TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) satu paket dengan tata kelola pengadaan barang dan jasa di kegiatan usaha hulu Migas. Adanya kebijakan preferensi terhadap TKDN sebetulnya merupakan salah satu bentuk proteksi industri dalam negeri. TKDN pengadaan barang dan jasa di sektor hulu Migas menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Beberapa media memberitakan di tahun 2010 TKDN pengadaan barang dan jasa di kegiatan usaha hulu Migas secara agregat telah mencapai 64%, melampaui target blue print TKDN sebesar 55% untuk tahun 2010. Namun, apakah hanya dengan paramater TKDN – dimana hal ini merupakan implementasi kebijakan di sisi hilir tata kelola perindustrian – sudah bisa dijadikan indikator “kemandirian” dan “sustainability” industri penunjang Migas kita? Sebetulnya keberhasilan berindustri tidak cukup dilihat dari level TKDN-nya saja, tetapi juga harus dilihat dari resources-nya, yaitu siapa atau milik siapa resources yang menggerakkan industri dalam negeri tersebut. Jadi, lebih dari sekedar TKDN (Local Content) adalah Indonesia Content.

Pengiriman- Gamil Abdullah

Mas Budhi, terlampir artikel ttg Quo Vadis Pengembangan Industri Penunjang Migas. Kalau bisa di-share utk teman2 KMI, silakan saja diposting.
Have a nice wknd.

http://www.gamil-opinion.blogspot.com

Tanggapan 1 – Admin Migas

Milis Migas Indonesia sungguh beruntung mempunyai penulis yang produktif seperti Mas Gamil Abdullah. Tulisannya banyak dimuat di majalah-majalah migas dan pertambangan, dan Milis Migas Indonesia yang pertama kali mendapatkan bocorannya sebelum dimuat di majalah migas dan pertambangan tersebut. Kali ini topik tulisannya mengenai ‘Kemana Arah Pengembangan Industri Penunjang Migas ?’ yang dapat anda unduh dari URL :

http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=379&Itemid=42 bersama tulisan beliau yang lainnya.

Saya cuplikan sedikit dari tulisan di atas :

TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) satu paket dengan tata kelola pengadaan barang dan jasa di kegiatan usaha hulu Migas. Adanya kebijakan preferensi terhadap TKDN sebetulnya merupakan salah satu bentuk proteksi industri dalam negeri. TKDN pengadaan barang dan jasa di sektor hulu Migas menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Beberapa media memberitakan di tahun 2010 TKDN pengadaan barang dan jasa di kegiatan usaha hulu Migas secara agregat telah mencapai 64%, melampaui target blue print TKDN sebesar 55% untuk tahun 2010. Namun, apakah hanya dengan paramater TKDN – dimana hal ini merupakan implementasi kebijakan di sisi hilir tata kelola perindustrian – sudah bisa dijadikan indikator “kemandirian” dan “sustainability” industri penunjang Migas kita?.

Sebetulnya keberhasilan berindustri tidak cukup dilihat dari level TKDN-nya saja, tetapi juga harus dilihat dari resources-nya, yaitu siapa atau milik siapa resources yang menggerakkan industri dalam negeri tersebut. Jadi, lebih dari sekedar TKDN (Local Content) adalah Indonesia Content. Jika dalam sebuah industri porsi Indonesia Contentnya makin lama makin bertambah, maka itu berarti kebehasilan dalam berindustri. Sebaliknya, bila Indonesia Content-nya makin lama malah makin berkurang – apalagi sampai ada industri yang dijual ke pihak asing, maka ini merupakan set back – sebuah kemunduran, berapapun TKDN-nya.

Kemudian timbul beberapa pertanyaan yang bisa didiskusikan di Milis Migas Indonesia.

TKDN menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Apakah ini dapat dijadikan indikator “kemandirian” dan “sustainability” industri penunjang Migas?

Apakah angka TKDN yang dicapai sudah merupakan “nilai nyata” dan terasa efeknya bagi pengembangan industri kita?

Apakah berbagai kebijakan protektif yang ada hanya diarahkan untuk peningkatan TKDN semata?

Apakah kita sudah cukup puas dengan sekedar dijadikannya Indonesia sebagai basis pembuatan produk “Made in Indonesia”?

Apakah kita tidak ingin mengarah ke strategi jangka panjang agar Indonesia mampu membuat produk “Made by Indonesia”?

Mau kemana sebenarnya arah pembinaan dan pengembangan industri penunjang Migas?

Tanggapan 2 – Peni Hadiati

Mengenai komponen dalam negeri.

saya sebagai orang yang pernah berpengalaman mengurusi spare part, suku cadang & komponen-komponen dalam industri migas sejujurnya bertanya-tanya juga.
Industri migas memang membutuhkan komponen barang peralatan yang bena-benar baik, punya kelemahan sedikit saja bisa menjadi bad impact untuk urusan safety dan reliability
Tapi mengapa ya vendor-vendor yang ada di sini hampir semuanya membawa produk impor

Sebagai contoh seperti compressor, pump, instrument, dsb masih banyak lagi selalu memakai produk asing 100% asli merk ternama.
Rasanya hampir tidak ada komponen yang buatan lokal atau minimal assembling di Indonesia begitu lah.

Jadi saya berkesimpulan industri dalam negeri kita masih jauh dari mampu untuk melakukan itu.

Tanggapan 3 – Devy Endry

Ibu Peni,

Kalau industri dalam negeri tak pernah diberi kesempatan melalui suatu regulasi pemerintah, saya yakin industri dalam negeri tak akan pernah mampu bersaing dengan produk import.

Kalau mengenai vendor yang menawarkan barang ke perusahaan migas saya percaya mereka hanya bisnis, mereka mengikuti spesifikasi
yang ditulis didokumen permintaan.

Menurut saya pemerintah harus membuat regulasi untuk melindungi produksi dalam negeri.

Saya pernah baca sejarah berdirinya Boeing, dibuku itu digambarkan bagaimana Angkatan Bersenjata Amerika pada waktu itu tetap membeli produk Boeing walaupun masih ada kekurangan. Dengan order tersebut Boeing tetap hidup dan bahkan berkembang sampai sekarang.

Kita lihat bagaimana PTDI terseok2 menjual produknya. Industri seperti ini harus di support pemerintah. TNI yang pernah menolak panser Pindad, dan lebih memilih buatan Perancis. ( Saya tak tau bagaimana perkembangannya sekarang ).

Pabrik pesawat Embraer Brazil lebih muda dari PTDI, tapi karna disupport telah menghasilkan produk yang mampu bersaing di International.

Kesimpulannya, untuk meningkatkan kompetensi produk dalam negeri, pemerintah dan semua pihak ( termasuk para pekerja didunia Migas ) harus mendukung produk dalam negeri, dengan memakai produk tersebut. Tidak ada produk yang tiba2 kualitasnya baik kalau tak pernah diberi kesempatan bersaing.

Jika anggota milis ini punya power dan kesempatan menulis spesifikasi di dokumen tender ? Beranikah anda memasukkan produk dalam negeri dengan taruhan karir anda ?

Perlu keberanian, untuk memajukan produk dalam negeri.