Dalam hal ini 316SS adalah salah satu dari low-alloy stell, dimana logam dasarnya adalah baja..dan unsur paduan utamanya adalah 18% Chrom, 8% Nickel dan sekitar 0.2% Mo. Selain itu tentu masih ada unsur-unsur lain yang berada logam..yan sebenarnya tidak dikehendaki, unsur lain itu bukan dikenal sebagai paduan tetapi sebagai pengotor atau impurities. Namanya pengotor, maka semakin banyak akan menurunkan kualitas material. Oleh karena itu pada anilisis kegagalan material (RCFA) analisa jumlah pengotor ini juga dijadikan salah satu analisis untuk menentukan sebab kegagalan mateial.
Jadi 316SS adalah salah satu jenis alloy..dan masih buaaanyaakkk lagi paduan-paduan lain.

Tanya – Ariyo Bowo

Dear all senior millis migas

Rekan2 senior saya mau tanya nih perbedaaan antara alloy dngn 316SS. Thank’s before for all information.

Tanggapan 1 – Ilham B Santoso

Alloy..kan artinya paduan. Untuk meningkatkan sifat material, misalnya baja
supaya tahan korosi, supaya mudah dimachining, supaya permukaannya lebih halus,
dll…maka pada material tersebut ditambahkan unsur-unsur lain misalnya unsur
yang sering ditambahkan pada baja adalah mangan, nikel, aluminium, chrom, dll.
Jumlah (prosentase) paduan ini terhadap logam induknya menentukan klasifikasi
jenis alloynya..ada yang low-alloy (total undur paduan..misalnya nikel dan
chorom, dibawah 50% dari logam dari keseluruhannya) dan ada yang high alloy
(total paduannya diatas 50% dari keseluruhan material).

Nah dalam hal ini…316SS adalah salah satu dari low-alloy stell, dimana logam
dasarnya adalah baja..dan unsur paduan utamanya adalah 18% Chrom, 8% Nickel dan
sekitar 0.2% Mo. Selain itu tentu masih ada unsur-unsur lain yang berada
logam..yan sebenarnya tidak dikehendaki, unsur lain itu bukan dikenal sebagai
paduan tetapi sebagai pengotor..atau impurities. Namanya pengotor..maka semakin
banyak akan menurunkan kualitas material. Oleh karena itu pada anilisis
kegagalan material (RCFA)..analisa jumlah pengotor ini juga dijadikan salah satu
analisis untuk menentukan sebab kegagalan mateial.

Jadi 316SS adalah salah satu jenis alloy..dan masih buaaanyaakkk lagi
paduan-paduan lain.

Salam..semoga membantu.

Tanggapan 2 – edfarman

Pak Ilham, kita sering ketemu istilah CE (Carbon Equivalent) dengan rumusan
tertentu untuk alloy material.

Apakah ini juga bisa dikategorikan cara memverifikasi jumlah
‘pengotor/impurities’ yang ada dalam material tsb?
Jika ya, berarti unsur C bisa dikategorikan sebagai impurities jika
melewati hitungan CE. CMIIW.
Atau ini semacam limitasi dari kandungan C-nya?

Tanggapan 3 – Ilham B Santoso

Setahu saya..CE ini lebih ditujukan untuk mengetahui perlakuan panas apa yang
diijinkan pada material dan termasuk pengelasan. Karena kandungan karbon pada
baja akan menentukan hasil akhir dari perlakuan panas dan pengelasan pada logam.

Sebagai contoh pada pengelasan :

CE%<0.14 Excellent weldability, no special precautions necessary 0.140.45 Extreme complications, weld cracking is very likely, hence
preheat in the range 100-400°C and low hydrogen electrodes are required,

Monggo Cak faridz…silahkan menambahkan.

Memang ada dua macam perhitungan ce, yaitu untuk modern carbon steel dan low
alloy steel. Mengapa ini dibedakan saya..sendiri kurang faham, kemungkinan ini
dikarenakan oleh susunan element yang menyusun material; pada carbon steel
keberadaan Si diperhitungkan untuk menentukan CE, sedangkan pada low alloy
tidak..dan hanya berdasarakan C, Mn, Cr, Mo,V, Ni dan Cu.

Tanggapan 4 – arief d hartanto

Ikutan nimbrung ya Pak Ilham, juga sekaligus nanya ….
Setahu saya CE adalah suatu rumusan empiris yg di buat oleh IIW yang
tujuannya adalah untuk mengetahui weldability dari suatu material.
IIW merumuskan –> CE = C+Mn/6+Ni/15+Cu/15+Cr/5+Mo/5+V/5 Batasan CE
untuk weldability adalah sebagai berikut: CE < 0.45 wt% --> weld
cracking is unlikely, no heat treatment is required CE between 0.45 ~
0.6 wt% –> weld cracking is likely, and pre heat range 95 – 400°C is
generally recommended CE > 0.6 wt% –> high probability crack in weld,
both preheat & posweld heat treatment are required.
Batasan ini tercantum dalam ASM handbook.

Sedangkan batasan yg Pak Ilham kemukakan jauh lebih kecil, kalau boleh
tahu sumbernya darimana ya Pak? Kalau yg dimaksud rumus CE tersebut di
atas yg tanpa memperhitungkan unsur Si, mengapa ya Pak kok tidak bisa
digunakan untuk Carbon Steel? Karena setahu saya rumus empiris tersebut
bisa juga untuk menghitung CE baik itu material carbon steel maupun
low-alloy steel.

Memang dalam perkembangannya ada rumus lagi yg mengkonsider
thermodinamik & kinetic factor, dalam menentukan weldability suatu
material. Dan juga ada juga rumus yg memasukkan unsur Hydrogen, Si, dan
Boron dalam perhitungannya.

Tanggapan 5 – lilik sukirno

Ini hanya informasi tambahan saja soal material carbon steel, yang merupakan
alloy stainless steel adalah bahan dasarnya berbentuk powder, dengan komposisi
material yang terdiri dari beberapa komponen powder yang diformulasi berdasarkan
material yang akan dibuat, selanjutnya di campur dan di haluskan sampai grain
size tertentu untuk bersama-sama dilelehkan dalam suatu furnace (mohon dikoreksi
kalau salah) pada temperatur lelehnya. Ternyata SS 316 ini ada banyak type, yang
mungkin bila disesuaikan dengan kegunaannya dilihat dari kode UNS nya, dimana
yang membedakan adalah dari komposisi Carbon nya dan Nitrogennya,
misalnya untuk

1. Austenitic Stainless Steel 316 SS – UNS 31600 – % komposisinya :

C max 0.08, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S max
0.03, Si max 1.0

2. Austenitic Stainless Stell 316 LSS – UNS 31603 – % komposisinya:

C max 0.03, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S max
0.03, Si max 1.0

3. Austenitic Stainless Stell 316 HSS – UNS 31609 – % komposisinya:

C max 0.04-0.10, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, P 0.045, S
max 0.03, Si max 1.0

4. Austenitic Stainless Stell 316 TiSS – UNS 31635 – % komposisinya:

C max 0.06, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N max 0.10, P
0.045, S max 0.03, Si max 1.0

5. Austenitic Stainless Stell 316 CbSS – UNS 31640 – % komposisinya:

C max 0.08, Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N max 0.10, P
0.045, S max 0.03, Si max 1.0

6. Austenitic Stainless Stell 316 NSS – UNS 31609 – % komposisinya:

C max 0.08 , Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N 0.10 – 0.16, P
0.045, S max 0.03, Si max 1.0

7. Austenitic Stainless Stell 316 LNSS – UNS 31609 – % komposisinya:

C max 0.03 , Cr 16.0 -18.0, Mn 2.0, Mo 2.0-3.0, Ni 10.0 -14.0, N 0.10 – 0.16, P
0.045, S max 0.03, Si max 1.0

Sementara hanya ini saja informasi yang ada, mohon maaf kalau tidak sesuai
dengan yang dimaksudkan.

Tanggapan 6 – amal ashardian

Mohon maaf kalau salah:

Bukannya Powder metalurgy itu penggolongannya berbeda..??? dan untuk membentuk
part yang extra high precision/ high wear resistante yang tidak mungkin dibuat
selain dg cara cetak dengan tekanan tinggi dan dipanasi tapi enggak sampai
meleleh (Molten).

Tanggapan 7 – DARMAYADI

Temans,

Kayaknya diskusi tentang Material 316 ini sudah melebar kemana-mana,
Bagus… tapi ada baiknya dibuat lebih fokus tentang apa-apa yang mau
dibahas.

Beberapa topik yang saya sarankan untuk dibahas adalah :

1. Apa itu material 316 ? Standar-standar yang dipakai apa saja ? ASTM, AISI
or JIS dll ?

2. Kenapa harus digunakan SS 316, emang baja ini punya kelebihan apa
dibanding dengan type yang lain? Disamping baja ini punya kelebihan, pasti
punya kelemahan, apa kelemahannya?

3. Ada berapa saudara dari SS 316 itu ? dan Applikasikasi dari masing-masing
nya untuk apa ?

4. Ada berapa proses pembuatan SS 316 ?

5. Apa yang dimaksud dengan CE ? Apakah ada kaitan antara SS316 dengan CE ?

6. Apa itu powder Metalurgy ? Apakah SS 316 bisa dibuat dengan cara Powder
Metalurgy ? Kalau bisa bagaimana caranya? Kalau tidak bisa kenapa???
Sepertinya Metalurgist seperti Pak Dr.Ir. Winarto MSc dan Pak Nurjaya ST.MSc
harus turun gunung untuk menjelaskan agar lebih fokus.

Tanggapan 8 – Rizky Wahyudi

Saya juga ingin menambahkan nih, jenis-jenis AISI 316 dibedakan karena
penggunaannya, contoh (spt yg Ibu Liliek sebutkan):

1. AISI 316 = dibuat untuk lebih tahan terhadap Pitting Corrosion di
air laut, AISI 316 ini adalah AISI 304 + Mo (Molybdenum)

2. AISI 316 L = L itu low carbon, untuk mencegah Sensitisasi atau
Chromium Carbide (Cr23C6) pada saat mendapat perlakuan panas

3. AISI 316 H = untuk mendapatkan Hardness yg lebih baik, (kalo ini
saya nebak aja, mohon koreksi)

4. AISI 316 Ti = Ti itu Titanium gunanya sama dengan no. 2, untuk
mencegah Sensitisasi, karena Ti lebih reaktif terhadap C daripada Cr, jadi
yg terbentuk Titanium Carbide dahulu bukan Cr23C6.

5. AISI 316 Cb = Kalau ini saya ngga tau nih (mohon pencerahannya dari
Pak Jaya dan Pak Wien)

6. AISI 316 N = N itu Nitrogen yang merupakan unsur penstabil
Austenite, penggunaanya untuk alat2 yg tidak menginginkan sama sekali adanya
fasa ferrite yg dapat menimbulkan sifat magnet.

7. AISI 316 LN = L adl low carbon dan N adl Nitrogen, bisa disimpulkan
sendiri…

Semua AISI 316 dan teman2nya ini adalah jenis Stainless Steel yang tahan
terhadap pitting corrosion yang biasa terjadi di daerah pantai (laut).

Mudah2an berguna, dan mohon koreksinya bila salah.