Biasanya untuk plan yang besar banyak sekali melibatkan variasi dan system pemipaan di plan tersebut. Menghitung thicknes utk masing2 pipa utk setiap size dan setiap service tentunya sangat tidak efisien dan sulit mengontrol dalam hal: Purchasing – Installation/Fabrication – QA/QC. Untukitulah di perlukan pengelompokan jenis dan thickness pipa ato di sebuty Piping Class/Piping Material Data Sheet. Thicknes2 hasil kalkulasi yg berdekatan, material yg sama kemudaian di kelompokan kedalam satu Class dengan mengambil thickness yg paling tebal disesuaikan dengan market availabilitynya.

Tanya – Firdaus

Dear Professional Piping,

Saya berkecimpung di bidang Piping Estimation.
Saya agak curious tentang cara memilih Schedule dalam Piping Class Data Sheet.

Dalam sebuah project, saya sering menemukan untuk piping dengan P&T tertentu, menurut Piping Class Data Sheet yg available harus menggunakan schedule sekian. Padahal, kalau saya menghitungnya secara manual (based-on B31.3), dengan schedule yang lebih rendah saja sudah cukup. Saya sudah mempertimbangkan manufacturing tolerance yang 12.5%. Pertanyaan saya, what have I missed here? Apakah ada parameter lain yang harus dipertimbangkan?

Apakah ada semacam rule atau engineering practice yang mengharuskan bahwa untuk NPS <2'schedule yang digunakan harus 80> (untuk CS), dan 80s> (untuk SS)?

Terima kasih banyak atas perhatian dan jawabannya.

Tanggapan 1 – Suparwoto, Gunawan (Jakarta)

Pak Firdaus,

Biasanya utk plan yg besar banyak sekali melibatkan variasi dan system pemipaan di plan tersebut.

Menghitung thicknes utk masing2 pipa utk setiap size dan setiap service tentunya sangat tidak efisien dan sulit mengontrol dalam hal:

Purchasing

Installation/Fabrication

QA/QC

Utk itulaah di perlukan pengelompokan jenis dan thickness pipa ato di sebuty Piping Class/Piping Material Data Sheet.

Thicknes2 hasil kalkulasi yg berdekatan, material yg sama kemudaian di kelompokan kedalam satu Class dengan mengambil thickness yg paling tebal disesuaikan dengan market availabilitynya.

Selain itu perhitungan Thickness B31.3 tidak memperhitungkan effect external force.

Kebanyakan di piping class utk size2 kecil (<2”) di pilih agak tebal, bahkan jauh lebih tebal dari hasil calc utk menghindari kegagalan akibat external force.

Semoga membantu.

Tanggapan 2 – doni_rachmayadi

mas firdaus …

NO.1 :

selain P&T, juga perlu diperhitungkan corrosion rate dalam pipe seusai dengan system piping tersebut …

biasanya Carbon steel perlu dipertimbangkan thickness corrosion sebesar 6 mm

NO 2:

Anda perlu melihat Standard ASME B36.10 untuk CS dan B36.19 untuk SS.

MKJS (Mohon Koreksi Jika Salah)

Tanggapan 3 – Firdaus

Dear Mas Doni,

Saya telah mempertimbangkan corrosion allowance-nya, dan saya kira tidak mesti 6 mm utk corrosion allowance, tergantung korosifitas fluidanya.

Untuk ASME B36.10 dan B36.19, bukankah mereka hanya menjelaskan tentang dimensi, weight atau materialnya? Instead of hubungannya terhadap pressure atau temperature seperti di B31.3? Paragraph atau table mana yg menurut Mas Doni harus saya tinjau?

Tanggapan 4 – doni_rachmayadi

mas firdaus,

betul … corrosion allowance tidak mesti sebesar 6 mm.

ada sebagian Client mempunyai Standar Piping Spec/Class lengkap dengan thickness/Schedule.

Bila hasil kalkulasi thickness anda kurang dari Piping Class yang terkait, tentunya anda dapat mengajukan Technical Query ke Client sebagai pengajuan proposal anda untuk mengubah schedule dalam Piping Class yang terkait.

Biasanya jika anda ingin membeli pipe SS, tentunya merujuk pada ASME B36.19. Dalam ASME B36.19, ada perkataan bahwa :

The Suffix S in Schedule Number is used to differentiate B36.19 pipe with B36.10 pipe.

Dalam arti untuk pipe SS, akan memakai schedule dengan penambahan S dibelakangnya walaupun sama besar thickness nya dengan pipe CS B36.10.

mudah2an membantu.

Tanggapan 5 – patra putra

setuju pak,

corrosion allowances sudah ditambahkan belum. biasanya hitungan umur pipa (usia pemakaian) kali mpy (mm per year)

mungkin yang patut dipertimbangkan, selain itu.

– live load /external load , posisi above ground dan under ground tidak sama

– jenis plain pipe or corrugated pipe, or reinforced concrete.

– pipa disambung dengan metode Thread atau welding. untuk thread joint biasanya lebih tebal dibanding weld joint

mungkin yang lain ada lagi yang ditambahkan.

Tanggapan 6 – Zulkifli Taher

Seperti telah disinggung Mas Patra, disamping menggunakan parameter P, T dan Corrosion allowance perlu juga diperlimbangkan load serta jarak antara support (bentangan).

Saya sudah pernah melihat ada software yang dapat menghitung hubungan antara tebal pipa dengan load, jarak antar support ini tapi gak sempat mengopinya. Apakah ada diantara teman teman yang punya dan bisa di share?

Tanggapan 7 – Firdaus

Salam Mas Dony,

Kalau Mas Dony fikir dengan semua pertimbangan saya tadi sudah layak mengajukan TQ, berarti jalan saya sudah bener ya?

Dan tidak ada parameter lain lagi yang harus saya pertimbangkan?

Tanggapan 8 – Nafpemri

dear rekan piping,

sedikit pertanyaan mengenai design piping. mungkin utk MAWP pipa juga perlu di pertimbangkan.
dimana ya saya bisa menemukan MAWP table untuk pipa SS316…??

Tanggapan 9 – doni_rachmayadi

jalannya benar mas firdaus….

parameter data yang anda pakai dalam TQ setidaknya merujuk pada dokumen yang Client recommend/approve.

semoga berhasil

Tanggapan 10 – Obet Wariki

Dear rekan-rekan millist, numpang lewat:

Pemilihan sch pipa tergantung dari kalkulasi wall thickness yg kita lakukan. Untuk mencari schedule pipa yang dijual dipasaran, wall thickness hasil pehitungan harus disesuaikan dengan tabel dimensidan berat pipa sesuai dengan standar material apa yang akan digunakan, misalnya tabel dimensi yang terdapat pada standar ASTM A53, ASTM A106, atau Api 5L, atau tabel dimensi dan berat pipa secara umum yang terdapat pada code ASME B36.10 (untuk carbon steel) dan ASME B36.19 (untuk stainless steel).

Perhitungan wall thickness sendiri harus disesuaikan dengan aplikasi pipa tersebut untuk service fluida apa? Sehingga code yang digunakan pun tentunya akan berbeda-beda, saya ambil case untuk service fluida gas code yang digunakan adalah ASME B31.8 dimana kalkulasi dari wall thickness terdiri atas banyak parameter lagi, antara lain:

>internal pressure,

>size (diameter) pipa,

>SMYS material yang dipilih,

>design factor yang merupakan fungsi dari location class dimana pipa akan di tempatkan, joint efficiency (pipa berbeda-beda case antara ERW, seamless,..) dan temperature dearating.

Selain breakdown dari parameter untuk formula wall thickness diatas, perlu juga ditambahkan corrosion allowances dan mill tolerances unutk sefety factor untuk antisipasi serangna korosi pada pipa, serta toleransi hasil proses manufakturing. Untuk C.A tergantung dari corrosion rate yang diprediksi (biasanya tergantung dari hasil analisa komposisi fluida yang akan melewati pipa / dapat ditanyakan kepada process engineer) dan umur pemakaian pipa (design lifetime), sedangkan mill tolerances nilai yg diambil biasanya 12.5% dari wall thickness.

Oia saya koreksi sedikit definisi yang ditulis salah seorang rekan kita sebelumnya, stands of mpy untuk satuan corrosion rate bukan (mm per year) tetapi (miliinch per year)

that please correct me if there is something miss 4 above explenation.

Tanggapan 11 – abdi raja

untuk corosion allowances bisa pakai API 570 piping inspection for maintenance purpose.

Tanggapan 12 – InYo tHeA

Pemilihan sch pipa tergantung dari kalkulasi wall thickness yg kita lakukan.

Untuk mencari schedule pipa yang dijual dipasaran

-EQ-

Setuju….setelah kalkulasi dilakukan dengan mempertimbangkan semua aspek sesuai dengan kondisi dan standard yg mjadi acuan….yg harus kita pertimbangken adalah market availability…..ini yg kadang menyebkan pemilihan schedule pipa 1 kelas d atas….cmiiw.

Tanggapan 13 – Mubarok

Coba ikut urun berpendapat,

Tujuan utama dari code kan untuk memastikan kalo system pipa yang kita design nantinya akan beroperasi dengan aman meskipun pada saat yang dianggap beban puncak (tentu saja dengan mempertimbangkan sisi costnya juga).

Jadi logikanya ketika telah melakukan perhitungan wall thickness dengan code yang sesuai (contoh B31.3 untuk process piping) dengan mempertimbangkan semua allowances2 yang ada kita menemukan design wall thickness yang akan dikonversikan ke wt sesuai standard pasaran (mengacu ke ASME B16.10 dll).

Untuk alasan safety tadi biasanya akan dilakukan round up untuk pemilihan material pipa karena kita juga membutuhkan “buffer” untuk lebih memastikan tingkat safety dari system perpipaan yang kita design.

Contoh kasus, kita mendesign untuk pipa CS 4”, berdasarkan hasil hitungan sesuai code design wall thickness ketemu 6,01 mm, sedangkan untuk dipasaran tersedia Sch 40 (6,02 mm) dan Sch 80 (8,56 mm). Secara matematis pipa dengan sch 40 sudah bisa digunakan tapi saya pribadi akan lebih memilih pipa 4” sch 80 (hanya dengan alasan buffer untuk safety tadi).