In Salah Gas Ltd., partnership dari Statoil, BP PLC, dan Sonatrach Algeria, telah menandatangani 1.15 milyar dolar kontrak engineering, procurement, and construction (EPC) dengan Petrofac International (UAE) LLC untuk pengerjaan di project pengembangan lahan bagian selatan In Salah di Algeria.

In Salah Gas Ltd., partnership dari Statoil, BP PLC, dan Sonatrach Algeria, telah menandatangani 1.15 milyar dolar kontrak engineering, procurement, and construction (EPC) dengan Petrofac International (UAE) LLC untuk pengerjaan di project pengembangan lahan bagian selatan In Salah di Algeria.

Fasilitas pusat processing In Salah di Krechba akan memproses gas dari lahan bagian selatan dan memindahkan karbon dioksida untuk sequestration bawah tanah sebelum gas disalurkan ke jaringan gas nasional.

Kontrak EPC adalah bagian dari pengembangan Phase 2 dari lisensi In Salah.

Tiga lahan gas (Krechba, Teg, dan Reg) di bagian utara lisensi, yang awalnya dikembangkan pada Phase 1, dengan sasaran pengiriman gas 9 milyar cu m/tahun. Phase 1 dimulai pada 2001 yang lalu dan gas komersial pertama dikirim pada Juli 2004.

Berdasarkan pada berkurangnya produksi gas yang diharapkan dari tiga lahan tersebut, Phase 2 akan menegaskan production plateau dan meneruskan komitmen penjualan gas jangka panjang, menurut partnershipnya.

Phase 2 meliputi empat lahan gas di bagian selatan dari lisensi: Garet El Bifna, Gour Mahmoud, In Salah, dan Hassi Moumene.

Berdasarkan kontrak EPC, Petrofac akan membangun beberapa fasilitas yang meliputi well pads, manifolds, flowlines, dan pusat fasilitas processing baru dengan kapasitas processing gas 17 juta cu m/tahun. Fasilitas processing pusat akan berada di utara dari kota In Salah dan dihubungkan kembali ke fasilitas produksi yang ada di Reg untuk mentransport gas selanjutnya ke pusat fasilitas processing untuk memindahkan karbon dioksida dan ekspor gas.

Partnership berharap gas pertama dari lahan bagian selatan di pertengahan pertama tahun 2014. Saham investasi dari tiga partner adalah Sonatrach 35%, BP 33.15%, dan Statoil 31.85%.

Sumber: www.ogj.com