Psikotest itu adalah syarat mutlak standard yg digunakan oleh umumnya perusahaan2 yg ingin merekrut karyawan untuk mereka gunakan selamanya sampai memasuki usia pensiun atau juga untuk kontrak jangka panjang (long term). Sedangkan CV sering dipakai sebagai saringan tahap awal, karena kalau semuanya dipanggil untuk psikotes bisa merepotkan. Data2 dari CV yg sering dipakai sebagai saringan awal misalnya nilai IP, tahun pengalaman kerja, tahun pengalaman yg serupa, jenjang pendidikan, dll.

Tanya – fajar p

Dear Rekan Milis Migas….

Sekedar sharing saja kepada rekan semua, karena baru saja terjadi pada diri saya.
Sesuai dengan judul subject yang ada diatas, saya agak merasa berpikir kembali untuk diri saya. Bermula ketika saya di sms dari perusahaan manufacture alat berat ternama yang berada di Jababeka Cikarang, bahwa saya diharapkan untuk hadir di acara psikotest dan membawa lengkap CV (sudah mengirimkan CV melalui email). Dengan bekal pengalaman saya di bidang marketing dan memang dengan keyakinan akan diterima di perusahaan tersebut karena pengalaman saya di bidang marketing tentunya (karena sudah ada target perusahaan yang akan saya masuki ketika nanti sudah di terima masuk karyawan dan memberikan inovasi baru yg mungkin blm ada di perusahaan tersebut). Lalu saya berangkat lah dengan restu doa dari istri dan keluarga.

Dan akhirnya saya mengikuti acara psikotest itu dengan saksama dan banyak pula peserta dari luar daerah juga. Anggaplah psikotest pertama sudah selesai dan hasil pun sudah terpampang di depan proyektor. Memang belum jodoh dan rejeki saya dan keluarga, saya tidak lolos di tahap psikotest pertama ini. Saya memang menerima dan mensyukuri hasil itu adalah jalan dari Alloh untuk saya. Ketika saya ingin beranjak pulang dan mengembalikan form isian untuk karyawan baru, saya menanyakan CV nya di kumpulkan atau di bawa pulang????staff tersebut bilang CV nya dibawa pulang aja, karena sudah tidak berguna lagi.

Yang menjadi pertanyaan buat saya, apakah psikotest itu merupakan acuan yang final dari setiap recruitment karyawan baru????lalu bagaimana dengan CV yg harus di bawa dan CV yg dikirimkan melalui email (dibaca ga yah)????karena ada juga calon karyawan yg harus menyiapkan CV nya ketika pas berangkat menuju ke perusahaan tersebut, harus mencari warnet / rental komputer hanya untuk mengeprint CV nya dia (ketika saya mengobrol dg salah satu peserta). Tapi hanya akan sia2 usaha dia jika tidak diterima di perusahaan tersebut (memang Alloh tidak memberikan sesuatu dg sia2/pasti ada maksudnya).

Karena saya pernah juga di interview di beberapa perusahaan asing yang hanya ingin melihat CV nya saja tanpa melalui test tulis dan psikotest.
Lalu jika memang psikotest menjadi acuan final dlm hal recruitment, bagaimana dg peserta yang sedang dalam keadaan tidak fit???yang mungkin hasil akademik nya bagus di perkuliahannya. Tapi juga tidak lulus krn hasil psikotest tersebut (sama seperti anak SMA yang lulus di perguruan negeri tp tidak lulus UAN).
Lalu bagaimana dengan test yang hanya dilakukan via telp. Hanya interview via telp (CV nya sudah dikirim via email) sudah bisa langsung di terima bekerja.
Apakah selalu seperti ini yang terjadi di negara saya yah???apakah di luar negeri sana juga di lakukan psikotest bagi karyawan baru tanpa harus melihat pengalaman dan keahlian orang tersebut.

Yah semoga ini bisa menjadi referensi buat diri saya pribadi.

Tanggapan 1 – berlian syako

Pak Fajar,

Psikotest itu adalah syarat mutlak standard yg digunakan oleh umumnya perusahaan2 yg ingin merekrut karyawan untuk mereka gunakan selamanya sampai memasuki usia pensiun atau juga untuk kontrak jangka panjang (long term).

Adalah hal yg wajar kalau perusahaan juga ingin mengetahui dan mengenal secara detail calon karyawannya supaya tidak salah memilih dan berakibat membahayakan kelangsungan perusahaan (perusahaan tentu tidak ingin seperti membeli kucing dalam karung). Cara mengenal secara detail watak, bakat, minat, kekurangan dan kelebihan karyawan salah satunya yg sering dipakai sebagai standard adalah psikotest.

Sedangkan CV sering dipakai sebagai saringan tahap awal, karena kalau semuanya dipanggil untuk psikotes bisa merepotkan. Data2 dari CV yg sering dipakai sebagai saringan awal misalnya nilai IP, tahun pengalaman kerja, tahun pengalaman yg serupa, jenjang pendidikan, dll.

Standard2 rekrutmen diatas adalah umum dilakukan oleh banyak perusahaan diseluruh dunia.

Ada cara lain kalau anda tidak suka mengikuti prosedur2 standard tsb misalnya anda bisa membidik perusahaan2 yg tidak begitu ketat menggunakan standard rekrutmen tsb, atau anda bisa memfokuskan ke dunia tenaga kerja yg bersifat hands on experience dengan sistim kontrak, biasanya perusahaan yg ingin menggunakan jasa karyawan kontrak tidak begitu perlu mengetahui secara detail watak karyawan, mereka hanya memerlukan skill karyawan tsb untuk masa tertentu.

Saya sendiri adalah karyawan kontrak yg pindah dari satu company ke company lain, jadi kunci utama keberhasilannya tidak lagi terletak di Psikotest, tapi lebih kepada saringan CV.

Tanggapan 2 – Taufik H.S.Ad.

Saya setuju oleh uraian Sdr Berlian

Umumnya kalau perusahaan menerapkan psikotest, HRD nya sudah terorganisir walau tidak sedikit juga ada beberapa perusahaan yang cuma sekedar formalitas atau tidak obyektif. Paling gampang menilainya saat mereka menentukan waktu psikotest ada delay waktu dari yg mereka tentukan sendiri karena alasan ruangan terpakai lah atau ada perubahan manajemen mendadak. Artinya mereka sendiri sudah tidak menghargai waktu yg orang lain sediakan. Sekali lagi mereka berfikir kita yg butuh kerja.

Pak Fadjar,

Fenomena lain yg saya alami sekarang bila tanpa saringan psikotest. HRD nya asal rekrut dari tempat mereka sama2 kerja dulu. Saya ketemu partner dalam satu rotasi 28/28, yg menurut pendapat saya orang ini malah harus diikutkan kursus macam 7 habits atau John Robert Power. Org ini sangat klerikal, sangat tidak flexibel sehingga susah kita melakukan synergy. Padahal kami kerja koordinasi yg sangat simple. Dia urus crew change and other general affairs. Saya urus logistik & supply chain

Mudah2 an anda tidak patah semangat

Sama dgn Sdr. Berlian. Sejak 84 saya sudah bekerja di lebih dari 10 perusahan, jadi cukup banyak yg bisa saya jadikan parameter.

Tanggapan 3 – Sketska N.

Thanks atas share nya pak Taufik, terutama pak Fajar yang telah membuka subjek ini.
Memang aneh bin ajaib disini, hal yang sepele menjadi sulit.

Menambahkan sedikit agar tidak patah semangat / bimbang – ragu dengan psikotest:
Alhamdulillah sampai dengan hari ini pindah2 Employer tanpa psikotest / test yang berbelit, kecuali fit proper kesehatan, terutama yang cukup detail di perusahaan pada saat ini bekerja.

Yang cukup saya sesalkan pula, terutama pada lowongan professional berpengalaman, tidak ada nya sistem rigid – sistematis yang diterapkan oleh HR ybs. Let say, di setting dengan aplikasi online lalu di setup deadline nya didalam sistem tsb, shg pd saat kandidat tidak lolos, maka automatically system akan mengabari per email ke kandidat tsb tentang status aplikasi ter-update. Dengan hal ini, maka kandidat akan secure dan juga mendapatkan kepastian. Bagian dari attitude kah ini?

Satu lagi, beberapa tahun belakangan ada kecendrungan HR di perush besar, meminta tanda bukti gaji terakhir dan/atau copy rekening dalam 3 bulan terakhir. Ini sampai sejauh mana ya? Memang relatif, tetapi apakah se ‘bebas’ ini HR mempunyai kewenangan thd calon pekerja?

Tanggapan 4 – Dirman Artib

Untuk kategori tentara bayaran alias dibayar per ‘terjun payung’alias sejangka project , biasanya tak ada psikotest, karena term and condition nya sudah aman bagi employer dan employee, jika dalam 3 bulan si employee terlihat kelainannya seperti bengang-bengong maka employer langsung saja bisa memutus hubungan dgn employee tanpa ba-bi-bu, paling ho..ho..ho…

Begitu juga sebaliknya, jika menurut si employee majikan nya juga sinting, arahan gak jelas, bos beri perintah sambuil mabok, sistem standard code diterabas apa maunya, maka si employee juga boleh langsung beli tiket balik, terutama buat lokasi kerja di luar Qatar atau Saudi, kalau kerja untuk 2 kebun kurma Qatar-Saudi maka harus minta exit permit dulu, pura-pura aja ke Dubai nyari bakso.

Obrol-obrol pasal Psikotest, kayaknya kalau mau dipekerjakan pada perusahaan yang malas memecat karyawan maka perlu ada Psikotest, tetapi jika perusahaan tersebut sudah biasa memecat karyawan tanpa rasa berdosa kayaknya tak perlu psikotest. Jadi hati-hati aja buat rekan-rekan yang masuknya tanpa psikotest, ‘Be ready for packaging your luggage, any time, you know the way to get cheap flight ticket, don’t you?

Tanggapan 5 – muhamad_farizi

Mas Fajar,

Jangan patah semangat tidak berhasil psikotes bukan berarti anda tidak mampu dalam pekerjaan tersebut. Ukuran sebenarnya adalah pada saat karyawan siap terjun ke medan perang sebenarnya. Dalam hal ini tentunya pengalaman di cv harus dipertimbangkan. Mungkin kalau untuk tes fresh graduate psikotes bisa di jadikan alat ukur. Manusia sulit untuk di pelajari sekalipun dalam psikotes, manusia hanya dapat dimengerti.

Tanggapan 6 – agussihotang

Bung Fajar,

Semoga dapet tempat yg lebih baik ya. Kegagalan bisa menjadi gerbang kesuksesan, cliche, tapi manjur.
Saya berempati jadi orang HRnya yg males bikin database CV dan males ngumpulin CV yg gak lolos psikotest (cek HRnya langsung apa hire consultant recruitment tuh).

Bisa ratusan CV yg harus dia handle.
Kalo case2 yg gampang tinggal recruit tuh bisasanya yg perusahaan butuh banget mas, experience hire.

Pokoknya selama supply tenaga kerja lebih banyak dari demand, kita memang harus berusaha ekstra.

Mengenai psikotest harus fit, ya iyalah mas karna psikotest tu nganggep kondisi tubuh semua applicant ceteris paribus.
Tau kan kenapa setiap orangtua nyuruh anaknya jaga kesehatan jangan sakit menjelas test?

Curcol nih, saya pernah ga fit psikotest satu perusahaan gak lolos,kemudian saya test lagi perusahaan yg sama, alhamdulillah fit, trus lolos. Padahal soalnya sama persis.

Keep fighting Bung, aza aza!

Tanggapan 7 – Sarwono Wijaya

Tenang Mas

Psikotes kalau tidak biasa memang butuh adaptasi & latihan bbrp kali maju sampai akhirnya lulus juga. Intinya dalam menghadapi psokotes harus tenang dan fit secara lahir batin. Yakin saja kalau diniatkan pasti suatu saat akan lolos.

Dalam pikiran saya yakin Mas Fajar malah akan mendapat manfaat dari kejadian ini. Soalnya namanya psikotes massal itu biasanya kan untuk porsinya para fresh graduate. Kalau tenaga berpengalaman seharusnya tidak usah bersusah payah ikut tes massal seperti itu.

Tapi saran saya ya sebaiknya Masnya membiasakan diri dengan psikotes. Soalnya seingatku psikotes itu sering ada dimana-mana. Kadang-kadang ada juga profesional yang faktanya ahli tapi pada suatu keadaan hal tertentu harus terlempar karena hasil psikotesnya kurang baik khususnya tes yang bersifat aptitude. Ya repot juga kalau sampai terlempar untuk mengemban jabatan/fungsi tertentu atau mengerjakan pekerjaan tertentu karena hasil psikotes menyatakan terdapat motivasi rendah, emosi kurang terkendali, kecerdasan kurang, dlsb. Jadi jalan terbaiknya ya belajar saja soal-soal psikotes sambil mengevaluasi diri sendiri juga.

Tanggapan 8 – hamim

Mas Fajar…

kebetulan saya orang HR..

sebenarnya kalo untuk posisi yang sdh experience psikotes hanya di gunakan sebagai support data seperti yang dikatakan oleh Bp SW…

jadi untuk mengantisipasi di kemudian hari lebih baik banyak2 mengerjakan latihan soal2 psikotes yang ringan2 saja asal rutin itu akan memberikan nilai lebih jika dikemudian hai ketemu lagi dengan makhluk psikotes ini..heheheh.