Letak pompa akan sangat menentukan NPSHa yang akan dimiliki sistem tersebut. NPSHa/NPSHr < 2 akan menyebabkan terjadinya kavitasi. Bagaimana menghitung NPSHa? mudah, silahkan buka GPSA Chapter 12 atau banyak sumber lainnya, disana akan dengan mudah ditemukan rumus NPSHa.

Tanya – Bahari Christian

Selamat siang Bapak, Ibu…

Saya bisa minta bantuan dari Bapak dan Ibu sekalian tentang posisi pompa utk mengalirakan oil dari separator…. ya sekadar jadi bahan sering aja…. Apa benar posisi atau jarak pompa dari separator itu ada stadarnya… Teman saya d lapangan pernah menanyakan ini, tapi saya tidak bisa menjawabnya.. sebab menurut mereka pernah kejadian di platform khususnya pompa tersebut tidak berfungsi padahal sudah di nyalakan…. Mohon bantuannya….

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Mas Bahari

Letak pompa akan sangat menentukan NPSHa yang akan dimiliki sistem tersebut. NPSHa/NPSHr < 2 akan menyebabkan terjadinya kavitasi (Ref. Stephen Muller, Hydrocarbon Processing, August 2004).

Bagaimana menghitung NPSHa? mudah, silahkan buka GPSA Chapter 12 atau banyak sumber lainnya, disana akan dengan mudah ditemukan rumus NPSHa.

Apa yang menyebabkan sistem pompa teman anda tidak bekrja dengan baik??

Kemungkinannya adalah karena NPSHa/NPSHr < 2. Oleh karena itu ada langkah-langkah untuk menghilangkan problem anda, yakni dengan meningkatan nilai NPSHa atau menurunkan nilai NPSHr.

Apa saja langkah langkah untuk menaikkan NPSHa?

1. Meninggikan aras permukaan cairan yaang akan dipompa

2. Merendahkan aras permukaan pompa (impeller eye)

3. Menurunkan kehilangan tekanan pada perpipaan di hulu pompa (efeknya kecil sih), antara lain dengan memendekkan perpipaan, menghilangkan valve/strainer/fitting yang tidak perlu dll.

4. Menggunakan booster pump

5. Mendinginkan fluida yuang dipompa

Apa saja langkah untuk menurunkan NPSHr?

1. Merendahkan speed (rpm)

2. Menggunakan double suction impeller

3. Menggunakan muka impeller eye yang lebih luas

4. Menggunakan kapasitas pompa yang lebih besar

5. Menggunakan inducers

6. menyusun beberapa pompa kecil secara paralel

Semoga membantu,

Reference:

Stephen Muller, Consider regenerative pumps for low-flow/low-NPSH applications, Hydrocarbon Processing, August 2004

Igor J Karassik, Centrifugal Punps and System Hydraullic, chemical engineering, Oct 1982

James Anthony, Pumping System Head Estimation, Chemical Engineering Progress, February 2005

Tanggapan 2 – Ilham B Santoso

Sedikit menambahkan dari uraian mas garonk.

Pompa dapat bekerja dengan baik bila dua hal dipenuhi:

1. NPSHa>NPSHr (diuraikan oleh mas Garonk). Prinsipnya harus diyakinkan fluida tetap berwujud fluida saat dihisap sampai di impeller eye pompa. Bila syarat ini tidak dipenuhi maka sebagaian atau keseluruhan fluida akan berubah menjadi uap, karena tekanan yang terlalu rendah dari hisapan pompa. Inilah fenomena kavitasi. NPSHa dapat dihitung dari sistem dimana pompa akan dipasang, sedangkan NPSHr dapat diperoleh pada kurva performance pompa, dimana harga NPSHr ini tergantung dari kecepatan putar pompa.

2. Head pompa > dari Total Head Dynamic di mana pompa akan dipasang. Secara prinsip THD dapat dihitung dengan menambahkan rugi-rugi aliran yang diakibatkan gesekan pada pipa, valve, belokan, sambungan, dll terhadap perbedaan tinggi muka fluida yang dihisap dengan tinggi muka air dischargenya. Head pompa dapat diperoleh dari kurva performansi pompa, dimana harga head pompa sangat tergantung pada debit aliran yang diinginkan.

Semoga membantu.

Tanggapan 3 – Kofah Baskoro

Koreksi sedikit: Mungkin yang dimaksud ‘fluida’ dalam tulisan Bapak Ilham di bawah adalah’liquid’. Karena fluida pengertiannya ‘zalir = zat alir’ yang berarti bisa liquid maupun uap/gas.

Tips lain dalam pemasangan pompa (sentrifugal):

1. Usahakan tidak ada ‘air pocket’ di sepanjang jalur pipa.

2. Hindari dan cegah leakage di suction line, pompa anda akan ‘ngempos’ bila tidak.

3. Bisa dicoba tipe self suction pump.

Tanggapan 4 – Muhammad Padli

Sekedar menambahkan.. : perlu juga untuk menjaga back pressure pompa pada nilai yang sesuai (lihat data sheet pompa yang akan dipasang). Untuk keperluan ini bisa menggunakan control valve dan pressure transmitter di discharge pompa.

Tanggapan 5 – muisab@inco

Sebagai tambahan…., pernah terjadi di lapangan karena setting rpm yang salah (tidak sesuai rekomendasi vendor) sehingga pompa tidak mampu mengalirkan fluida.

Tanggapan 6 – Bahari Christian

Terima kasih Mas Garonk, Mas Ilham Budi Santoso, Mas Kofah Baskoro atas masukan mas2x sekalian.. masukan anda sangat bermanfaat, moga moga d kemudian hari saya bisa menjawab pertanyaan seperti ini lagi, soalnya selama ini saya hanya bisa menghitung dari GPSA sec12 seperti yang mas Garonk sebutkan. Tapi hal hal teknis pompa ini saya kurang paham alias kurang pengalaman…:D.

Terima kasih atas masukan nya yak…

BTW buat mas Garonk, pernah memberikan pelatihan lho di kampus…moga moga masih ingat….:D Kapan lagi nih buat pelatihan…?

Tanggapan 7 – Alvin Alfiyansyah

Dear Mas Padli,

Saya mau bertanya karena jadi agak bingung, apakah back pressure pompa tidak bisa di-cek dengan hydraulic calculation + data pressure drop dari control valvenya ? Ataukah dengan install control valve dan pressure transmitter saja sudah cukup utk menjaga back pressure-nya ?

Sejatinya bukankah pemakaian control valve di discharge itu berhubungan dengan delivery pressure dan capacity control (=pengaturan laju alir kalo di tulisan Mas Cahyo sebelumnya). Set point control valvenya dapat diubah dari minimum, normal, dan maximum rangenya yang berpengaruh pada kurva head pompanya itu sendiri dan tentunya karakteristik pompanya tersebut. Pemakaian control valve sendiri katanya menyebabkan berkurangnya energi pompa, walau mungkin tidak terlalu dipentingkan utk dipelajari disini.
Discharge pressure sendiri adalah jumlah dari friction losses, perbedaan elevasi di discharge piping dan delivery pressurenya.

Mohon pencerahannya jika pengertian saya memang salah.

Tanggapan 8 – Muhammad Padli

Mas alvin,

Maaf… kemarin saya keliru. Maksud saya adalah untuk menjaga differential pressure pompa, bukan back pressure pompa.
Mengenai pertanyaan mas alvin saya yakin teman2 dari mechanical apalagi yang sudah senior seperti pak darmawan pasti bisa menjawabnya.

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Mas Padli,

koreksi sedikit, saya bukan mechanical engineer, melainkan process engineer/process safety engineer.

btw, setuju dengan Alvin, jika dipahami tulisan Pak Cahyo di mailing list ini (terutama tentang pompa) maka problem seperti ini seharusnya tidak terjadi saat operation.

Pertanyaan terbesar patut diberikan pada si design engineernya dulu saat proyek dalam tahap engineering…

Tanggapan 10 – Alvin Alfiyansyah

Dear Mas Padli,

OK deeeh.

Mungkin perlu diperhatikan juga bahwa control valve tersebut dapat ‘throttling’ sesuai rangenya. Jika pompanya punya control valve di bypass line dan discharge line-nya, tentu nilai differential pressure pompa tsb. tidak dapat dihitung secara sederhana lagi bukan ?
Tidak ada maksud untuk menggurui, tetapi dasar2 hal semacam ini sudah mulai diberitahukan didalam papernya Mas Cahyo (Sorry Mas Cahyo, kesebut lagi namanya, papernya bagus sih.). Jadi memang sebaiknya kejadian macam ini sudah diprediksi sejak tahap engineering, mungkin nantinya saat modifikasi diperlukan tidak perlu studi yang rumit untuk mempelajari kelakuan fluida yang dipompakan ini. Jangan sampai nantinya malah membahayakan system lainnya.

Nah, karena ada juga hubungannya dengan energi dengan kelakuan control valve-nya yang dipakai dalam system per-pompaan ini dan tergantung dari tipe pompa centrifugalnya (axial flow, mixed flow,1- stage – single suction, 2stage – single suction, etc.) dan kurva sistemnya, maka nantinya nilai turndown pompanya dapat bervariasi, yang dibilang dalam sebuah kursus : minimum/maximum turndown ratio dihitung berdasarkan minimum pump continuous flow due to the thermal effect.

Suatu saat mungkin kalo kita sempat copy darat, apalagi sekalian ada Mas Cahyo dan Mas DAM akan lebih afdol dan asyiik membahas masalah seperti ini sekaligus pencerahan bagi kita semua.

Please CMIIW

Tanggapan 11 – Muhammad Padli

Betul sekali Mas alvin….

Kalau di return line ada control valve, perhitungan differential pressure akan lebih sedikit complicated.

Setidaknya itu yang saya peroleh dari membaca buku teman. Digurui pun ndak apa-apa.. monggo.. wong saya masih belajar kok 🙂

Pak Darmawan,

Maaf Pak.. saya salah nebak disiplin profesi-nya. Mudah2-an ngak bosan ngirimin artikel ke kita2 yang junior ini.

Tanggapan 12 – Wikan Nugrahajaya

Sedikit menambahkan info, di website:

www.migas-indonesia.com ada artikel bagus tentang pompa yang dibuat oleh Pak Cahyo, cari aja di artikel dengan key word pompa.