STOP card merupakan produk Dupont yaitu kartu saku yang dapat di bawa saat melakukan observasi, yang terdiri dari 6 Observasi dari 2 Pengamatan(Tindakan Tidak Aman dan Tindakan Aman). 6 Observasi tersebut terdiri dari : 1. Reaction of People – Reaksi Pekerja; 2. PPE – APD; 3. Positions of People – Posisi Pekerja; 4. Tools & Equipment – Peralatan; 5. Procedure & Orderliness – Procedure; 6. Orderliness Standards – Kerapihan. Dari ke 6 point observasi tersebut masih terdapat sub2 point yang menjelaskan lebih detail mengenai hasil pengamatan tersebut, setelah itu diharapkan adanya diskusi antara pengamat dan pekerja agar adanya perbaikan senantiasa.

Tanggapan 1 – argihta marettia

Perkenalkan saya Gita, mahasiswa semester akhir UI.
Saya ingin menanyakan apakah ada yang mempunyai referensi mengenai kartu STOP.
Atau ada yang bisa membantu saya untuk memberikan gambaran mengenai kartu STOP?
Saya memerlukan referensi tentang bahan ini untuk keperluan penelitian akhir.
Jika ada, mohon bantuannya :).
Terima kasih.

Tanggapan 1 – Swing man Player

salam mba,

mungkin yang dimaksud stop card = safety task observation program, adalah aktifitas pengisian form / kartu yang berisi mengenai obsevasi terhadap tindakan yang aman atau membahayakan lingkungan, tujuan nya meningkatkan kewaspadaan seseorang terhadap lingkungan dan sebagai feed back departemen HSE (Keselamat dan Keaman lingkungan) untuk menilai tingkat keselamatan kerja di wilayahnya.
Ada di semua tempat kerja , tapi biasanya program ini memiliki effort yang cukup besar sehingga tidak banayk yg serius menanganinya. tapi perusahaan yang go public sudah seharus memiliki kepedulian , krn menyangkut keselamatan yg berbanding lurus dengan nilai saham mereka.
biasanya HR dan safety department perusahaan minyak besar punya, silahkan mencoba menghubungi mereka.

Tanggapan 2 – Muhammad Walfajri

STOP Card sangat familiar untuk orang2 yg bekerja di rig atau platform.
Supaya orang2 tertarik membuat STOP Card utk mendukung HSE, biasanya company memberikan bonus utk STOP card terbaik, biasanya weekly/montly.

Tanggapan 3 – Sigit Widiyantoro

Dear Mr. Argitha,

Apakah ‘Safety Training Observation Program’ STOP yang anda maksud??

Tanggapan 4 – Roberto Pancho

Dear Mbak Gita,

Saya ingin coba membantu. Kartu STOP yang biasa dipakai di dalam HSE kan? Sebenarnya itu merupakan media untuk melakukan pengamatan terhadap perilaku HSE di lokasi kerja baik terhadap pekerja dan lingkungan sekitarnya. Dengan MEdia ini diharapakan setiap orang menjadi pengamat perilaku aman dan tidak aman yang ada di lokasi kerja dan segera menindaklanjuti/ menghimbau perbaikan terhadap perilaku yang tidak aman. Hasil pengamatan tersebut kemudian dicatat ke dalam sebuah kartu untuk dilakukan penilaian bagaimana kondisi kerja di lokasi. Dengan tindakan ini diharapkan dapat mengurangi kecelakaan kerja.

Sebagai referensi dapat dicoba link dibawah ini.

http://www.pdo.co.om/hseforcontractors/hearts_minds/stop/STOPTraining-Presentation.asp.

Sekian dan mudah2an bisa membantu.

Tanggapan 5 – Idemoka Mungka

mba Gita, kalau mengadakan penelitian , sebaiknya jangan memakai istilah STOP Card, nanti ada yang merasa punya patent, pakai istilah methode pengamatan perilaku HSE saja, bisa juga nearmiss report (perilaku tidak aman disini dikategorikan salah satu aspek sebagai nearmiss). nanti saya bantu mengenai ulasannya melalui email japrinya. tapi saya sarankan agar penelitiannya berbobot diadakan kunjungan ketempat/unit operasi yang sudah menerapkan progarm obeservasi perilaku dengan pencatatan ini. bagaimana sistim alurnya, seperti apa form nya, bagaimana cara mengisinya (bisanya ada yang kpakai tingkat resiko) bagaimana cara mensosialisasikannya, bagaimana truck/ cara mengiatkan pekerja, bagaimana cara memonitor temuannya yang efektif, dll sebagainya.

Selamat belajar dan meneliti.

Tanggapan 6 – Daniel Sombe

Ibu Argita Marettia ysh,

Sepengetahuan saya STOP card dipatenkan oleh DuPont Safety.

Saya quote dari document mereka:

STOP stands for the DuPont Safety Training Observation Program. The goal of STOP for Supervision is to train managers, supervisors, and team leaders to eliminate incidents and injuries by addressing the safe and unsafe behaviors of people in the workplace. The key to doing this is to modify behavior by observing people as they work and talking with them to encourage safe work practices and eliminate at-risk behaviors.

Silahkan kalau mau lebih lanjut download saja langsung:

www.pdo.co.om/hseforcontractors/hearts_minds

Curhat dikit ya….. Secara praktis yang saya peroleh dilapangan “varian” dan namanya nya bermacam2 sesuai dengan peraturan dan kebijakan safety setempat. Misalnya BP menyebutnya Stop Card, PHE menyebutnya kartu aman, Chevron menyebutnya …, etc. Saya teringat pengalaman saya waktu masih bersama teman2 Tripatra mengerjakan project BP West Java (Sekarang PHE).

Ibu Gita,

Saya coba summary-kan, mudah2 an ada point2 yang dapat Ibu teliti atau dijadikan topic menarik sehubungan dengan pelaksanaan kartu STOP.

1. Pembuatan kartu STOP dari sisi quantity dan sisi quality ternyata mempengaruhi KPI (Key Performance Indicator) sebuah project.

2. Ada istilah “semakin banyak” STOP card maka semakin bagus. Hal ini memicu lahirnya berbagai kebijakan:

– Pemberian hadiah buat personil yang membuat dan mengumpulkan STOP card paling banyak. Sisi negatifnya adalah banyak STOP card yang dibuat2 ala kadarnya sekedar memenuhi target quantity.

– Pemberian hadiah buat personil yang membuat dan mengumpulkan STOP card paling bagus. Paling bagus itu biasa dari suara terbanyak atau karena “temuannya” dinilai menarik.

– Cuti/Libur/Break akan diberikan buat personil jika sudah mengumpulkan STOP card sesuai dengan quota yang diwajibkan…(biasanya lebih banyak lebih bagus)..

– Yang tidak membuat STOP card diberikan sangsi, misalnya menyanyi…Wah pokoke seru lah kalau sudah di Platform.

3. Dipaksa atau terpaksa atau mau ndak mau membuat STOP card menurut saya ada sisi positifnya. STOP card menjadikan dirinya sebagai tools yang baik untuk membangun tingkat awareness kita terhadap safety behavior. Sadar atau tidak sadar, naluri saya dilatih untuk melihat “ada apa ya disekeliling saya??. Awal2nya buat nyari bahan untuk ngisi STOP card. Siapa tau ada yang SAFE condition UNSAFE condition.

Lama kelamaan itu menjadi sebuah feeling atau insting atau naluri Hmmmmm kayaknya ada yang salah nih .seperti itulah kira2.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah setiap orang yang terlibat merasa bagian dari control safety. Ketika kita menemukan finding kita berkewajiban untuk melaporkanny terlepas dari anda adalah “Client/operator atau anda adalah kontraktor.

4. Dan Sebagainya

Bagaimana kalau Ibu Gita mencoba melakukan penelitian :

– Kenapa harus diberikan hadiah agar orang tertarik membuat STOP card?? Bukankah SAFETY itu sendiri sudah merupakan hadiah…(he..he..bakalan banyak yang protes nih..).

Tanggapan 7 – Riza si Ija

Sharing…

Betul sekali Pak Daniel, STOP card ini dipatenkan oleh DuPont Safety Resource, please see : www.dupont.com/stop (sumber : dari STOP card).

Just info, kalo tidak salah, harganya itu sebesar Rp. 1800,- / Card.

Tanggapan 8 – Bahtiar Yulianto

Gita,

Kebetulan saya kerja di DuPont – Crop Protection dan sudah saya konfirmasikan ke Tim DSS (DuPont Sustainable Solutions), untuk lebih jelasnya mengenai STOP dapat menghubungi Ibu Diana di alamat *

diana-liza.djalil@idn.dupont.com

*

Saya berharap Gita dapat memperoleh banyak informasi seperti yang diharapkan. Semoga sukses dengan penelitiannya.

Tanggapan 9 – A.E. Nugrahadipura

Dear Gita,

Saya ikut menambahkan dr apa yg sdh diutarakan oleh para sesepuh di milister ini, saya sebut Sistem Observasi Keselamatan:

> Kita berhak ‘menghentikan pekerjaan’ jika resiko tidak bisa diterima

> Sistem observasi membantu mengeliminasi unsafe act / unsafe conditions

> Dibuat untuk merubah unsafe behaviors melalui komunikasi dengan rekan kerja

> Dibuat untuk menemukan dan mengkoreksi kekurangan

> Sebagai Incidents Alert database

> Berbagi informasi bahaya dan pembelajaran

‘Setiap orang berhak menghentikan pekerjaan jika dianggap tidak aman’.

Tanggapan 10 – Dylan T

Ikut menambahkan …

STOP card sendiri merupakan produk Dupont (seperti yang sudah di infokan), merupakan kartu saku yang dapat di bawa saat melakukan observasi, terdiri dari 6 Observasi dari 2 Pengamatan(Tindakan Tidak Aman dan Tindakan Aman),
6 Observasi tersebut terdiri dari :

1. Reaction of People – Reaksi Pekerja

2. PPE – APD

3. Positions of People – Posisi Pekerja

4. Tools & Equipment – Peralatan

5. Procedure & Orderliness – Procedure

6. Orderliness Standards – Kerapihan

dari ke 6 point observasi tersebut masih terdapat sub2 point yang menjelaskan lebih detail mengenai hasil pengamatan tersebut, setelah itu diharapkan adanya diskusi antara pengamat dan pekerja agar adanya perbaikan senantiasa.

Tanggapan 11 – DRAJA

Gita,

Sy punya tuh bukunya dari unit 1 sampai 7.
Tujuan darii safety training observation program (STOP) sama seprti yg telah
diuraikan teman-teman di milis ini,kalau mau pijam hub saya japri.

Tanggapan 12 – Bambang Cahyono

Dear Gita,

Saya waktu S1 K3 UI lulus 2001 mengambil tugas akhir mengenai STOP Card.
Penelitian penerapan STOP Card di salah satu manufacture. Silakan dicari di perpustakaan FKM K3.

DIGITAL_JD jamiat_deba@yahoo.com

Bagiku…

STOP Card adalah Hadiah..

Semakin banyak kirim STOP Card, Semakin besar peluang dapet hadiah…

Tanggapan 13 – Muhammad Rizawahyu

Mbak Gita, hanya Sharing sedikit. Kebetulan saya sedikit sibuk juga dengan STOP Card, dimulai dari input finding s/d analisis STOP Card.

Biasanya tipe STOP Card yang dipakai di perusahaan itu, berbeda-beda.
Hanya komponen yang ada di dalam Kartu STOP, hampir semua sama. Diantaranya yaitu :

1. Adanya Tindakan yang diamati (unsafe act / Unsafe Condition)

2. Tindakan Perbaikan yang dilakukan.

3. Tindakan pencegahan agar tidak berulangnya tindak unsafe tsb.

Dari tiga komponen tsb, harus ada yang namanya Komunikasi.

Casenya seperti ini :

Jika ada observer melihat tindakan tidak aman, tetapi observer tidak mengkomunikasikan kepada orang (pekerja) yang melakukan unsafe tsb (missal menegur/mnghentikan orang itu), maka siklus STOP Crad tidak akan berjalan. Begitu juga komponen Tindakan Pencegahan, harus Ada.

Jadi, 3 komponen tsb harus ada di dalam siklus STOP Card. Output dari STOP Card itu adalah melihat behaviour dari pekerja yang diamati.

Tapi hal yang harus diperhatikan di dalam STOP Card yaitu, tidak melihat siapa yang melakukan unsafe Act (Person). Agar kejadian tsb tidak terulang kembali.
Misalnya kita memarahi orang tsb karena telah melakukan unsafe Act.

Intinya, Kita melihat unsafe act tsb dengan tidak melihat person, agar tujuan intinya tercapai, yaitu : improvement Safety Behaviour..

Nah, dari hasil STOP Card tsb kan nanti bisa dianalisis, yang kemudian dibuatkan HSE PROGRAM untuk preventive Actionnya.

Tanggapan 14 – patra putra

mungkin kalo di perusahaan manufacture jepang, disebut KYT (K: kiken (bahaya), Y: yochi (prediksi), and T: training (latihan).

Tanggapan 15 – Redonov Tampubolon

Menurut saya itu beda Pak. KYT tidak se spesifik STOP Card. KYT dilakukan sebelum pekerjaan dilaksanakan (hampir mirip JSA, bedanya JSA lebih ke urutan kerjanya sedangkan KYT mencari 1 yang paling bahaya dari proses kerja tersebut dan terfokus pada satu bahaya tersebut untuk pencegahannya) sementara STOP Card saat pekerjaan dilaksanakan untuk menilai perilaku pekerjanya.