Saat ini saya sedang involved dalam pembuatan TOR (Term Of Reference) untuk pembuatan jalur Pipeline Gas untuk 2meter dibawah tanah, untuk di offer ke konsultan.Kira-kira apa ya paramater untuk penentuan Jumlah Titik Sondir & Boring? mengingat panjang jalur sekitar 270km. Apakah sondir & boring per 1 Km sudah cukup mewakili kondisi tanah disekitarnya? mengingat sepanjang jalur tsb cukup banyak osbtacle yang dihadapi, ada pemukiman, crossing dengan sungai,public road juga crossing dengan rail KA.

Tanya – ferry silaban

Dear Milister,

Saat ini saya sedang involved dalam pembuatan TOR (Term Of Reference) untuk pembuatan jalur Pipeline Gas untuk 2meter dibawah tanah, untuk di offer ke konsultan
kira-kira apa ya paramater untuk penentuan Jumlah Titik Sondir & Boring? mengingat panjang jalur sekitar 270km.
apakah sondir & boring per 1 Km sudah cukup mewakili kondisi tanah disekitarnya? mengingat sepanjang jalur tsb cukup banyak osbtacle yang dihadapi, ada pemukiman, crossing dengan sungai,public road juga crossing dengan rail KA.
Selain sondir&boring, test tanah apa lagi yang diperlukan untuk mengetahui sifat & struktur atas tanah yang akan dilintasi jalur pipeline ini? sebagai gambaran diluar obstacle tsb diatas, disepanjang jalur 75% persawahan/tegalan/ kebun dsb sisanya pemukiman penduduk.
Mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – Thomas Yanuar P

Mas Ferry,

Sedikit sumbang saran dari saya.

Penentuan jumlah titik sondir atau boring ada termaktub dalam ASTM, bisa direfer ke ASTM D 5434 ataupun ASTM D 2113. Dalam penentuan jumlah titik boring pada suatu area menurut ASTM adalah berdasarkan luasan (panjang x lebar) bukan hanya panjang saja.
Namun pertanyaan saya malah, apakah harus dilakukan uji Titik Sondir dan Boring case tersebut?

Perlu dilihat dan dipertimbangkan metode pengujian soil bearing capacity lainnya yang lebih mudah diterapkan, efisien dan murah.

Banyak metode pengujian kondisi tanah lain yang kemungkinan lebih cocok diterapkan. Misalnya berdasarkan parameter seperti tertulis di:

1. ASTM D 1556 Standards Test Methods for Density and Unit Weight of Soil in Place by the Sandcone Method (AASHTO T 191).

2. ASTM D 2992 Standards Test Methods for Density of Soil and Soil-Aggregate in Place by Nuclear Methods (Shallow Depth) (AASHTO T238). Pengujian model ini saya rekomendasikan dengan kondisi dan obstacle yang anda ceritakan.

3. ASTM D 420 Standard Guide to Site Characterization for Engineering, Design and Construction Purposes.

4. ASTM D 2850 Test Method for Unconsolidated, Undrained Compressive Strength of Cohesive Soil in Triaxial Compression.

Dan perlu dipertimbangkan juga:

1. ASTM G57 Standard Test Method for Field Measurement of Soil Resistivity Using Wenner Four – Electrode Method. Metode ini dipergunakan untuk mendapatkan pengukuran tahanan tanah jika nanti ada fasilitas penopang Pipeline yang memerlukan system grounding, terutama jika menggunakan penopang dari struktur baja yang cukup tinggi dan ada kemungkinan berada didaerah yang banyak petir . Referensi untuk hal ini bisa dilihat di IEEE Std. 81-1981.

Sedikit keluar dari topik, perlu juga dipertimbangkan tindakan antisipasi korosi terhadap pipeline itu sendiri dengan memikirkan metode cathodic protection. Dikebanyakan proyek Pipeline (dan aplikasi seawater sheet pile/jetty), disiplin teknik sipil bersinergi erat dengan disiplin piping dan electrical untuk perihal cathodic protection.

Masih ada beberapa metode dalam bermacam Codes yang juga bisa sebagai masukan bagi TOR yang akan dibuat.

Saya juga menyarankan berdiskusi dengan Pipeline Engineer khususnya menyangkut metode Anchors for Buried Pipeline, persyaratan konstruksi yang diinginkan pada instalasi pipa dibawah jalan dan perlintasan kereta api. Karena ada standar-standar dari disiplin pipeline yang mengatur ketiga poin diatas dan bersangkutan dengan kondisi tanah sebagai main domain anda.

Semoga bisa menambah wawasan yaa.

Tanggapan 2 – Paulinus STG

Lae Ferry ..

Klo 270km panjang juga ini bisa lintas propinsi.. onshore lagi. Pasti complicated dan challenging. Banyak client yg befikir secara sempin Soil investigation tanpa mempertimbangan jenis survey2 lainnya yg diperlukan.
Biar lebih afdol .. saya asumsikan bapak mulai dari nol.

Pertama saya sarankan bung Ferry bikin step sbb:

Step 1 s/d 5 – Survey awal

1. Identifikasi kondisi rute sepanjang 270km beserta alternatif2nya, untuk mengetahui kondisi real yg akan dihadapi. Caranya awal2 bisa di plot over citra satelit / map bisa google earth (mudah2an citranya valid 1 s/d 2 tahun yg lalu).

2. Verifikasi visual mengenai lintasan rute tsbt – site visit.

3. Identifikasi (i) topografi/kontur (ii) jenis tanah permukaan, (iii) halangan fisik, yg akan dilintasi (a) Hutan (b) kebun (c) rawa2 (d) sungai / delta sungai (e) jalan raya (f) bagunan existing.

4. Pelajari kondisi Geologinya .. bagaimana klas gempanya, bagaimana kecenderungan geology permukaan atasnya, dimana area rawan longsor.

5. Indentifikasi metode konstruksi dalam hal (a) crossing sungai (b) crossing jalan raya (c) crossing kontur extrem rawan longsor (d) lewat rawa2, dari metode2 ini apakah perusahaan sudah mempunyai guideline umum dari typical project sebelumnya, sehingga apakah (a) overland dan perlu anchor (b) perlu burried 2m untuk sungai / rawa2 (c) perlunya crossing bridge untuk crossing sungai atau kontur extrem. (d) shallow tunnel bila crossing sungai atau jalan, etc

6. Data apa saja yg sudah ada dan apa yg diperlukan.. (a) survey kontur (b) survey cardastal (c) survey geoteknik (d) tambahan data spesific pipeline – soil resistivity, thermal conductivity, etc.

Selanjutnya Survey teknikal

Setalah melakukan identifikasi awal serta memahami kondisi geological tanah dari rute pipeline, dalam menentukan scope of work agar lebih tepat sasaran, lebih baik dijabarkan berdasarkan hasil indentifikasi metode konstruksi.

1. Shallow testing & sampling : Untuk laying pipeline (overlan/burried) tanpa struktur mungkin specnya adalah mengetahui seberapa dalam tanah lunaknya .. testnya adalah shallow insitu test, bisa sondir/CPT, bisa (dynamic cone Penetration-DCP), jaraknya bisa per 1atau 2km. Selanjutnya untuk mendapatkan sample tanah atau sekedar klassifikasi bisa juga shallow sampling seperti test pit (digali dengan excavator) atau hand auger s/d kedalaman 3m.

2. Deep testing & sampling : Pada lokasi yg memerlukan support struktur yg significant, maka diperlukan soil data spesific sesuai keperluan. Contoh (a) soil boring + CPT dengan kedalaman 10m untuk bridge / tunnel corossing sungai ..(b) 2 s/d 3 buah soil boring + CPT dengan kedalaman yg significant untuk area2 rawan longsor dan bila diperlukan support penahan longsor.. Jumlahnya silahkan disesuaikan dgn identifikasi awal.

3. Lain2:

3.1. Untuk tambahan data soil resistivity, bisa dilakukan insitu dgn metode yg dijabarkan mas TY dibawah, atau bisa juga dari uji lab terhdap soil sample yg dibawah.

3.2. Terhadap data2 tanah secara umum geoteknik adalah uji klasifikasi, dan uji kuat geser. Mengingat ini onshore, untuk laying pipeline saja tidak terlalu complicated, tapi perhatikan untuk lokasi support structurenyaitu Detail untuk Lab testing bisa dilihat di standard BS/ASTM/AS/SNI.

3.3 Bila diperlukan timbunan dan pemadatan, maka perlu dilakukan test kompaksi di lab. Selanjutnya sbgi QC perkejaan lapangan, metode test density yg dijabarkan mas TY dibawah bisa ditambahkan.

Demikian .. cukup complicated dan ruwet memang secara 270km onshore lagi .. ckckck.
Eheemm eheemm boleh tau ini kira2 lokasi dimana dan untuk siapa ..