Lembaga Peralatan Perminyakan sedang melancarkan kampanye untuk mencoba membuat orang waspada terhadap bahaya kebakaran yang diakibatkan oleh ‘statis’ (yaitu, listrik statis) di SPBU. Mereka telah melakukan penelitian terhadap 150 kasus kebakaran ini.
Hasilnya sangat mengejutkan: 1. Dari 150 kasus itu, hampir semuanya wanita; 2. Hampir semua kasus melibatkan orang yang masuk kembali ke dalam mobil saat nozzle masih memompa bensin, ketika selesai dan mereka keluar kembali untuk menarik keluar nozzle maka kebakaran mulai terjadi, yang diakibatkan oleh listrik statis.

Pembahasan – Heru

Lembaga Peralatan Perminyakan sedang melancarkan kampanye untuk mencoba membuat orang waspada terhadap bahaya kebakaran yang diakibatkan oleh ‘statis’ (yaitu, listrik statis) di SPBU. Mereka telah melakukan penelitian terhadap 150 kasus kebakaran ini.
Hasilnya sangat mengejutkan:

1. Dari 150 kasus itu, hampir semuanya wanita.

2. Hampir semua kasus melibatkan orang yang masuk kembali ke dalam mobil saat nozzle masih memompa bensin, ketika selesai dan mereka keluar kembali untuk menarik keluar nozzle maka kebakaran mulai terjadi, yang diakibatkan oleh listrik statis.

3. Sebagian besar bersepatu dengan sol karet.

4. Sebagian besar orang laki-laki tidak pernah masuk kembali ke dalam mobil sebelum pengisian bahan bakar benar-benar selesai. Itulah sebabnya mereka jarang terlibat dalam kebakaran jenis ini.

5. Jangan sekali-kali menggunakan HP saat mengisi bensin.

6. Uap bensinlah yang mengakibatkan kebakaran itu, ketika berhubungan dengan listrik statis.

7. Terjadi 29 kebakaran dimana kendaraan dimasuki kembali dan nozzle disentuh saat pengisian bahan bakar dari berbagai jenis merek dan model. Sebagian mengakibatkan kerusakan berat terhadap kendaraan, SPBU, dan langganan.

8. Tujuh belas kebakaran terjadi sebelum, pada saat atau segera setelah tutup tangki bensin dilepas dan sebelum pengisian bensin mulai. Jangan sekali-kali masuk kembali kedalam kendaraan anda saat pengisian bensin sedang berlangsung. Jika anda memang terpaksa HARUS masuk kembali ke dalam kendaraan anda saat bensin dipompa, pastikan anda keluar, menutup pintu SAMBIL MENYENTUH LOGAM, sebelum anda menarik nozzle keluar.

Dengan cara ini listrik statis dari tubuh anda akan dibuang sebelum anda menarik keluar nozzle.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Lembaga Peralatan Perminyakan, bersama-sama dengan beberapa perusahaan lain, sekarang dengan sungguh-sungguh mencoba untuk membuat masyarakat umum mengetahui bahaya ini. Anda dapat memperoleh informasi lebih lanjut dengan mengunjungi
http://www.pei.org Begitu sudah disana, click di tengah layar dimana ada kata-kata ‘Stop Static’.

Kami minta anda dengan sangat untuk mengirimkan informasi ini ke SEMUA keluarga dan kawan anda, terutama mereka yang membawa anak-anak dalam mobil saat mengisi bensin. Jika ini terjadi pada mereka, mereka mungkin tidak akan bisa mengeluarkan anak-anak tepat pada waktunya.

Terima kasih atas kesediaan anda meneruskan informasi ini. ( dari milis tetangga )

Tanggapan 1 – Edyson Simorangkir

Terima kasih atas informasi ini pak ahmad mujib. Tapi mengapa tidak disebutkan lokasi & waktu kejadian-nya??Saya kira listrik statis di area SPBU sangat erat hubungannya dengan persen kelembaban suatu daerah. Mungkin ada tambahan ??

Tanggapan 2 – IndraPrasetyo@EXSPAN

Saya sudah pernah mendapatkan informasi tersebut sebelumnya. Survey atau penelitian tersebut tidak/bukan dilakukan di Indonesia dan juga bukan oleh suatu lembaga di Indonesia, tetapi dilakukan di Amerika oleh sebuah lembaga perminyakan di sana. Sehingga hasilnya menurut saya kurang applicable utk di Indonesia. Di Indonesia kita tidak pernah melakukan pengisian bensin sendiri karena ada petugasnya, jadi bukan kita yang memegang nozzle pengisian bensinnya. Berbeda dgn di Amerika dimana pengisian bensin dilakukan secara self service. Disana utk mengisi bensin, si empunya mobil harus turun, mengambil nozzle dari dispenser dan memasangnya sendiri di lubang pengisian bensin di mobilnya, setelah selesai ia harus menarik kembali nozzle tsb dari lubang pengisian bensin dan mengembalikannya ke dispenser.

Nah penelitian tsb menunjukan bahwa kecelakaan terjadi ketika si empunya mobil, setelah memasang nozzle pengisian bensin di mobilnya, sambil menunggu mobilnya diisi, ia masuk kembali kedalam mobil, ketika mobilnya telah selesai diisi, ia keluar kembali utk menarik nozzle pengisian bensin dari mobilnya, pada saat itulah terjadi kecelakaan yg disebabkan oleh listrik statis.

Tanggapan 3 – Merza Budianto

Pak Ahmad Mujib,

Satu pertanyaan yang agak mengusik, mungkin bapak/ibu yang ada di milis ini dapat membantu menjawab pertanyaan saya.
Untuk item no.2, apakah umum dilakukan di Jakarta (atau di Indonesia) pengemudi menarik sendiri nozzle keluar dari saluran masuk bahan bakan kendaraan? Bukannya hal itu dilakukan oleh petugas stasiun SPBU?

Mohon dibagi pengetahuannya,

Tanggapan 4 – Edyson Simorangkir

Terima kasih atas informasi ini pak ahmad mujib. Tapi mengapa tidak disebutkan lokasi & waktu kejadian-nya??Saya kira listrik statis di area SPBU sangat erat hubungannya dengan persen kelembaban suatu daerah .Mungkin ada tambahan ??

Tanggapan 5 – ahmad mujib

Pak Edyson,

Saya sendiri dapatnya dari luar, jadi sumbernya mungkin bias masuk langsung ke alamat dibawahnya.

Tanggapan 6 – Crootth Crootth

All,

Kondisi di States dan di Indonesia sangatlah berbeda. Melakukan risk assessment adalah langkah pertama yang harus dipenuhi untuk mendirikan setiap Gas Station di States sana. Sayang sekali inkorporasi electrical static ignition sangat minimum even di USA.
Di Indonesia dengan kelembaban udara lebih tinggi (60 – 98%), suhu rata rata udara yang konstan sepanjang tahun (70 – 110 degF), human error atau perilaku petugas pom bensin dan pengendara (kalau di States, pengendara melayani sendiri pengisian bensin) dan bensin yang komposisinya berbeda (LEL dan UEL bervariasi antara 1,3 – 6 % dari Bell hingga 1,4 – 7,6 % dari Chevron) membuat apa yang menjadi potential risk di US dan di Indo sangat berbeda.

Sebelum merekomendasikan tindakan tindakan yang perlu diatur, kiranya perlu dilakukan risk assessment terlebih dahulu.

Tanggapan 7 – Edy Suhendra

betul sekali pak…

masalah static electricity lebih mungkin terjadi di daerah-daerah beriklim sub-tropic ke sana, atau di tempat-tempat yang kelembaban udaranya dikendalikan menjadi lebih rendah dari udara terbuka seperti ‘clean room’ di pabrik-2 semikonduktor atau micro-electronic coba kita check sendiri:

setelah bepergian dengan udara terbuka, pernah nggak tangan kita seperti ke-‘setrum’ ringan saat menyentuh logam di handle pintu?

atau seperti cerita pom bensin tadi, ada yang pernah ke-setrum saat pegang handle pintu mobil?

Tanggapan 8 – Paul Wijaya

Mungkin satu pertanyaan yang mengganggu..
Apakah memang ada kaitannya antara tingkat kelembaban dengan terjadinya listrik statis?
Dengan perkataan lain, makin tinggi kelembaban, kemungkin terjadinya listrik statis makin kecil.

Bila demikian halnya, maka tidak akan ada petir di awan karena kelembabannya tinggi (mengandung uap air) yang akan jadi hujan.

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Pak Paul,

Berikut ini mungkin bisa membantu sedikit menjelaskan:

Hasil penelitian the American Gas Association, U. S. Department of the Interior, Bureau of Mines, U. S. Air Force and the petroleum industry :

1) Tentang hubungan kelembaban, temperatur dan static ignition:

‘Electrostatic charges typically leak from a charged body because they are under the attraction of an equal but opposite charge. Thus, most static sparks are produced only while the generating mechanism is active. However, some refined petroleum products have insulating qualities and the charges generated during movement will remain for a short period of time after the product has stopped moving. This accumulation, rather than dissipation, is influenced by how well the bodies are insulated with respect to each other. Since air or air/vapor mixtures are often the insulating body between the opposite charges, both temperature and humidity are factors in this insulation. Thus, very low or high temperatures, with resulting low humidity, will increase the accumulation of the electrostatic charge both while it is being generated and during the normal relaxation period.

Maka jelas kiranya, terjadinya perbedaan antara kondisi alam Indonesia (suhu konstan, kelembaban tinggi) akan menjadi faktor penghambat terjadinya static ignition.

2) Tentang petir, hasil penelitian juga menyebutkan:

A spark results from the sudden breakdown of the insulating strength of a dielectric (e. g., air) that separates two electrodes of different potentials. This breakdown produces a flow of electricity across the spark gap and is accompanied by a flash of light, indicating high temperature. For static electricity to discharge a spark, the voltage across the gap must be above a certain magnitude. In air, at sea level, the minimum sparking voltage is approximately 350 volts for the shortest measurable gap. The voltage required will vary with the dielectric strength of the materials (e. g., air, and vapor) that fill the gap and with the geometry of the gap. ‘

Contoh ‘sudden breakdown of insulation streght’, adalah temperatur yang turun secara drastis. Turunnya temperatur drastis ini, biasanya disebabkan oleh awan yang amat sangat tebal dan berpotensi menghasilkan petir (beda muatan semakin tinggi terhadap bumi), menyebabkan berkurangnya kelembaban yang ada di udara, jadi kalau Pak Paul bilang udara pada saat hujan itu lembab, bisa iya bisa engga, Harap dibedakan antara pengertian udara lembab dan hujan. Belum tentu dalam proses turunnya air hujan dari awan, air hujan tersebut langsung mengalami penguapan sehingga melembabkan udara, kemungkinan besar malah air hujan ‘tidak sempat menguap’ sehingga kondisi udara tetap masih belum humid.

Tanggapan 10 – Crootth Crootth

Addenda untuk jawaban nomor 2.

Bisa jadi juga kondisi udara humid karena angin membawa udara humid dari tempat lain, sehingga tidak terjadi petir. Dalam konteks hubungan petir vs hujan, saya kira mekanisme yang terjadi cukup kompleks, tidak sesederhana itu Pak. Kalau sederhana, mungkin sudah banyak sekali PLTP, pembangkit listrik tenaga petir.

Tanggapan 11 – Paul Wijaya

Mas DAM,

Terima kasih banyak atas pencerahannya.

Masih ada satu yang mengganjal…

Kalau saya tidak salah tangkap, yang anda sebutkan adalah terbentuknya spark sebagai hasil dari akumulasi listrik statis. Saya sangat setuju bahwa akumulasi ini tidak akan dapat menimbulkan spark bila kelembaban tinggi (karena uap air yang diudara bertindak sebagai penghantar). Tetapi listrik statis sendiri tetap terbentuk (karena adanya gesekan antara dua fluida /aliran) dan tidak terpengaruh oleh kelembaban.

Demikian juga dengan petir (mungkin ahli petir) dapat menjelaskan. Listrik statis tetap terbentuk karena gerakan awan – bila sudah cukup besar karena gesekan yang tinggi maka dapat memecah kekuatan dielektrik.

Jadi hubungan listrik statis dan kelembaban menurut saya tidak ada. Yang ada adalah hubungan terjadinya spark dengan kelembaban.

Omong-omong VICO masih suka tersambar petir?

Tanggapan 12 – Crootth Crootth

Hahahaha,

Sejak akhir tahun 2000 saya bekerja pada VICO Indonesia, saya belum lagi pernah mendengar orang mati kesambit petis saat bekerja (untuk proyek), kalau kejadian di luar proyek mungkin saja ada, mengingat lokasi VICO termasuk kekerapan petirnya tinggi.
Menurut cerita dulu sering ada yang mati kesamber petir.

Tanggapan 13 – Arief Rahman T

Garong, kalau nulis hati-hati. Di VICO memang tidak pernah ada orang mati kesambit PETIS. Kalau kesambar PETIR dulu pernah.
To Pak Paul, kalau Indirect Lightning strike ke peralatan masih sering terjadi, dan memang ada beberapa peralatan rusak. Cuma, dengan design lightning protection system dan maintenance grounding system yang baik kerusakan ini sudah sangat-sangat minim.

Tanggapan 14 – Hasanuddin

Pak DAM, sekalian nanya nih (diluar topik) karena sedang membahas ttg petir dan keliatannya pak DAM cukup paham ttg per-petir-an (he…he..he).

Saya amati di beberapa tempat (offshore dan onshore) yang kebetulan pernah saya singgahi ketika sedang project assigned, kenapa kok intensitas petir relatif tinggi ya? padahal gak ada tanda2 mendung (bakal hujan). Apakah ini ada kaitannya dengan cadangan migas didaerah tersebut???

Hal itu setidaknya saya temui di sekitar Cepu, Wunut, Senipah, Natuna, Grissik, Lhok Sukon, dsb. Bahkan disekitar tempat tinggal saya (Cileungsi Bogor) relatif sering ada petir juga (dan kebetulan beberapa waktu lalu pernah di survei juga tetapi katanya kandungan migas-nya gak banyak sehingga tidak dieksplorasi).

Mungkin pak DAM bisa menjawab rasa keingintahuan saya.

Tanggapan 15 – Crootth Crootth

Pak Hasanuddin,

Saya bukanlah ahli petir, namun ahli petis, (wakakakaka, Mas Arief teliti juga). Saya kira ungkapan ‘petir berhubungan dengan tanda ada/tidaknya sumber atau bahkan fasilitas perminyakan’ perlu direvisi. Menurut saya petir adalah fenomena alam yang kompleks yang tidak ada kaitanya langsung dengan reservoir oil dan gas (yang meskipun kalau dihubung hubungkan sih pasti ada kaitanya, saya belum pernah membaca hasil penelitian ini).

Sebagai bukti, di States, negara bagian yang rawan petir adalah mulai dari utara (di Michigan) hinga ke tengah (Tennessee) dan ke selatan (Oklahoma-Louisiana-Arkansas-Alabama-Georgia-Florida) adalah negara negara bagian yang kandungan minyaknya (atau gasnya) sedikit (kecuali Louisiana).
Di Eropa, petir lebih sering menyambar daerah-daerah, Italia Utara, Hongaria Barat, Slovenia, Austria, Kroasia, Bosnia, dan Laut Baltik dibanding dengan Laut Utara dan Kaukasia yang kaya minyak misalnya.
Di Amerika Latin, Negara yang paling rawan petir adalah Kolombia, wilayah Amazon dan Paraguay yang juga bukanlah daerah penghasil minyak terdepan.
Di Afrika, petir terbanyak ditemukan di Zaire (sekarang Rep Dem Kongo), Sierra Leone, Ethiopea dan Madagaskar.
Di Asia, daerah nongkrongnya petir di Selat Malaka, kamboja dan Kashmir
Semua daerah diatas bukanlah wilayah penghasil minyak utama. Timur Tengah, Afrika Utara, Laut Utara, Siberia, Kanada dan Alaska yang merupakan wilayah penghasil hampir 90% Oil and Gas dunia buktinya aman dari petir….

Kalau pun di daerah daerah yang telah Mas Hasanuddin kunjungin terjadi petir, kemungkinan memang alam sedang dalam kondisi bisa menyebabkan petir (awan negatif, (sedikit yang positif), humiditas, dsb). Atau ngga Mas Hasanuddin jarang berkunjung ke daerah bukan penghasil minyak, jadi kesimpulannya belum valid.

Kalau di daerah saya sih memang penghasil petis (Pasuruan), bukan penghasil petir.

Tanggapan 16 – Edyson Simorangkir

Pak Crootth, Arief, Hasan ; Setahu saya orang meninggal kesambar petir di unit prosess/instalasi MIGAS belum pernah tercatat/dengar, tapi di lapangan golf sudah beberapa kali. Kalau kebakaran akibat sambaran petir, yg saya pernah tahu di Kilang Cilacap, Kilang P.Brandan.
Setahu saya, memang kekerapan petir ini ( biasa disebut hujan petir ) berbeda beda disetiap daerah di Indonesia . Yg saya dengar, tergantung lintasan petirnya, sperti lintasan jalur gempa.
Setahu saya ahli petir di Indonesia saat( non profit) ini pak Tunggul Sirait, sedang jalur petir/di Indonesia bisa didapat ( tapi bayar )dari suatu lembaga ( dibawah naungan ITB, lupa saya namanya )yg berkantor di daerah Kebon Jeruk- Jak.Barat. Pak Hasan, di Cileungsi Bogor petirnya relatif sering, tapi di Pamulang ada namanya Kp. Petir yg petirnya sangat sering, meski tidak hari hujan.
Pak Arief, mungkin kalau nnulis ilmu tdk perlu-lah harus hati2, asal tidak meng-ekspos ilmu yg tidak benar.Yg bisa saya ambil hikmah dari tulisan Bpk adalah, sistim proteksi & maintenance ditempat Bp sangat baik.
Terima kasih

Tanggapan 17 – Crootth Crootth

Dr. Zorro dari Teknik Elektro ITB, setahu saya juga salah satu pakar petir.

Saya sepakat dengan kata kata pak Edyson ‘asal tidak mengekspos ilmu yang tidak benar’, betap berdosanya kita menyesatkan orang lain, lantaran kita tidak menjawab suatu pertanyaan dengan benar…..