Didalam perhitungan work hours dikaitkan dengan incident sebenarnya ada 2 hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah perhitungan safe man hours. Atau jumlah hari aman.
Dasar perhitungannya adalah sejak terakhir kali terjadi apa yang disebut dengan Lost Time Incident (LTI) atau kadang2 perusahaanmenggunakan DAFW (Day Away From Work). Aturan baku atau criteria incident yang dikategorikan oleh LTi atau DAFW adalah kecelakaan yang mengakibatkan pekerja tidak bisa kembali bekerja pada shift berikutnya. Jadi kalo hari ini bekerja kemudian terjadi kecelakaan sehingga karyawan tersebut tidak dapat bekerja pada esok harinya maka dikategorikan Lost Time atau DAFW. Dan kosekwensi dari ini adalah safe manhours (hari kerja tanpa kecelakaan – yg istilah sebenarnya adalah ‘tanpa kecelakaan yang mengakibatkan hari hilang) adalah direset menjadi 0 (zero).

Tanya – musthafa h. albanna

bapak2 yg terhormat, mw sharing dnk..

untuk penghitungan workhour, sudah mnjadi kebiasaan (atw mgkin stdr?) untuk mengalikan jumlah jam kerja dg jumlah seluruh pekerja. nah, jika terjadi kecelakaan kerja, apakah jumlah workhour itu harus d reset, kembali mnjdi nol (0), atw cukup dikurangi dg jumlah hari kerja hilang?
mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – Bagus Mulandono

Pak Mustafa,

Sebenarnya yang jadi parameter adalah safety concern dari perusahaan yang bersangkutan. Hal ini akan menjadi cerminan dari perusahaan tersebut dalam menjalankan kebijakan safety-nya. Sebenarnya jumlah workhour atw manhour tidak di-reset menjadi 0. Akan tetapi jumlah jam total kerja tanpa kecelakaan kerja (loss time injury) akan direset menjadi 0. Semakin tinggi jumlah jam total kerja tanpa kecelakaan kerja berarti tingkat safety concern pada perusahaan tersebut semakin baik. Reputasi perusahaan dalam hal safety akan terjaga. Mungkin bisa ditambahkan oleh rekan2 yang expert di bidang safety..

Tanggapan 2 – budiono.iwan

Mas Iban,

Kalo terjadi kecelakaan yg mengakibatkan LTI maka akan kembali dari awal.

Tanggapan 3 – musthafa h. albanna

saya sepenuhnya sepakat dengan pak bagus, penghitungan workhour atw mahhour kembali ke kebijakan dan komitmen perusahaan terkait safety, namun adakah standar yang jelas dan baku yang mengatur ketentuan pencatatan jumlah jam kerja, terutama ketika terjadi kecelakaan?

pak iwan, LTI yang dimaksud jika loss ny smp brp lama? jika hanya mengakibatkan loss 1-2 hari, apakh d reset juga? mohon sumber dan pencerahannya.

Tanggapan 4 – Chamiem

aturan bakunya saya rasa tidak ada tp menurut paraturan safety masing2 company, bakan di tingkat kabupaten/ disnaker juga tdk terdapat aturan yang jelas ketika pihak disnaker mengadakan awards terhadap beberapa perusahaan yang menjadi kandidatnya, namun dalam periode penilaian slah satu dari kandidat penilaian terjadi LTI maka dianggap gugur mengikutiawards tersebut.

Tanggapan 5 – Daniel Sombe

Rekan2 ysh,

Setahu saya tetap mengacu ke peraturan standard seperti: OHSAS atau ke ISO.
Perusahaan yang menjalankan standard tersebut disertifikasi melalui badan sertifikasi misalnya SGS.

Tanggapan 6 – budiono.iwan

Mas Iban,

Yang di kategorikan LTI adalah jika kecelakaan terjadi aakibat kerja dan ybs tidak bisa kembali bekerja sampai pada shift berikutnya maka jam kerja free LTI akan di reset.

Tanggapan 7 – Eddy Bachri

Rekan2 Yang terhormat,

Didalam perhitungan work hours dikaitkan dengan incident sebenarnya ada 2 hal yang diperhatikan. Pertama adalah perhitungan safe man hours. Atau jumlah hari aman.
Dasar perhitungannya adalah sejak terakhir kali terjadi apa yang disebut dengan Lost Time Incident (LTI) atau kadang2 perusahaanmenggunakan DAFW (Day Away From Work). Aturan baku atau criteria incident yang dikategorikan oleh LTi atau DAFW adalah kecelakaan yang mengakibatkan pekerja tidak bisa kembali bekerja pada shift berikutnya. Jadi kalo hari ini bekerja kemudian terjadi kecelakaan sehingga karyawan tersebut tidak dapat bekerja pada esok harinya maka dikategorikan Lost Time atau DAFW. Dan kosekwensi dari ini adalah safe manhours (hari kerja tanpa kecelakaan – yg istilah sebenarnya adalah ‘tanpa kecelakaan yang mengakibatkan hari hilang) adalah direset menjadi 0 (zero). Oleh sebab itu perusahaan kadang2 membela mati2an agar angka ini tidak jatuh karena juga terkait dengan salah satu indikator prestasi perusahaan dalam K3 serta adanya program penghargaan dari pemerintah. Kedua adalah perhitungan rate baik itu Incident Rate, Lost Time Incident Frequency Rate maupun Severity Rate. Untuk perhitungan rate ini digunakan angka tahunan artinya angka manhour dihitung mulai tanggal 1 January jam 00 setiap tahunnya. Jumlah angka ini digunakan nantinya untuk perhitungan rate baik LTI Frequency Rate maun Severity Rate ataupun Incident Rate. Angka penjumlah waktu kerja ini tidak akan zero meskipun terjadi kecelakaan yang mengkibatkan Lost time. Namun akan menjadi zero setelah mencapai tanggal 31 Desember jam 24:00.

Mudah2an dapat embantu.

Terimakasih,

Tanggapan 8 – musthafa h. albanna

emm,, mw tny lg dh

saya masih bingng nih. jika terjadi LTI dan harus direset menjadi 0, berarti safe man hour kembali menjadi 0? setau saya safe man hour dhitung dengan mengalikan jumlah pekerja dengan jumlah jam kerja. apakah tetap harus direset 0, padahal kasus kecelakaan menimpa 1 pekerja dan brakibat pada LTI.

mohon pencerahannya.

Tanggapan 9 – Eddy Bacahri

Lha, Khan safe man hours. Memang perhitungannya adalah perkalian jumlah pekerja dengan jam kerjanya namun dimulai dari terakhir kali LTI dan kemudian akan berakhir saat terjadi LTI. Jadi Kalo udah ada LTI maka angka tersebut di reset mulai nol kembali pencapaian safe man hournya.
Terimakasih,