The SIL requirements for hardware safety integrity are based on a probabilistic analysis of tehe device. To achieve a given SIL, the device must meet targets for the maximum probability of dangerous failure and a minimum Safe Failure Fraction. The concept of ‘dangerous failure’ must be rigorously defined for the sytems in question, normally in the form of requirement constraints whose integrity is verified throughout sytems development.

Tanya – dian ayu

Adapun saya mencari informasi mengenai SIL maksimum yang bisa dicapai oleh heat sensing cable saat ini (yang sudah available).
mohon informasinya dari rekan-rekan sekalian.

Tanggapan 1 – Sena

Ibu Dian,

Bisa diperjelas tujuan pertanyaan kenapa mencari SIL maksimum dari ‘heat sensing cable’.

Kami memahami maksud dan tujuan dari apa yang disebut dengan Safety Integrity Level [SIL], tapi belum bisa paham korelasi antara SIL maksimum dan ‘heat sensing cable’ serta kalau bisa tolong disampaikan aplikasinya untuk apa ya…

Tanggapan 2 – Wikan N

Mba Dian,

Coba aja cari heat sensing cable dari Kidde n tanya ke distributornya di sini, tp ga yakin jg apakah sudah SIL certified. Menyambung pertanyaan Pa Sena, apakah memang perlu SIL, atau memang ada inter koneksi dari FGS ke ESD / SIS untuk shutdown, shg perlu SIL?
Pengertian saya, sinyal heat cable ini bakal masuk ke FGS.CMIIW.

Tanggapan 3 – Purba Wendy

Pak Sena,

Kurasa yang dimaksud ibu Dian berhubungan dengan klasifikasi SIl yang bias dipenuhi oleh Heat Sensing Cable. Umumnya ini berkaitan dengan Availability atau reliability dari peralatan yang bersangkutan.

The SIL requirements for hardware safety integrity are based on a probabilistic analysis of the device. To achieve a given SIL, the device must meet targets for the maximum probability of dangerous failure and a minimum Safe Failure Fraction. The concept of ‘dangerous failure’ must be rigorously defined for the system in question, normally in the form of requirement constraints whose integrity is verified throughout system development. The actual targets required vary depending on the likelihood of a demand, the complexity of the device(s), and types of redundancy used.

Ada pun Heat Sensing Cable adalah semacam sensor panas yang umum digunakan di instalasi pendeteksi kebakaran.

Tanggapan 4 – Crootth Crootth

Dear Dian,

Selama beberapa kali memimpin dan melakukan SIL Study, baik itu SIL Classification maupun SILVerification, saya belum pernah menemukan Heat Sensing Cable yang dianggap sebagai satu bagian dari SIF (safety instrumented function). Terlepas dari beberapa merk Heat Sensing Cable yang telah mendapatkan approval dari FM (factory mutual), namun penggunaannya tidaklah sebanyak fire detection lainnya (UV/IR Fire Detection System misalnya).

Saya kurang tahu apakah FM juga memberikan rating SIL pada (fungsi terinstrumentasi yang melibatkan) Heat Sensing Cable yang dimaksud oleh saudara Dian, namun perlu saya jelaskan bahwa untuk membuktikan bahwa Heat Sensing Cable (dalam jalinan fungsinya) yang dimaksud benar benar memiliki fungsi ‘Process Safety’ harus dilihat dulu scenario nya apa dulu.

Dalam menentukan SIF, sejatinya – dan jalan yang benar menurut IEC-61511 – adalah dengan mempelajari laporan misalnya Hazard Identification (HAZID) atau HAZOP atau PHA nya terlebih dahulu. Dari laporan HAZID/PHA/HAZOP ini dapat diketahui skenario apa gerangan yang menyebabkan Heat Sensing Cable ini memiliki ‘function’. jika fungsinya hanya untuk keperluan ‘Process’ bukan ‘Process Safety’ maka lupakanlah Heat Sensing Cable ini.

Syarat syarat umum sebuah SIF, selain tentu saja memiliki ‘function’ untuk membawa sistem ke keadaan ‘safe’, dia juga harus bisa di test (secara berkala). SIF bukanlah SIF jika ia tidak dapat ditest secara langsung. Dalam hal pengetesan inilah kemungkinan Heat Sensing Cable tidak (atau belum?) dapat menunjukkannya, kendatipun ia mampu untuk menerima ‘functional test’ namun ia tidak dapat (atau setidakanya belum) menjalankan fungsi ‘actual test’. Karena Heat Sensing Cable, terutama jenis digital, sekali dia mengeluarkan function (alarm) secara actual (ada kebakaran beneran) maka ia harus diganti dengan yang baru. Dengan klausul ini setidaknya bisa memberikan penjelasan awal mengapa Heat Sensing Cable mungkin belum dapat dianggap sebagai satu bagian dari SIF –> karenanya mungkin tidak (atau belum) memiliki SIL rating.

Saya kurang tahu jika teknologi paling mutakhir dari Heat Sensing Cable ini mampu mengikuti actual testing, jika iya, dan ia dapat dijamin bisa digunakan kembali (dengan kemampuan yang sama seperti sebelumnya) saya bisa katakan ia mungkin bisa digunakan sebagai salah satu bagian dari sebuah SIF.

Selain karena alasan pengetesan, jalinan cable pada Heat Sensing Cable ini biasanya panjang sehingga rentan terhadapa kerusakan, disamping response time nya cukup panjang (bisa sampai 20 detik), bandingkan dengan F&G detector lain yang umumnya dalam hitungan beberapa detik saja.

Masalah lain dari jalinan fungsi Heat Sensing Cable ini adalah geographical coverage. Sebagaimana umumnya F&G detection function lain, geographical coverage ini adalah ‘masalah besar’ yang harus diatasi jika ingin dianggap sebagai sebuah SIF yang memiliki SIL setidaknya 1. Kebanyakan F&G detection function yang ada di lapangan sekarang saya yakini tidak memiliki SIL rating yang memadai atau bahkan non-SIL!

Semoga membantu menjelaskan.

Tanggapan 5 – Munawir

Mas,

Minta tolong sharing pengalaman mengapa ‘Kebanyakan F&G detection function yang ada di lapangan sekarang saya yakini tidak memiliki SIL rating yang memadai atau bahkan non-SIL!’?

Tanggapan 6 – Crootth Crootth

Mas Munawir

Silahkan baca tulisan Mas Mefredi, dedengkot SIS-SIL di Indonesia yang ada di Jurnal KMI 2008 kalau ga salah.
Silahkan juga baca tulisan Paul Gruhn, ‘Are we barking up the wrong tree?’

Semoga kita bisa berdiskusi lebih banyak setelahnya.

Tanggapan 7 – A Munawir

Cak DAM,

Trima kasih petujuknya, sudah dipahami setelah membaca ulasan om Gruhn mengapa FGS ‘tdk perlu’ SIL selection. Jika sampyan punya referensi/article Tree Analysis dari FG detection coverage dan Mitigation Effectiveness yang terkait jika tidak berkeberatan monggo dishare.

Sesungguhnya saya ingin mendiskusikan Gap Analysis antara Process Safety dengan Asset Integrity (Reliability, Availability) yg diphase project dimulai RAM lalu RCM+RBI diphase operation, lebih jauh kemudian adalah production. Produk akhirnya adalah Risk Register dengan urutan priority yg mengacu pada Risk Matrik (Personnel injury, Loss of asset, Production Shutdown, Env. Impact).

Terima kasih.

Tanggapan 8 – yudi putera

Wah menarik tuh mas, di kantor saya juga baru di mulai kaitan asset integrity dengan process safety.

Tanggapan 9 – Alvin Alfiyansyah

Mas Munawir,

Saya sedang merencanakan hal yg sama di internal perusahaan kami. Langkah pertama yg saya lakukan adalah mengajak tim terkait di berbagai department utk melihat business process document serta internal standard dan procedure perusahaan akan masing-masing inisiatif misalnya dari inisiatif risk management, safe operations, process safety management, AIM dan Facility Eng & Constructionnya.

Jika dari dokumen internal dan business process (Std + Procedure) sudah dapat diidentifikasi siapa (dept mana) melakukan apa dan menyelesaikan hal apa serta siapa saja support siapa, maka hal ini akan lebih memudahkan karena kita tahu overlapnya setelah itu gaps bisa dianalisa jika memang ada hal-hal yg belum diketahui ownershipnya. Selain risk register sbg produk akhir selain itu akan lebih memudahkan dan memperingan tugas para fungsional operasional dan maintenance karena sudah adanya sinergi antar task yg harus diselesaikan dan dapat menghasilkan produk yg diperlukan akan masing-masing inisiatif perusahaan tersebut.

Nah mungkin Mas Munawir bisa identifikasi dari dok internal business process serta std dan procedure internal dahulu if u have it or need to be determine… 🙂 please have a comment, CMIIW. Thank you.

Sekedar meramaikan diskusi yg melebar ini.

Tanggapan 10 – A Munawir

Bang Alvin,

Sip, anda beruntung berada di dalam team yang sudah established, dengan membuat kesepakatan utk Role & Responsibility utk tiap-tiap dept./discipline maka semuanya akan bisa berjalan. Asset Integrity dan Process Safety punya metode pemodelan yang typical,

Ada likehood yg didekati dengan PFD begitu pula Severity-nya yang bisa dihitung dengan Consequency analysis, baik utk asset integrity maupun process safety, cons. analysis tidaklah terlalu zulit. Kemudian Likehood/frequent analysis untuk asset integrity dapat menggunakan input data dari Manufacture data ataupun Maintenance LogBook, sedangkan freq. analysis utk process safety yg akan memakan waktu lama karena harus membuat model2 tree analysis dengan source data jika terpaksa menggunakan milik OREDA, WOAD, ataupun dBase lainnya karena kumpeni belum punya 🙁

Disadari ini adalah Huge Work untuk dieksekusi, tetapi saya bersyukur karena sudah ada yang memulai, artinya ini feasible utk dilanjutkan.

Many thanks,

Tanggapan 11 – hadiwinoto_soedar

Kalau semua lengkap, how to manage dan implemetasi semua disebut kawan2 sebelumnya secara profersionil, tegas dan discipline. Penyakit pekerjaan bersifat rutin, kadang2 kita menggampangkan dan cenderung lalai. …. Semoga cepat padam asset negara tsb.

Tanggapan 12 – Peni Hadiati

Wah ini perbincangan yang menarik sekali di bidang instrument & control untuk safety
Perlu analisis betul-betul di sini.
Selain danalisis berdasarkan real record kejadian, komponen suku cadang, atau mungkin designnya sekalian atau menggunakan oreda, exida, dsb Perlu juga suapaya terjadi revolusi mindset besar-besaran di kalangan operation & maintenance supaya tidak ada cerita kejadian buruk lagiKalau komponen peralatan & operation sudah tidak ada kelmahan lagi saya optimis yakin tidak ada kejadian seperti ini lagi.