Metode ASD dan LRFD adalah dua metode yang sama’ dipakai oleh AISC
(American Isntitute of Steel Construction) dan juga oleh ACI (American Concrete Institute). Hanya ASD sudah mulai ditinggalkan dan LRFD lebih banyak dijadikan acuan oleh kedua lembaga karena asumsi’ yang dipakai lebih bisa diterima logic-nya. Secara garis besar, filosofi ASD adalah sebagai berikut: Konsep ASD (Allowable Stress Design) adalah beban (atau tegangan) yang terjadi harus lebih kecil dari beban (atau tegangan ijin. Beban (atau tegangan) yang terjadi dihitung berdasarkan pada beban yang terjadi pada struktur atau member (coba bandingkan dengan metode LRFD) dan beban (atau tegangan) ijin didapat dari kekuatan maksimum material dibagi dengan safety factor. Sedangkan filosofi LRFD (Load Resistance Factor Design) berkembang seiring dengan perkembangan ilmu statistik dlm bidang ke-engineering-an. Beban yang dipakai pada LRFD adalah beban yang telah dikalikan dengan suatu Load Factor tertentu yang didapat dr penelitian secara statistik (nilainya selalu >=1.0).

Tanya – Samdi.Yarso

Saya mau nanya nih perbedaan metode ASD dan LRFD dalam perhitungan struktur Baja.

Tanggapan 1 – Arif Sarwo W

Metode ASD dan LRFD adalah dua metode yang sama’ dipakai oleh AISC
(American Isntitute of Steel Construction) dan juga oleh ACI (American
Concrete Institu). Cuma ASD dah mulai ditinggalkan dan LRFD lebih banyak
dijadikan acuan oleh kedua lembaga karena asumsi’ yang dipakai lebih bisa
diterima logic-nya.

Secara garis besar, filosofi ASD adalah sebagai berikut:

Konsep ASD (Allowable Stress Design)adalah beban (atau tegangan) yang
terjadi harus lebih kecil dari beban (atau tegangan ijin. Beban (atau
tegangan) yang terjadi dihitung berdasarkan pada beban yang terjadi pada
struktur atau member (coba bandingkan dengan metode LRFD) dan beban (atau
tegangan) ijin didapat dari kekuatan maksimum material dibagi dengan safety
factor. Kalo dibikin formula kurang lebih begini:

beban (tegangan) yang terjadi <= kekuatan maksimum material / Safety Factor.

Sedangkan filosofi LRFD (Load Resistance Factor Design) berkembang seiring
dengan perkembangan ilmu statistik dlm bidang ke-engineering-an. Beban yang
dipake pada LRFD adalah beban yang telah dikalikan dengan suatu Load Factor
tertentu yang didapat dr penelitian secara statistik (nilainya selalu
>=1.0). Misal ada kombinasi beban dengan 1.4xDead Load + 1.6xLive Load, ini
didasarkan pada logika variasi(ketidaktentuan) beban hidup adalah lebih
besar dibanding beban mati sehingga beban hidup dikalikan dengan factor
1.6, sedangkan beban mati hanya dikalikan dengan factor 1.4.
Demikian juga dengan kekuatan dari material/member/struktur perlu dilakukan
reduksi misalkan akibat ketidak sempurnaan fabrikasi/instalasi dsb. Wong
namanya factor reduksi, ya nilai selalu <1.0

Kalo dibikin formula kurang lebih begini:

Load Factor x beban <= Reduction Factor x beban ijin

dengan Load Factor >=1.0

Reduction Factor <1.0

Bapak juga bisa baca filosofi kedua metode desain ini di buku Beton atau
Baja yang banyak beredar.
Semoga membantu.

Tanggapan 2 – Tamtam

Metode LRFD dianggap lebih logis karena penentuan faktor pembebanannya
berdasarkan probabilistik sehingga diperoleh faktor bebannya 1.4 untuk dead load
dan 1.6 untuk life load. demikian juga untuk reduction factor nya diperoleh dari
probablistik sehingga diperoleh 0.85.
(bagaimana penghitungannya saya kurang mengerti… tapi banyak literaturnya
yang membahas ini tinggal search aja di net)

Saya pernah baca di journal … dengan menggunakan LRFD dapat menghemat sekian
persen (saya lupa) dibandingkan dengan menggunakan metode ASD, terutama untuk
high rise building. Oleh karena itu lebih banyak digunakan.

Namun dalam segi kemudahannya, ASD lebih mudah dalam menghitungnya karena
tidak memerlukan load factor sehingga pada design loadnya juga lebih sederhana.