Untuk menentukan area clasification pada suatu lokasi pabrik harus tahu proses yang diolah misal lokasi yang mana didalamnya terdapat gas / uap yang mudah menyala atau meledak adalah masuk class I, kalau class II adalah untuk debu yang mudah terbakar, class III adalah bahan2 serat yang mudah mengapi. Untuk daerah anda lebih tepat dikatagorikan masuk class I.
Setelah itu baru diklasifikasikan dari tingkat bahayanya masuk class I div 1 atau class 1 div. 2. Atau idalam IEC dikenal dengan zone 0, 1 & 2 Untuk penentuan area klasifikasi antara lain harus tahu gas groupnya & iqnition temperatur, temperatur class, baru dapat menentukan type protection yang sesuai. Hasil ahkirnya dikeluarkan dalam gambar plot plant hazardous area clasification.

Tanya – Akhmad, Khaqim

Beberapa hari lalu saya aterlibat Hazop study untuk Lubricant Plant di Merak.Saat itu ada pertanyaan tentang Area Classification sehubungan dg solenoid valve yg harus dipasang apakah harus IS atau tidak.Krn Area Classification Plant tersebut belum ditentukan, akhirnya pertanyaan tentang solenoid valve juga belum terjawab.
Akhirnya saat itu keluar rekomendasi untuk mengundang third party untuk meng-asess/determine area classification. Adakah rekan-rekan sekalian yg tahu gimana metode penentuan area classification ? Standard yg dipakai apa ? dll.

Tanggapan 1 – Gede Aria

Sumbang pendapat,

Menurut saya ada beberapa faktor yang bisa dipergunakan sebagai acuan suatu lokasi atau plant termasuk dalam klasifikasi dalam hazardous area classification. Diantaranya,

1. Material yang diproduksi suatu plant apakah termasuk bahan yang bias menimbulkan api?

Hal ini bisa dilihat dari Material safety data sheet. Biasanya Healty and Safety memiliki data sheet dari material material yang produksi maupun hasil produksi dan limbah sebagai akibat dari proses produksi.

2. Kondisi Iklim di lokasi.

3. Topograpi di lokasi.

Berangkat dari hasil studi ketiga hal diatas, terutama item (1) kemudian kita merefer ke Hazardous Area Classification,

Class I : Material tergolong jenis Flammable Liquid.

Class II & III : Material tergolong jenis Combustible Liquid.

Kalo sudah kita bisa definisikan termasuk kelas berapa, kita tentukan zone berapa, misalnya zone 0,1 dan 2. Zone ini ditentukan berdasakan dari kemungkinan adanya gas atau uap yang keluar sebagai akibat suatu reaksi dari proses pada kondisi plant beroperasi normal atau sebagai akibat dari adanya kondisi abnormal plant.

Dengan demikian kita mengetahui suatu lokasi/plant termasuk dalam class berapa dan zone berapa, setelah mengetahui hal tersebut, kita bisa mengacu kepada standard internasional untuk pemasangan atau penggunaan electrical/instrument pada hazardous area classification.

Contohnya,

API RP 505, Recommended Practice for Classification of Location for Electrical Installation at Petroleum Facilities Classified as Class I, Zone 0, Zone 1 and Zone 2.

Semoga bisa memberikan sedikit pencerahan.
Kalo ada yang kurang jelas/salah, mohon di-sharing informasinya.

Tanggapan 2 – Bambang Nata

Pak Akhmad, Khaqim,

Kalau nggak salah untuk menentukan area clasification pada suatu lokasi pabrik harus tahu proses yang diolah misal lokasi yang mana didalamnya terdapat gas / uap yang mudah menyala atau meledak adalah masuk class I, kalau class II adalah untuk debu yang mudah terbakar, class III adalah bahan2 serat yang mudah mengapi. Untuk daerah anda lebih tepat dikatagorikan masuk class I.

Setelah itu baru diklasifikasikan dari tingkat bahayanya masuk class I div 1 atau class 1 div. 2. Atau idalam IEC dikenal dengan zone 0, 1 & 2 Untuk penentuan area klasifikasi antara lain harus tahu gas groupnya & iqnition temperatur, temperatur class, baru dapat menentukan type protection yang sesuai. Hasil ahkirnya dikeluarkan dalam gambar plot plant hazardous area clasification. Mohon koreksi kalau sekiranya salah. Lebih afdolnya coba anda cari dan baca di standard API. RP.500 atau di IEC. 79.

Tanggapan 3 – nanang JAMIL

dear pak Akhmad,

Kebetulan saya punya pengalaman di salah satu plant kilang kami (WaxPlant, Kilang Pertamina Balikpapan). Dan alhamdullillah, tim kami dapat melakukan sendiri Classifikasi Area tersebut.

Tim diketuai oleh Senior Safety Engineer, dan kebetulan saya sebagai sekretaris tim.
Lama studi sekitar 3 bulan, dengan aktivitas antara lain :

+ preparing sekitar 1 bulan

+ gathering data, termasuk site visit, sekitar 2 minggu,

+ reporting , termasuk drawing sekitar 1,5 bulan.

Standar yang kami pakai adalah API RP 500 dan Standard Enjiniring Pertamina tentang Klasifikasi Area.

Kalau pak akhmad ingin informasi lebih detail, silahkan hubungi saya via japri di nanang@…

Tanggapan 4 – Akhmad, Khaqim

Terimakasih banyak atas saran-saran dan masukan dari netters semua. Insya Allah semua itu makin memperluas penmgetahuan saya.

Mau minta advice lagi nih, kalau kami harus mempelajari dulu API RP500 secara detail tentu memakan waktu panjang untuk menentukan Hazardous Area Classification.

Apakah ada konsultan yg bisa dikontrak untuk melakukan itu ? Kalau ada mohon kontak person yg bisa dihubungi.

Terimakasih atas bantuannya.