Masalah pengelasan duplex memang rentan terhadap defeck. Sewaktu terjadi pencairan metal dan filler pada saat pengelasan maka O2 harus dihindari (diharamkan) kontak dengan cairan tersebut.

Tanya – Suharyo Haryono

Saya yakin banyak yang berkecimpung dengan material eksotis seperti duplex 31803. Adakah yang bisa berbagi pengalaman jika didapati kasus sebagai berikut:
Sambungan ke branch utama 3/4′ x 6′ dengan sockolet. Dari sockolet, disambung dengan pipe nipple dan seterusnya.
Dalam kasus ini, terjadi leaking saat operasi (sudah beroperasi sekitar 1,5 tahun) dari dari las-lasan antara sockolet dengan nipple.

Service fluid properties:

Carbon dioxide Mol % Nitrogen Mol % Methane Mol % Ethane Mol % Propane
Mol % i-Butane Mol % n-Butane Mol % i-Pentane Mol % n-Pentane Mol % C6’s Mol % C7+ Mol %

9.4225 0.8212 71.9588 8.8581 6.0030 1.0671 1.0754 0.2419 0.2100 0.207 0.1350

Dari hasil Penetrant test, yang muncul seperti crack kecil.

Dalam kasus duplex welding, apakah ini biasa ditemui? Apa penyebabnya dan bagaimana ‘pengobatan’ dan pencegahan ke depannya.

Mohon sharing dari rekan-rekan yang pernah mengalami atau punya kompetensi dalam hal ini.

Tanggapan 1 – naila mubarok

Masalah pengelasan duplex memang rentan thd defeck mungkin teman sudah banyak memberikan masukan, saya hanya menambahkan saja :

sewaktu terjadi pencairan metal dan filler pada saat pengelasan maka O2 harus dihindari (diharamkan) kontak dg cairan tersebut. Sudah banyak cara yg di lakukan seperti dalam WPS. yg umum utk pengelasan jenis tsb yaitu :

1. menggunakan argon 99.9999 bukan 99,9 ini betul2 dicek

2. Semua posisi harus dipastikan sudah terlindung oleh argon 99,9999 sebelum pengelasan dimulai sehingga 02 betul2 bebas

3. yg sangat sulit pengelasan root harus benar2 dikontrol (shg ada defeck di root dipotong saja)

4 Gunakanlah O2 analiser

5 usahakan dikontrol sampai 3 layer

6 biayanya relatif sangat mahal, biasanya fluidanya mengandung H2S

7 Kalau bisa dicari material yg tahan korosi lainya.

Tanggapan 2 – qaqcptmeco

Crack yang terjadi pada hasil lasan Duplex SS bisa saja terjadi dikarenakan sebelumnya timbul adanya welding defect. Welding defect pada Duplex SS berbagai macam yang bisa kita temui. Pengalaman yang selama ini saya amati pada Welding Duplex SS defect yang sering timbul adalah INTERNAL CONCAVATY (ROOT CONCAVITY). Visualisasi defect ini selain cekung dia mempunyai kecenderungan yang tidak rata (unsmooth surface). Selain itu INCOMPLETE FUSION sering juga kita temui pada WELD DUPLEX SS. Biasanya ini terjadi pada second layer setelah root pass. Kalau kedua defect ini muncul pada hasil pengelasan Bapak secara otomatis CRACK bisa muncul. Laju Defect ini akan cepat menjalar bila FLOW SERVICE mempunyai kandungan H2S yang cukup tinggi + FERRITE CONTENT hasil pengelasan yang rendah (dibawah 30-50 %).

Kesimpulannya dengan adanya 2 parameter diatas material tersebut akan Rentan sekali terjadi STRESS CORROSION CRACKING.

Pelaksanaan repair yang dilakukan sudah benar dengan melakukan pemeriksaan NDE BY PENENTRANT TEST. Defect yang terjadi pada bagian ROOT PASS harus dibuang. INGAT pada saat membuang CRACK tersebut harus hati-hati hal ini sering crack tersebut berpindah tempat (crack lari). Seyogyanya jika menemui hal semacam ini harus dilakukan PEMOTONGAN untuk repairnya. Proses pengelasan repair DUPLEX SS yang perlu dicermati adalah :

1. Kandungan GAS ARGON baik yang digunakan sebagai SHIELDING maupun BACKING HARUS mempunyai kandungan HIGH PUIRITY (99.999%).

2. Yakinkan sebelum kita melakukan pengelasan DUPLEX optimalkan bahwa OXIGEN CONTENT yang terdapat pada pipa tersebut dibawah 50 ppm. Check dengan OXYGEN ANALYZER. Tujuannya untuk mendapat hasil FERRITE CONTENT sesuai dengan standard Duplex untuk weld disekitaran 30-50%. Jangan terlalu rendah dan juga terlalu tinggi.

3. Control HEAT INPUT dari parameter pengelasan supaya bisa mendapatkan hasil pengelasan sesuai yang diinginkan.

4. INTERPASS TEMP. perlu dijaga usahakan INTERPASS TEMP. dibawah 100°C.

5. Setelah WELD DUPLEX lakukan pemeriksaan NDE. dan kemudian lanjutkan proses FLUSHING kalau perlu dengan INHIBITOR.
Demikian pencerahan ini bisa membantu.