Untuk ketebalan (Thickness film baik itu wet atau Dry) lebih baik mengacu kepada PDS (product Data Sheet) dari Paint manufacture bersangkutan. dari sana kita bisa melihat mengenai Spreading Area per Liter/ Kg paint material, Term and Condition untuk application termasuk Requirement Humidity nya dan Curing time untuk setiap kondisi temperatur sekitar. Dari PDS itu lah kita coba samakan dengan SPECT yang diminta oleh Client atau Owner, dan biasa nya, di PDS di cantumkan juga.

Tanya – Nur Kumeidi/b>

Dear Milister Migas,

Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada ahli coating / coating inspector sbb :

1. Berapakah ketebalan maximum yang diperbolehkan untuk film thickness pada primer (jotazinc) dan intermediate (penguard midcoat)? Apakah kurang atau lebih dalam film thickness banyak mempengaruhi kemampuan proteksinya?

2. Bagaimanakah posedur dalam inspeksi film thickness? Karena pergeseran 10 mm saja akan memperoleh besaran thickness (jauh) berbeda.

Tanggapan 1 – Antoni Ginting

Pak Nur,

Untuk thicknees coating primer maupun mid dapat dilihat pada spesifikasi coating tersebut.

Utk inspeksi coating thickness, lakukan dgn WFT (pada specifikasi teknik jg biasanya ada). Kalau hasil berbeda pada jarak tertentu berarti aplikasinya yg tidak merata.

Tanggapan 2 -kumeidi.nur

Pada datasheet primer tertulis film thickness minimum 50 micron, maximum 90
micron, typical 75 micron, batas mud-cracking jotazainc 120 micron. Manakah
batasan yg harus d pakai? Apakah 100 micron masih d perbolehkan?

Untuk kerataan spray pada proses aplikasi coating sangat susah pak apalagi
dengan mggunakan manual spray. Ditambah lagi dengan permukaan material yg
(mungkin) kasar seperti kulit jeruk.

Tanggapan 3 – jakindosidoarjo

Pada datasheet cukup jelas. Kalau minimum, berarti tdk boleh kurang dan boleh lebih, kalau maximum, tdk boleh dilampui dan boleh kurang.

Tanggapan 4 – andi supakti

pak nur,

kalo saya biasanya pake 75 Micron dengan sarat Anchor Profile Substrate nya gak lebih dari 50 Micron. dan applikasi yang benar itu harus terhindar dari berbagai macam trouble Coated seperti ;

1. Skin Orange (kulit jeruk), tampilan/ view kasar seperti kulit jeruk

2. Cracking, pecah2 baik itu mud crack ataupun lainnya.

3. Sagging (bahasa lapangan nya Meler),

4. Bubbling, bisa karena More High air Pressure ataupun Solvent Trapped
dan lainnya.

Mengenai alat yang digunakan, baik itu Conventional Pot/ manual Spray ataupun dengan Airless saya pikir sama aja kok pak.
Cuma beda settingan nya aja. baik dari Air Pressure nya ataupun dari lainnya. Untuk settingan, biasanya beda painter bisa juga beda settingan nya.
yang paling utama menurut saya yang harus diperhatikan itu ada di SPRAY GUN nya pak. sering kali Painter malas untuk bersihkan GUN setelah Spray. sehingga sering Macet oleh Paint Material nya.

Tanggapan 5 – Antoni Ginting

Utk WFT nya tertulis berapa? Karna dari WFT nya akan ketemu nanti range DFT.

Utk permukaan yg tidak rata saya pikir tidak masalah karna dgn spray bisa dicover. Kecuali hasil akhir juga diharuskan mengikuti profil permukaan.

Tanggapan 6 – andi supakti

Sumbang sedikit info,

Saya coba sedikit share info mengenai inspection coating :

1. Untuk ketebalan (Thickness film baik itu wet atau Dry) lebih baik mengacu kepada PDS (product Data Sheet) dari Paint manufacture bersangkutan. dari sana bapak bisa melihat mengenai Spreading Area per Liter/ Kg paint material, Term and Condition untuk application termasuk Requirement Humidity nya dan Curing time untuk setiap kondisi temperatur sekitar. Dari PDS itu lah kita coba samakan dengan SPECT yang diminta oleh Client atau Owner. dan biasa nya, di PDS di cantumkan juga. More Factor (toleransi) dari Thickness, kalo gak salah biasa nya seh menggunakan sistem PA2 (saya kebetulan lupa detail isinya dari PA2 ini) dengan toleransi ketebalan thickness film coating sekitar +/- 20%.

2. Untuk prosedure Inspection dari thickness tersebut bergantung pada jenis substrate yang di coated. secara global, thickness test atau Coating Inspect :

a. WFT (Wet Film Thickness); dilakukan pada saat coating dalam keadaan basah untuk mengetahui pencapaian Thickness yang di inginkan, biasa nya menggunakan Manual WFT seperti Comb test atau lainnya.

b. DFT (Dry Film Thickness); dilakukan pada saat coating sudah dalam keadaan kering (biasanya setelah Full Cured/ Dry to Handle) untuk mengetahui ketebalan Coating tersebut. biasa nya menggunakan Magnetic Gauge, ada juga beberapa Coating tetap menggunakan Manual Thickness Test untuk DFT nya seperti pada PFP (Passive Fire Protection) dan lainnya.

c. Holiday Test; dilakukan untuk mengetahui lebih detail mengenai tingkat ke-rata-an Coating tersebut, biasa nya dilakukan pada substrate jenis Pipe, Internal Tank, dan lainnya yang meng-syaratkan ada nya HolidayTest.

d. Pulloff Test; dilakukan untuk mengetahui tingkat BONDING antara Substrate dengan Coated (Primer. Intermediate/ tie coated dan Top Coated) atau diantara coating lapisan satu dengan lainnya (antara Primer, Intermedite dan Top Coated). biasanya dilakukan untuk sampling Plate dan/ atau dengan beberapa area coated yang mensyaratkan akan ada nya kebutuhan Pulloff test. alat yang digunakan bisa salah satu nya (biasa nya disebut) DOLLY TEST.

note :

jika coating yang telah dilakukan tidak sesuai dengan Standartd Coating baik itu kurang atau pun lebih (kita ambil case menggunakan PA2 dengan toleransi +/- 20%). sebaik nya dilakukan proses repair. jika kurang, bapak bisa Touch Up dan jika Lebih, saran saya di Re-blast kemudian di Recoated (biasanya Coating yang berlebih akan berdampak pada Bonding Strenght baik Adhesi ataupun Kohesi yang tidak maksimal).

saran saya, jika bapak akan melakukan proses coating. lebih baik diskusi terlebih dahulu dengan Inpector Coating atau pun Adviser Technical dari Paint Manufacture. agar proses coating bapak bisa lebih effective dan ekonomis. dan jika hasil yang di dapat terjadi perbedaan ketebalan (Hi and Low) selama masih dalam batas wajar (batas kewajaran bisa bapak diskusi kan dengan Adviser Technical Paint manufacture atau bapak coba merujuk kepada Standart Coating seperti NACE, SSPC, ISO atau lainnya). saya pikir gak masalah. tetapi jika HI-Low nya sudah tidak enak dipandang mata (Client/ Owner biasanya penekanan nya cenderung kepada Cosmetic/ Viewer, setelah Scope Spect terpenuhi), saran saya lebih baik dilakukan proses repair seperti yang saya utarakan diatas.

jika ada yang ingin di diskusikan, bapak bisa melalui japri.