Sertifikasi standard sistem manajemen seperti ISO 9001, ISO 14001 tidak dilakukan oleh KAN, tetapi dilakukan oleh badan Sertifikasi seperti SGS, Lloyd, TUV, BVQ, Moody, DNV, AJA, dll. Langsung saja hubungi salah satu dari perusahaan tersebut di negara/kota anda.

Tanya – Reddy Anugrahadi

Selamat pagi,

Mohon info dari rekan2 sekalian, berapa biaya untuk sertifikasi ISO 9001 dan 14001, apakah ada standar tarif/biayanya? Dan di indonesia siapa yang bias mengeluarkan sertifikat tsb?

Mohon japri saja. Terimakasih.

Tanggapan 1 – neo neo

Siang pak…sepengetahuan saya, coba saja langsung ke KAN (Komite Akreditasi Nasional), bisa bapak cek via internet dan disana pun sudah ada beberapa pesyaratan dan biaya – biayanya….semoga membantu.

Tanggapan 2 – Dirman Artib

Sertifikasi standard sistem manajemen seperti ISO 9001, ISO 14001 tidak dilakukan oleh KAN, tetapi dilakukan oleh badan Sertifikasi seperti SGS, Lloyd, TUV, BVQ, Moody, DNV, AJA, dll.

Langsung aja hubungi salah satu dari perusahaan tersebut di negara/kota anda. Nggak mahal kok, dan harga hampir sama.

Tanggapan 3 – coal.bara

Kalo KAN hanya berkecimpung dalam akreditasi standart biasanya pada parameter-parameter uji contoh pengujian Pb pada air dll sesuai standart nasional indonesia.

Di group kami saat ini sudah menggunakan SGS dan DQS untuk setiaap project..

Yang terpenting sebelum menjalankan system ini adalah komitmen penuh dari TOP management untuk support dalam penjalanan system ini. Karena ini merupakan cost yang lumayan besar apalagi yang mau di sartifikasi 3 system sekaligus ISO 9001, ISO 14001 dan OHSAS 18001.

Tanggapan 4 – Denny Arifianto

Bapak bisa menghubungi perusahaan Certification biasanya SGS Indonesia, TUV, BNVQI, SAI Global atau lainnya.

Kalo Indonesia ya Sucofindo.. itu juga komposisi sahamnya sebagian punya pemerintah RI sebagian punya SGS (Swiss)..

Nanti dibicarakan dengan mereka bagaimana flownya dana apa saja persyaratan yang harus dipenuhi.. hingga dapet sertifikasi..

yang pasti mereka punya tim Assessor sesuai bidangnya masing-2.. dan untuk perusahaan yang akan dinilai punya Management Representative dept khusus untuk pengawasan Manajemen Mutu..

Untuk datang ke KAN saya rasa kurang tepat karena KAN lebih bertugas untuk melakukan Akreditasi terhadap para lembaga sertifikasi..

Tanggapan 5 – Endri Prasetyo

Pak Reddy,

Sekedar sharing dan mengingatkan. Pada tahap awal (sebelum fase sertifikasi) perusahaan Bapak mestinya sudah implementasi dalam durasi waktu tertentu sehingga siap untuk dilakukan sertifikasi. Kalau pengalaman saya selama 3 bulan, sudah dilakukan internal audit, management review dll.
Nah umumnya fase persiapan ini menjadi porsinya konsultan. Konsultan akan membantu untuk menyiapkan prosedur2 yg diperlukan sesuai klausul ISO, sesuai dengan bisnis perusahaan (dari hasil mapping), bagaimana melakukan internal audit dll. Nah nantinya konsultan juga akan memberikan masukan mengenai lembaga lembaga sertifikasi. Contoh LRQA, BVQA, TUV, SGS dll.

Bisa saja persiapan dan implementasi ini dilakukan tanpa konsultan, tentunya harus ada ‘Leader’ yang kompeten. Selain itu perusahaan juga harus menunjuk karyawan sebagai wakil manajemen (management representative). Siapa yang dapat ditunjuk dan apa tugasnya sudah diatur dalam klausul ISO.
Mudah2an fase ini sudah Bapak lakukan.

Pemilihan lembaga sertifikasi terkadang ‘diinspirasi’ berdasar sektor bisnis Bapak, keinginan customer dan mungkin pertimbangan yg lain.

Demikian semoga bermanfaat.

Tanggapan 6 – Denny Arifianto

Sedikit menambahkan sepertinya di milis ini juga ada pak Dirman Atib yang juga pengurus di Indonesia Quality Management System (ID-QMS) dan ada banyak pengalaman dibidang sertifikasi manajemen mutu seperti ini ulasan dari beliau juga sudah ada sebelumnya..

Mungkin secara japri sang penanya bisa konsultasi langsung ke email beliau.

Tanggapan 7 – Faqih Bachtiar

Betul sekali apa yg disampaikan oleh Pak Endri,

Di tempat saya bekerja bahkan sudah dibentuk susunan organisasi ‘persiapan sertifikasi’ dan susunan organisasi ‘saat sertifikasi’.

Tanggapan 8 – Dirman Artib

Mutu sertifikat tergantung Auditornya, jadi review dulu CV auditor yang bakal dikirim. Kalau Perusahaan anda bisnisnya EPC untuk Sub-sea Pipeline, jangan mau diberi auditor yang jam terbangnya mengaudit perusahaan pembuat ‘Lingerie’ atau perakit alat-alat electronic. Kalau misalnya si auditor juga certified in Pipeline Risk Assessment dan familiar dgn standard sub-seas DNV, barulah itu paten.

Jangan mau buang-buang duit untuk hanya untuk selembar Sertifikat yang dipampang di ruang resepsionis, karena manfaat sertifikasi adalah untuk meletakakan dasar-dasar sistem management untuk seterusnya berkembang, tumbuh, lebih besar, lebih tinggi, lebih baik , dan lebih kompetitive pada kelasnya. Jika tidak berguna seperti yang saya sebutkan, buang aja sertifikat tsb. ke Bantar Gebang, atau lebih baik hibahkan duit buat bayar auditor ke yayasan yatim piatu. Banyak perusahaan yang certified ISO 9001, tapi tender kalah melulu…..haiyo….wagaimana ini sistem begini macam …ha…